Pengawet Makanan Picu Gangguan Ginjal

87
0
istimewa. KONSULTASI. Salah satu pasien sedang berkonsultasi mengenai kesehatan kepada Dokter Hj Reti Zia Dewi Kurnia MARS di Klinik H Dedi Manonjaya Tasikmalaya beberapa waktu lalu.
istimewa. KONSULTASI. Salah satu pasien sedang berkonsultasi mengenai kesehatan kepada Dokter Hj Reti Zia Dewi Kurnia MARS di Klinik H Dedi Manonjaya Tasikmalaya beberapa waktu lalu.

TASIK – Penggunaan bahan pengawet makanan marak digunakan saat ini. Penggunaan pengawet makanan ini untuk menjaga kesegaran dan kualitas makanan. Namun, mengonsumsi makanan berbahan pengawet dalam kurun waktu yang lama dapat menyebabkan masalah kesehatan serius.

Dokter Klinik H Dedi Manonjaya dr Hj Reti Zia Dewi Kurnia MARS mengatakan proses pengawetan makanan umumnya dilakukan dengan dua metode. Pertama adalah metode tradisional, seperti pengeringan, pendinginan, dan fermentasi. Dan yang kedua yaitu metode modern, misalnya pengalengan,pasteurisasi, pembekuan, iradiasi pangan dan penambahan bahan kimia.

Bahan kimia pengawet makanan yang digunakan dalam proses tersebut, ada yang aman untuk dikonsumsi dan ada juga yang dapat membahayakan kesehatan, misalnya formalin dan boraks.

Kedua bahan berbahaya tersebut sering digunakan untuk mengawetkan tahu, mie dan bakso. Jika dikonsumsi dalam jangka panjang, dapat mengakibatkan gangguan jantung, sistem pernapasan, ginjal, kulit, bahkan gangguan otak.

“Pengawetan makanan pada dasar­nya dapat dilakukan secara alami de­ngan penggunaan garam atau dengan mengeringkan makanan,” katanya kepada Radar, Jum’at (3/1).

Namun tidak semua makanan dapat diawetkan menggunakan cara ini. Oleh sebab itu, banyak penggunaan bahan kimia untuk proses pengawetan makanan.

Reti mengungkapkan, meskipun mayoritas pengawet makanan berbahan kimia yang digunakan aman untuk dikonsumsi setiap hari, namun dalam jangka panjang akan ada efeknya bagi kesehatan.

Konsumsi bahan pengawet dalam kurun waktu yang lama, ujar dia, dapat menyebabkan masalah kesehatan serius. Oleh sebab itu, kenali dan hindari pengawet makanan agar makanan yang dikonsumsi tidak menyebabkan penyakit berbahaya.

“Masyarakat harus lebih waspada apalagi sekarang banyak makanan kaleng. Semua makanan kaleng menggunakan bahan pengawet dan bisa bertahan beberapa hari, bahkan ada yang sampai 1 tahun,” katanya.

Mengonsumsi makanan yang tidak banyak diproses jauh lebih baik, seperti sayuran, daging, telur dan bahan makanan lainnya yang masih dalam bentuk aslinya.

“Pilih makanan berkualitas, pola makan harus sehat, jangan jajan sembarangan,” kata dia.

Bila mengonsumsi makanan berkemasan atau makanan kaleng, mesti cermat melihat komposisi dan tanggal kadaluarsanya.

“Masyarakat harus memiliki kesadaran dalam memilih makanan yang aman untuk dikonsumsi dengan tidak mengandung bahan pengawet berbahaya. Bahaya pengawet makanan dapat menim­bulkan penyakit,” katanya. (obi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.