Pengakuan Warga Ciamis dan Tasik yang Tak Bisa Mudik, Antara Rindu & Takut..

669
0
ISTIMEWA TIDAK MUDIK. Warga Priangan Timur saat bekerja di pabrik tahu di Cakung, Jakarta Timur. Warga Ciamis dan Tasik di pabrik tersebut tak mudik karena mengikuti keputusan pemerintah. Insert, foto Danil Koswara, warga Desa Sukaraja Kecamatan Sindangkasih, Ciamis.

CIAMIS – Pemerintah resmi melarang masyarakat mudik tahun ini. Langkah tersebut untuk memutus rantai penularan Covid-19. Sebagian warga Ciamis dan Tasikmalaya yang bekerja di Jakarta sangat sedih tidak bisa mudik, namun mereka siap mengikuti aturan pemerintah tersebut.

Danil Koswara (28), warga Ciherang Desa Sukaraja Kecamatan Sindangkasih Kabupaten Ciamis mengaku tidak bisa mudik ke Ciamis karena dia tertahan di Jakarta. Di Ibu Kota, dia dan teman-temannya dari Tasikmalaya bekerja di pabrik tahu di Jalan Rawa Kuning Gang Abu Daud, Cakung, Jakarta Timur.

Baca juga : Ciamis, Tiga Positif Corona dan Dua Sembuh

“Baru seumur hidup kami tidak bisa mudik ke Ciamis atau Tasikmalaya dan berkumpul dengan keluarga, tentunya sangat sedih bila itu terjadi,” ujar Anil, sapaan akrab Danil Koswara saat dihubungi Radar, Rabu (22/4) siang.

Anil mengaku mengetahui bahwa pemerintah pusat melarang masyarakat dari zona merah Covid-19 mudik tahun ini. Namun, dia menilai bisa saja ada warga yang tetap mudik karena rindu orang tua dan keluarga di kampung halaman.

Bagi dia, mudik menjadi dilema. Jika tetap mudik ke Ciamis, dia khawatir dan takut keluarganya terpapar corona. Di sisi lain, dia rindu kepada mereka. “Kami sangat sedih tidak jadi mudik,” sedihnya.

Doni (34), warga Tasikmalaya, teman Anil, mengaku sekarang berjualan tahu di Jakarta sepi pembeli. Dia ingin pulang. Namun setelah ada larangan dari pemerintah, dia mengaku bingung: bagaimana hidup di Jakarta. Sedangkan dia belum mendapatkan bantuan. Bisa-bisa bekalnya malahan habis.

“Serba bingung. Mudik ingin namun saya dilarang,” jelasnya.

Dalam wawancara terpisah, Kapolres Ciamis AKBP Dony Eka Putra SIK MH mengatakan pihaknya bersama TNI siap mendukung larangan mudik yang diputuskan pemerintah pusat. “Jadi apapun nanti, bagaimana cara bertindak di lapangan menunggu instruksi lebih lanjut,” ujarnya.

Pemerintah, sebelumnya, resmi melarang mudik tahun ini. Sejumlah skenario disiapkan terkait pergerakan kendaraan umum dan angkutan pribadi yang melintasi zona merah. Skema yang disiapkan adalah berupa pembatasan lalu lintas pada jalan akses keluar masuk wilayah. Bukan penutupan jalan.

“Kendaraan angkutan umum, kendaraan pribadi, sepeda motor tidak boleh keluar masuk zona merah,” tegas Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Budi Setiyadi di Jakarta, Selasa (21/4).

Saat ini, lanjutnya, beberapa wilayah telah berstatus PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Salah satunya Jabodetabek. “Skema pembatasan lalu lintas ini dipilih karena yang dilarang untuk melintas adalah terbatas angkutan penumpang. Sedangkan angkutan barang atau logistik masih dapat beroperasi,” paparnya.

Baca juga : Pecinta Basket Tasik, Ini yang Dilakukan Mereka Selama tak Bisa Bermain Saat Wabah Covid-19

Untuk menegakkan peraturan diperlukan sanksi jika terjadi pelanggaran. Menurutnya, sanksi tersebut bisa mengacu pada Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan. “Bagi masyarakat yang memaksa mudik, harus ada sanksi. Hukuman paling ringan bisa dengan meminta pengemudi tidak melanjutkan perjalanan mudik,” ucap Budi.

Di setiap akses keluar masuk akan ada penyekatan-penyekatan atau titik pemeriksaan. Terutama memeriksa setiap orang yang akan keluar masuk Jabodetabek. “Dalam melaksanakan pembatasan lalu lintas tentunya diperlukan kerja sama banyak pihak. Khususnya kepolisian sebagai garda terdepan,” ujarnya. (isr)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.