Penerapan Tarif Parkir Wajar Disikapi dengan Kemarahan

38
0

TASIK – Penetapan tarif parkir baru yang berlaku sejak awal 2020, semakin mengurangi respek publik terhadap Pemkot Tasikmalaya. Mengingat selama 2019 polemik dan opini yang berkembang di masyarakat atas sejumlah persoalan yang menimpa Pemkot, menekan tingkat kepercayaan terhadap birokrasi.

Hal itu dikemukakan pengamat pemerintahan Tasikmalaya Asep M Tamam. Menurutnya, di tengah kondisi yang serba sulit saat ini Pemkot harusnya hadir. Pemerintah harus memberikan solusi sebagai pembuat kebijakan, sehingga mengurangi beban yang dirasakan masyarakat. “Bukan malah melahirkan kebijakan tidak populis seperti naiknya tarif parkir,” ujarnya Senin (6/1).

“Khususnya wali kota, sudah cukup opini publik meliar tempo lalu itu mulai mereda. Adanya aturan ini, seolah menghangatkan kembali perbincangan miring tentangnya di tengah masyarakat,” sambung Asep.

Dosen STIA Cipasung Tasikmalaya itu menekankan sebaiknya Pemkot konsentrasi mendulang prestasi, bukan malah melukai perasaan publik melalui kebijakan kenaikan tarif parkir.

Belakangan ini, kata dia, daya respek dan kepercayaan terhadap pemerintah menurun dengan drastis, terlepas dari pengaruh isu secara nasional pun di daerah.

“Harusnya Pak Wali getol meraih simpati dan empati publik. Hadir di tengah keluhan atas kondisi ekonomi dan problematika yang dihadapi masyarakat saat ini,” sarannya.

Akademisi ini menyarankan untuk urusan parkir, Pemkot lebih konsentrasi berbenah diri. Mereka harus mengevaluasi sistem pengelolaan parkir selama ini, yang diyakini sangat berpotensi mendongkrak penghasilan asli daerah (PAD).

“Naik bukan solusi terbaik. Kalau trust publik baik, relevan dengan take and give yang diberikan Pemkot atas sejumlah kewajiban masyarakat dalam membayar pajak daerah. Saya kira tidak akan masalah ketika terpaksa harus naik,” analisisnya.

Sebaliknya, kata dia, ketika pelayanan yang diterima masyarakat alakadarnya, kepercayaan terhadap pemerintah minim, kebijakan semacam itu spontan menuai kemarahan.

“Bukannya diterima masyarakat dengan sadar, malah menjadi beban. Bisa dilihat bagaimana netizen di sosial media hari ini, kemudian polemik yang muncul di mass media membahas soal tarif parkir,” lanjut Asep. (igi)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.