Siapa Calon bupati Tasikmalaya pilihan anda?
17%

83%

Penganiayaan Ulama Terus Terulang, Pelaku seperti Tantang Aparat

252
0
ilustrasi

TASIK – Polres Tasikmalaya Kota didesak mengungkap secara tuntas kasus penganiayaan terhadap Ustaz Mastur Turmudzi (60), warga di Kampung Awiluar RT/RW 01/02 Kelurahan Singkup Kecamatan Purbaratu Kota Tasikmalaya yang dihajar oleh orang tak dikenal pada Minggu (25/2).

“Serangan tersebut harus bisa diungkap tuntas, sampai diketahui siapa pelaku dan apa yang menjadi motifnya,” ujar Aktivis Muslim dari Majelis Mujahid Tasikmalaya Ustaz Iri kepada Radar, Senin (27/2).

Hal itu, kata dia, supaya bisa memberikan ketenangan bagi masyarakat. Khusus para ulama, kiai dan ustaz dalam menjalankan aktivitas dakwahnya. ”Memang ini berat bagi aparat hukum, tapi saya yakin jajaran Polres Tasikmalaya Kota bisa menangani secara serius kasus ini. Jangan sampai perkaranya mengambang tanpa diketahui siapa pelakunya,” katanya.

Pihaknya meminta polisi menunjukkan kekuatannya dengan berbagai potensi yang dimiliki. Agar pelaku teror tidak merasa mudah melakukan aksi serupa ke depannya. “Karena saya melihat para pelaku seperti menantang aparat kepolisian, sebab kejadian berulang-ulang. Walau tidak hanya di Kota Tasik,” terangnya.

Penyelidikan kasus penyerangan terhadap pemuka agama ini, kata Ustaz Iri, merupakan pertaruhan citra polisi di masyarakat. Pasalnya ketika pelaku tidak bisa ditangkap, masyarakat akan resah dan khawatir teror bisa kembali terjadi. “Di tambah lagi akan menjadi penilaian buruk dari umat Islam,” ujarnya.

Terpisah, Selasa siang (27/2) Wali Kota Tasikmalaya Drs H Budi Budiman didampingi Sekda Kota Tasikmalaya H Ivan Dicksan mendatangi rumah Ustaz Mastur Turmudzi.

H Budi mengaku prihatin dengan apa yang dialami korban, dia meminta supaya masyarakat lebih sadar terhadap pentingnya menjaga keamanan lingkungan. Salah satunya dengan meningkatkan aktivitas siskamling. “Tapi kalau ada apa-apa jangan main hakim sendiri, laporkan langsung kepada aparat setempat,” terangnya.

Dirinya berharap masyarakat bisa tetap tenang dalam menjalani aktivitasnya. Jangan sampai muncul sebuah ketakutan yang berlebihan di masyarakat sehingga mengganggu produktivitas. “Jangan sampai jadi takut ke masjid atau kemana-mana,” tuturnya.
Peristiwa tersebut, kata Budi, merupakan teror untuk masyarakat. Pasalnya dengan kasus tersebut mengakibatkan kondusivitas terganggu. “Saya menduga ini semacam teror yang bikin suasana mencekam,” katanya.

Jika masyarakat mengalami ketakutan berlebihan, dikhawatirkan kondisi tersebut dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok tertentu. Terlebih Jawa Barat termasuk Kota Tasikmalaya tengah menghadapi pesta politik Pilgub Jabar. “Karena dimana pun selalu ada kelompok yang menginginkan suasana gaduh,” selorohnya. (rga)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.