Pendidikan Terbawah, Guru Perlu Dievaluasi

30
0

JAKARTA – Dunia pendidikan di Indonesia masih ketinggalan dengan negara lain, terutama negara tetangga Singapura. Kondisi demikian tidak boleh dibiarkan, sebab untuk menghadapi tantangan global dan revolusi 4.0 dibutuhkan putra-putri terbaik bangsa yang berdaya saing.

Pengamat pendidikan Budi Trikorayanto mengatakan, tiga hal yang perlu diperhatikan yakni guru, siswa dan infrastruktur. Namun menurut dia, pemerintah saat ini harus fokus pada kualitas guru yang semakin menurun. Padahal ke depan persaingan semakin ketat. “Kita harus fokus pada guru, yang kompetensinya sangat lemah,” ujar Budi kepada Faja Indonesia Network (FIN), Minggu (8/120.

Sistem pendidikan saat ini belum bisa menjawab tantangan pendidikan di masa akan datang. Oleh karena itu, dia meminta harus diubah secepatnya. Bukan hanya kurikulum yang mesti diubah, tetapi juga siswa tidak hanya tergantung pada guru melainkan bisa mencari ilmu pengetahuan yang luas melalui internet.

“Jangan ragu masuk ke edukasi 4.0 di mana pendidikan bersandar pada internet. Banyak narasumber yang lebih canggih dan bagus daripada guru,” kata dia.

Tugas guru, kata dia, posisinya hanya menjadi fasilitator saja dan motivator. Dia meyakini cara-cara demikian akan efektif meningkatkan kualitas siswa untuk menghadapi persaingan di masa depan dengan bangsa lain. “Biarkan anak-anak explore di dunia maya,” ucap dia.

Komisi X DPR RI bersama para pendidik yang terdiri dari rektor dan dosen bersepakat merevitalisasi Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (LPTK) negeri dan swasta. Pasalnya, dengan lulusan guru berkualitas akan mampu menjawab tantangan global dan revolusi industri 4.0.

Rektor Universitas Yogyakarta (UNY), Sutrisna Wibawa mengatakan, berdasarkan hasil Programme International Student Assessment (PISA) 2018, pendidikan Indonesia berada pada posisi di bawah rata-rata untuk kemampuan membaca, matematika dan sains. Karena itu perlu dievaluasi guru, siswa dan infrastruktur.

“Hasil PISA cukup membuat kita terhenyak. Jadi harus ada peningkatan kualitas guru yang dimulai dari calon guru yang dibina LPTK,” kata Sutrisna.

Peningkatan kualitas guru seperti program profesi guru (PPG) dan sistem sertifikasi perlu ditinjau dan disempurnakan. Termasuk juga mengkaji kebutuhan anggaran untuk mewujudkan LPTK yang unggul. Selain itu, perlu ada standarisasi untuk penyelenggaraan LPTK dalam mendidik calon guru sehingga profesi guru menjadi pilihan.

“Profil lulusan guru itu selain berkompeten dan punya keinginan, juga harus mempesona. Ia harus menampilkan kepribadian baik sehingga tampil menarik untuk memikat siswa dalam membangun minat belajar,” ujarnya.

Senada dengan Dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Itje Chadidjah. Dia menekan, guru di masa depan harus diisi dengan putra-putri terbaik baik dalam melakukan transformasi pengetahuan sesuai kebutuhan era revolusi industri 4.0.

“Saat ini pendidikan kita mengalami kepincangan. Kita membutuhkan guru-guru yang mempunyai nilai serta yang mempunyai cara bagaimana mengajak anak untuk memiliki motivasi belajar sehingga anak senang belajar, bukan karena adanya teks,” ujar dia.

Pemerhati pendidikan dari Lembaga Pendidikan Cikal, Najelaa Shihab mengatakan, ada dua isu penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia. Salah satunya adalah transformasi sistem asesmen. Menurut Najelaa, yang selama ini hilang dari sistem pendidikan nasional adalah feedback atau umpan balik.

“Jadi kita semua yang bergerak di kebijakan di lapangan bahkan teman-teman di kementerian, sebetulnya tidak dapat umpan balik dari yang sehari-hari terjadi di kelas,” ujarnya.

Najeela menuturkan, hasil PISA 2018 yang menempatkan Indonesia di posisi 10 terbawah ini membuat semua pihak seolah-olah kaget. Padahal, kenyataan di lapangan, guru yang bersertifikasi pun belum tentu memiliki kualifikasi. Selain itu, siswa yang memiliki hasil ujian nasional (UN) tinggi ternyata tidak siap untuk berkontribusi ke dunia industri.

“Isu utama kita adalah feedback. Sistem asesmen dan sistem data yang selama ini ada di sistem pendidikan nasional tidak bisa memberikan gambaran yang utuh. Sebenarnya apa sih yang terjadi selain data-data di atas kertas yang belum tentu sesuai kenyataan,” kata Najelaa. (din/fin)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.