Penataan Trotoar Dadaha Kota Tasik Jangan Hanya Bisa Menjiplak Kota Lain

197
0
radartasikmalaya.com
Trotoar Jalan Utama Kompleks Olahraga Dadaha disulap seperti kota-kota besar, dengan ornamen bola batu yang dicat warna-warni. dok radartsikmalaya.com

TAWANG – Beberapa pekan terakhir, Jalan Utama Kompleks Olahraga Dadaha. Disibukan dengan kegiatan penataan trotoar di sebelah kiri. Terlihat adanya deretan batu-batu berbentuk bulat, yang dicat warna-warni dengan sentuhan gambar payung geulis.

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Tasikmalaya Ahmad Junaedi Sakan menilai seharusnya Kompleks Olahraga Dadaha bisa dipoles dengan ornamen kelokalan.

Selain sebagai sport center, memberikan ruang terbuka hijau bagi publik, maka hiasan untuk kawasan itu bisa menggunakan pepohonan dan sejenisnya.

“Bukan dengan seperti itu. Kami juga kaget, ketika lihat hasilnya kok jadi gitu,” ujar Ahmad Junaedi kepada Radar, Minggu (8/11).
Seharusnya, kata dia, kalau pun Pemkot hendak mempercantik area trotoar. Bisa melibatkan seniman dan budayawan daerah.

Sehingga, output dari program penataan pedestrian bisa lebih ikonik, khas, tidak cenderung menjiplak tetapi bisa lebih estetis.

“Kota Tasik sudah cukup dengan sejumlah ornamen yang saya kira gagal paham. Mulai pohon plastik, bola dunia di pintu batas kota, sampai tugu di Yudanegara hingga tugu Asmaul Husna yang malah jadi bully-bullyan warga. Mohon ke depannya bisa diperhatikan, supaya membuat ornamen itu greget dan benar-benar bisa menjadi kebanggaan masyarakat,” papar Ketua DPD KNPI Kota Tasikmalaya tersebut.

Baca juga : HEBOH.. Wanita Cantik Terkapar di Pinggir Jalan Bungkil Cipedes Kota Tasik

Ketua Sipatutat Kota Tasikmalaya, Irwan Supriadi menyebut, banyak hal yang lebih penting ketimbang revitalisasi trotoar Dadaha. Apalagi kondisi trotoar tersebut masih layak dan terbilang masih baru.

“Secara estetika tidak menceritakan tentang ikon daerah. Justru konsep yang dibuat cenderung plagiat dan meniru persis dengan ornamen kota lain (Bandung, Red),” keluhnya.

Pria yang juga pegiat fotografi itu mengatakan di Kota Resik banyak seniman yang bisa diajak berdiskusi. Terkait ide dan konsep dalam mempercantik kota, apabila sebelumnya ikut dilibatkan dalam merumuskan rencana pembangunan pedestrian.

“Apakah tidak ada pilihan ornamen yang lain selain bola yang mencirikhaskan icon Kota Tasik,” tanya Irwan.

Salah seorang pengguna jalan, Lulu Nurlika (29) menilai hiasan berbentuk deretan batu tersebut mirip dengan ornamen di Jalan Asia Afrika Kota Bandung. Bedanya, di Kota Tasikmalaya yaitu Dadaha, batu tersebut dicat dan digambari payung geulis.

“Bagus sih, tapi kok mirip di kota-kota besar seperti Bandung. Kemudian kalau tidak salah di Cirebon juga ada yang begitu,” katanya.

“Jangan kebandung-bandungan, walaupun Kota Bandung ibukotanya Jawa Barat. Harusnya Tasik ya bisa buat ikon monumental tersendiri,” sambung Lulu.

Pengunjung Dadaha lainnya, Adit Pratama (34) mengaku sudah waktunya Kota Tasikmalaya mempercantik rumah. Tetapi, idealnya bisa membuat sesuatu hal yang monumental dan menjadi kebanggaan masyarakat.

“Jangan yang tanggung, buat yang ikonik supaya kita selfie juga bisa terlihat menarik bagi warga daerah lain. Kalau gitu-gitu saja, ya menurut saya biasa dan sudah banyak di daerah lain,” ucapnya. (igi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.