Penari Usia Dini di Kota Tasik, Tetap Semangat Lestarikan Budaya Sunda Saat Pandemi

144
0
radartasikmalaya
Penari Sanggar Tari Dewa Motekar Kota Tasik ketika mengikuti ujian akhir, Sabtu (14/11) lalu. rezza rizaldi / radartasikmalaya.com

KOTA TASIK – Meski masih menghadapi masa pandemi Covid-19, kegiatan masyarakat di Kota Tasikmalaya mulai kembali bergeliat.

Tentu dengan tetap pengetatan protokol kesehatan untuk tetap diterapkan.

Hal itu seperti yang dilakukan ratusan penari dari Sanggar Tari Dewa Motekar, Sabtu (14/11) lalu di Rumah Makan Mang Asep.

Mereka menampilkan Tari Jaipong, khas Budaya Sunda.

Para penari yang kebanyakan anak usia dini ini tampil menari dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Seperti memakai faceshild dan menjaga jarak.

Penampilan mereka di siang itu selain dalam rangka melestarikan Budaya Sunda, juga merayakan ulang tahun sanggar yang kelima serta ujian akhir.

Pantauan di lokasi, usia para penari ini mulai dari TK sampai SMA dan mahasiswa. Ujian akhir ini juga mengangkat khusus Budaya Sunda.

Para peserta yang ikut ujian akhir ini tak seluruhnya penari di sanggar tersebut.

Karena terhalang situasi pandemi. Maka yang ikut hanya 150 penari dari 1.000 siswanya.

“Kesulitan saat pandemi dan menjaga jarak sehingga tak semuanya ikut ujian. Biasanya dibagi waktunya. Peserta ujiannya dari Ciamis dan Kota Tasik,” ujar Chris Novika, pimpinan sanggar kepada radartasikmalaya.com, Sabtu (21/11) siang.

Terang dia, sanggarnya ini berada di Griya Taman Abdi Negara, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya. Sanggar ini khusus mempelajari Tarian Tradisional.

“Sanggar ini sudah terbentuk lima tahun. Siswanya jumlah 1.000 lebih, aktif 150 orang. sistemnya kita peringkat kelulusan,” terangnya.

Chris menjabarkan, motivasi mendirikan sanggar tari ini awalnya ketika tahun 2011 lalu dia terpilih mewakili Indonesia, menari tradisional ke Thailand.

“Dan saya lebih semangat lagi menari hingga akhirnya 5 tahun lalu pulang ke Tasik mendirikan sanggar ini. Agar terus melestarikan tarian budaya tradisional,” terangnya.

Tak mudah membesarkan sanggar tari ini di tengah perkembangan zaman, dengan masuknya budaya asing.

“Peminat dalam seni tari sangat banyak. jumlah anggota banyak. kalau dulu pas 2015 berdiri muridnya cuma 7 orang. Namun seiring perjalanan, banyak yang terus belajar tarian tradisional,” tambahnya.

Dia pun berharap dengan tiap tahunnya dilakukan ujian akhir ini para penari dapat terus meningkat kemampuannya. Walaupun sistem ujian ini seperti di sekolah umumnya.

“Jadi mereka tampil dan dinilai. Kalau nilai dan rankingnya bagus maka akan belajar tarian lainnya. Kalau belum lulus ya akan terus belajar yang diujiankan ini,” tukasnya.

Hercita Giri Prakerti, salah seorang orang tua yang anaknya menari di sanggar tersebut menuturkan, acara ulang tahun tersebut memang dikemas dengan berbarengan ujian akhir tahun sambil berbagi santunan untuk anak yatim.

“Jadi ujian di tahun ini nemang khusus Budaya Sunda. Karena sanggar kita fokus ke tarian tradisional. Walaupun demikian di ujian itu tak semua ikut karena dibatasi sesusi protokol kesehatan,” tuturnya.

Jelas dia, semenjak pandemi, proses latihan pun dibagi persift serta tetap membatasi jumlah peserta. Dan kendala itu tak menurunkan semangat anaknya untuk belajar menari.

(rezza rizaldi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.