Pemotor di Kota Tasik Mulai Harus Jaga Jarak

210
0
DITANDAI. Petugas Dishub dan Polres Tasikmalaya Kota menandai starting grip di simpang rancabango Senin (20/7). 

BUNGURSARI – Ruang henti khusus (RHK) motor di Simpang Jalan Rancabango dicat seperti starting grid di sirkuit balap motor. Berbentuk setengah persegi empat untuk membatasi pengendara agar tidak terlalu berdekatan.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Tasik­m­alaya, H Aay Zaini Dahlan menjelaskan penge­catan tersebut sebagai pembiasaan physical distancing bagi pengendara roda dua di masa pandemi Covid-19 ini.

Baca juga : Satu Warga Cipatujah Tasik Diduga Positif Corona Meninggal Dunia

“Kami barusan mengecat ulang dengan pilox bersama kepolisian, sebab bukan cat khusus untuk marka jalan maka baru beberapa hari saja sudah luntur,” ujarnya saat dihubungi Radar, Senin (20/7).

Menurutnya, di masa adaptasi kebiasaan baru (AKB) tersebut, seluruh masyarakat harus menerapkan protokol kesehatan. Salah satunya, pengendara motor saat berada di jalan raya.

“Soal penindakannya nanti, itu ranah kepolisian ketika di lalu lintas jalan. Kami hanya menyediakan fasilitasnya saja,” kata dia.

Loading...

Aay menjelaskan saat ini pihaknya masih menunggu arahan dan petunjuk teknis dari Kementerian Perhubungan. Berkaitan simpang mana saja yang akan diterapkan starting grid tersebut.

Termasuk cat marka khusus untuk menandai starting grid masih dalam tahap lelang.

“Kalau RHK sudah ada sejak dua tahun ke belakang. Kalau starting grip memang baru-baru ini. Kami masih tunggu tahap lelang cat sambil menanti juknis supaya tidak mudah luntur karena hujan atau digilas kendaraan,” ucap Aay.

Salah seorang pengendara motor, Wawan Nugraha (44), mengaku pembatasan motor sejatinya tidak harus menggunakan hal seperti itu. Sebab, pengguna kendaraan roda dua tentunya sudah mengenakan helm.

“Pemerintah berupaya ya memang harus, tapi kan sudah pakai helm sebetulnya, ibarat orang pakai face shield lah,” ucapnya.

Baca juga : Kasus Hamil Mendadak Lalu Lahiran di Puspahiang Tasik, Ini Kata Medis..

Pengendara lainnya, Iis Nurlistiani (36), mengatakan pembatasan jarak kendaraan boleh saja. Supaya ketika ada warga yang tidak mengenakan masker, kemudian berpotensi membawa virus. Tidak berisiko paparan terhadap pengendara lain di sampingnya.

“Ya bagus dibatasi, kan ada saja orang yang tidak khawatir adanya Covid-19 dan merasa baik-baik saja, kita yang takut dan antisipasi malah parno kalau berdekatan,” kata Iis. (igi)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.