Pengadilan Tipikor Jabar Tanggukan Penahanan 5 Terdakwa Korupsi di Garut

33
0
Sugeng Hariadi Kepala Kejaksaan Negeri Garut
Loading...

TAROGONG KIDUL – Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Bandung, Jawa Barat menangguhkan lima tahanan terdakwa kasus korupsi.

Kepala Kejaksaan Negeri Garut Sugeng Hariadi menyatakan, penangguhan kelima tahanan korupsi terjadi setelah adanya penjamin serta kesiapan pada terdakwa untuk mengembalikan sejumlah kerugian negara.

Baca juga : 6 Sekolah di Garut Sudah Belajar Tatap Muka

“Selain alasan-alasan tersebut, memang ada lagi salah satunya masa penahanan yang sudah dua kali diperpanjang oleh peradilan pada Pengadilan Tinggi Bandung, jadi sudah mendekati mau habis,” ujar Sugeng di Kantornya, Kamis (14/1).

Menurut Sugeng, penangguhan para terdakwa korupsi tersebut mencederai rasa keadilan masyarakat di depan hukum, terutama di tengah upaya pemerintah memberantas kasus korupsi sejak lama. “Kami mempunyai hak untuk mengajukan perlawanan,” terangnya.

loading...

Namun karena penetapan harus dilakukan, Sugeng menyatakan pihak kejaksaan bakal menghormati kebijakan itu dan tetap melaksanakan putusan pengadilan untuk menangguhkan penahanan mereka.

Selama masa penangguhan, para koruptor itu melakukan wajib lapor serta komitmen tetap menghormati seluruh putusan yang telah dikeluarkan pihak pengadilan.

“Apabila mereka melanggar, maka penjamin harus bertanggung jawab dan uang yang dijaminkan akan dirampas dan diserahkan kepada negara,” katanya.

Seperti diketahui kelima terdakwa korupsi yang mengajukan penangguhan yakni ES, Kepala Desa Karya Jaya, Bayongbong dalam korupsi Dana Desa.

Kemudian AS bekas Kepala Desa Mekarsari, Cibalong dan DS, dalam kasus beras masyarakat miskin (raskin). Kemudian Kus, mantan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Garut serta YK, bawahannya di lembaga yang sama dalam kasus korupsi pembangunan gedung Sarana Olahraga (Sor) Ciateul.

Sugeng merinci kerugian yang ditimbulkan para terdakwa beragam, mulai dari Rp 400 juta dalam kasus korupsi Dana Desa di Desa Karyajaya, kemudian korupsi raskin dengan kerugian Rp 400 juta. Hingga kerugian paling besar mencaapi Rp 1,6 miliar dalam kasus korupsi pembangunan Sor Ciateul. (yna)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.