Penderita TBC Terus Meningkat

65

SINGAPARNA – Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya mencatat jumlah penderita tuberculosis (TBC) terus mengalami peningkatan. Pada 2017, tercatat 2.205 orang dan 2018 meningkat menjadi 2.227 penderita.

“Bahkan untuk triwulan pertama tahun ini saja jumlah penderita TBC mencapai 352 orang,” ujar Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) pada Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya, Atang Sumardi saat ditemui Radar di kantornya, Jumat (15/3).

Atang menjelaskan, pada 2017 kecamatan yang paling banyak penderita TBC adalah Sodonghilir sebanyak 127 penderita, Cigalontang 104 dan Ciawi 94 orang. Kemudian, di 2018, Kecamatan Cigalontang menjadi terbanyak penderita TBC mencapai 105 orang, Ciawi 97 dan Sodonghilir 88. “Trennya memang terus naik. Tahun ini sampai 15 Maret jumlahnya mencapai 352 orang,” ungkapnya.

Maka dari itu, lanjut dia, Dinas Kesehatan terus melakukan sosialisasi dan pendataan terhadap penderita TBC. Kader kesehatan di setiap RW sudah digerakkan untuk memantau kondisi kesehatan warga. “Jadi, apabila ada yang mengalami batuk sudah beberapa hari belum sembuh harus ditindaklanjuti,” paparnya.

Jelas Atang, penyakit ini bukan disebabkan karena turunan. Melainkan tertular dari penderita lain dan lingkungan serta gaya hidup. Penularan dari penderita lain terjadi ketika batuk mengeluarkan dahak, saat itu bakteri tuberculosis keluar dan terhirup orang lain.

Lanjut dia, beberapa gejala tuberculosis di antaranya batuk berdahak dan tidak. Kemudian, penderita mengalami demam meriang berkepanjangan, sesak napas dan nyeri dada. Kemudian berkeringat tanpa sebab terutama pada sore dan malam hari. “Badannya pasti terasa lemas dan nafsu makan berkurang, berat badan pun menurun,” terangnya.

Upaya mencegah penyakit ini, terang dia, perlu olahraga teratur, makan bergizi untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Kemudian harus sering membuka jendela agar rumah mendapatkan cukup sinar matahari dan udara.

Kata dia, untuk pengobatan warga yang terjangkit TBC mendapatkan bantuan dari pemerintah hingga sembuh. Karena, ada bantuan program dari pemerintah pusat dalam penyelesaian tingginya penyakit ini. “Pengobatannya harus berkelanjutan hingga tuntas. Karena kalau sampai terulang harus mengawali dari awal lagi,” bebernya.(obi)

loading...
BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.