Pemulung Warga Sodong Garut yang Viral, Gemar Baca Al-Quran, Ingin Punya Pesantren

160
0
TERIMA TELEPON. Muhammad Gifari Akbar, pemulung yang viral karena membaca Al-Quran menerima telepon dari anggota DPR RI kemarin.

Muhammad Gifari Akbar (16) menjadi perbincangan di media sosial setelah fotonya saat membaca Al-Quran di Jalan Braga, Kota Bandung viral di media sosial.

Kini remaja yang sehari-hari bekerja sebagai pemulung itu ditawari untuk menimba ilmu di pesantren.

Yana Taryana, Garut Kota

SORE itu, banyak orang berdatangan ke rumah Muhammad Gifari Akbar di Kampung Sodong Kelurahan Muarasanding Kecamatan Garut Kota. Beberapa di antaranya memberikan bantuan.

Bantuan diberikan setelah foto remaja putus sekolah yang berprofesi sebagai pemulung itu viral di media sosial.

Meski banyak yang datang, tetapi Akbar -sapaan akrabnya- masih bisa menyempatkan diri untuk berbincang dengan wartawan. Sambil duduk di dekat orang kedua orang tuanya, Akbar mengaku tidak menyangka fotonya akan menjadi viral.

Ia sendiri tak mengetahui orang yang mengambil fotonya. Ia baru diberi tahu fotonya viral oleh polisi. “Kemarin lagi di Jalan Braga, Bandung, Sabtu. Saya tidak tahu ada yang foto, tahunya dari polisi, ada foto saya di medsos,” katanya, Kamis (5/11).

Ketika itu, Akbar memang sedang beristirahat setelah mencari barang rongsokan di Bandung. Lantaran cuaca hujan, ia mencari tempat teduh di pelataran pertokoan sambil membaca Al-Quran. Memang niatnya ingin menghafal Al-Quran.

Baca juga : Ribuan Warga Garut Ajak Boikot Produk Prancis

Hidup lelaki yang berasal dari keluarga sedehana itu memang berada di jalan. Untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-harinya, ia bekerja sebagai pemulung dengan mencari rongsokan.

Namun, bukan berarti Akbar lantas terjerumus dengan kehidupan jalanan yang lekat dengan pergaulan bebas. Ia tetap menjaga pesan orang tuanya untuk selalu ingat salat lima waktu dan mengaji.

Karena itu, setiap pergi keluar rumah, Al-Quran tak pernah lupa dibawanya. Ketika ada waktu luang, hampir pasti Akbar membacanya.

“Yang ngajarin bawa Quran terus itu bapak. Dari kecil dikasih pesan kalau mau ke mana-mana jangan lupa salat, ibadah lima waktu, sama ngaji, dan zikir,” kata anak dari pasangan Unan (42) dan Siti.

Di Garut, Akbar tinggal bersama kakek dan neneknya, Iji (72) dan Uti (71). Namun, ia jarang berada di rumah. Sejak putus sekolah, terakhir mengenyam pendidikan kelas 4 SD, ia selalu berpergian tak menentu. Akbar hanya berada di rumah satu-dua hari, setelah itu pergi lagi.

Akbar mengaku tak betah berada di rumah. Sebab, di rumah ia hanya berdiam diri tak ada pekerjaan. Karenanya, ia mencoba mencari kehidupan di luar rumah. “Ya sampai sekarang seperti ini. Pernah ngamen juga, sekarang kumpulin rongsokan,” kata dia.

Bermodal mengumpulkan rongsokan, Akbar pernah berkeliling ke berbagai daerah. Biasanya, ia mencari rongsokan di Bandung dengan berjalan kaki dari rumahnya di Kabupaten Garut. Namun, pernah juga ia berkelana sampai Jakarta, Yogyakarta, bahkan Lampung.

Dari mengumpulkan rongsokan, dalam sehari Akbar bisa mendapat uang hingga Rp 100 ribu ketika sedang ramai. Uang itu digunakannya untuk makan sehari-hari. Ketika sama sekali tak ada uang, ia membaca Al-Quran. Sebab, menurut dia, dengan membaca Al-Quran rasa lapar akan hilang.

Ia mengaku tak memiliki tujuan pasti dari kegiatan yang sehari-hari dilakoninya itu. Hanya satu yang pasti, ke mana pun pergi, ia akan selalu mengingat pesan orang tuanya untuk salat dan mengaji. “Baca Quran memang sudah dari kecil, jadi saya selalu niat baca Quran di jalan,” terangnya.

Setelah fotonya viral, Akbar mengaku banyak orang yang mencari dirinya. Bahkan, ia sempat didatangi orang dari Jakarta yang mengaku perwakilan dari ustaz Yusuf Mansur. Selain itu, banyak juga sejumlah orang yang mendatangi dirinya. Orang-orang itu menawarkan Akbar untuk masuk ke pesantren.

Akbar juga ingin masuk masuk ke pesantren. Sebab, ia memiliki mimpi untuk membangun pesantren pada masa tua mendatang. Namun, ia inginnya mondok di pesantren yang tak jauh-jauh dari rumahnya di Garut.

“Kalau bisa sih di Garut, kalau nggak di Bandung. Gak mau yang jauh-jauh,” kata dia.

Keluarganya pun sudah mendukung. Apalagi, sudah sejak lama remaja itu putus sekolah.

“Niatnya mau pesantren, soalnya niat nanti kalau sudah tua masa depannya mau bangun pesantren. Mudah-mudahan tercapai,” paparnya. (*)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.