Pengedar Sabu di Tasik Tak Ditahan

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

TASIK – Badan Narkotika Na­sional (BNN) Kota Tasikmalaya mengalami ken­dala untuk mem­­­­perdalam kasus rental sabu-sabu yang dilakukan YS. Pasalnya pecatan PNS itu memiliki Gerakan Tutup Mulut (GTM) yang kuat.

Kepala BNN Kota Tasikmalaya H Tuteng Budiman mengatakan YS tidak mau terbuka selama pemeriksaan. Hal ini membuatnya kesulitan untuk memperdalam kasus rental sabu-sabu tersebut. “Nutup terus, tidak mau mengaku,” ungkapnya kepada Radar, Jumat (14/9).

Dari informasi yang didapat BNN, YS sudah melakukan aktivitas melanggar hukum itu cukup lama. Namun kepada penyidik, YS mengaku baru beberapa kali saja. “Tapi itu pengakuan dia, informasi yang kita dapat di lapangan berbeda,” tuturnya.

Uang sebesar Rp 23 juta yang diamankan pun diakui YS merupakan hasil usaha jual beli kayu. Namun saat dikonfirmasi kepada keluarganya berbeda.

“Kita juga memang tidak percaya, karena sehari-hari dia diam di rumahnya tidak kemana-mana,” terangnya.

Begitu juga dengan para konsumen YS yang sejauh ini belum bisa terdeteksi. Hanya saja sering kali pesta sabu-sabu yang dilakukan di rumahnya diikuti oleh 10 orang. “Tapi kita belum mengidentifikasi kalangan apa dan dari mana saja konsumennya,” kata dia.

Sementara ini BNN sedang berupaya mengembangkan asal-usul barang yang didapat YS. Termasuk soal informasi transaksinya dikendalikan di salah satu Lapas. “Dalam hal ini kita tidak mau tergesa-gesa, lagian orangnya juga kalau di dalam Lapas enggak bisa kemana-mana,” jelasnya.

Saat ini, BNN tidak melakukan penahanan kepada YS karena kondisinya yang sakit. Namun BNN menjamin dia tidak akan kabur dan bisa dipanggil untuk kepentingan proses hukum. “Kakinya juga itu kan pincang, jadi kalau ditahan juga nantinya harus dibantarkan,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, peredaran narkotika dengan pengendali dari balik jeruji besi tidak ada habisnya. Meski berulang kali Badan Narkotika Nasional (BNN) menindak tegas para pelaku, tidak lantas membuat pengedar lain yang belum ditindak jera. Terbaru, BNN mengungkap modus anyar peredaran narkotika di Tasikmalaya, Jawa Barat (Jabar). Tidak lagi menjual, kali ini pengedar menyewakan narkotika kepada pengguna.

Deputi Pemberantasan BNN Irjen Arman Depari menyampaikan baru kali pertama instansinya mengungkap peredaran sabu dengan modus sewa. ”Iya benar modus baru,” ungkap dia ketika dikonfirmasi Jawa Pos Rabu (12/9). Menurut pria yang lebih akrab dipanggil Arman itu, instansinya bersama BNN Kota Tasik sudah lama bergerak untuk menyelidiki kasus tersebut.

Namun, penggerebekan baru dilaksanakan akhir bulan lalu. Arman menjelaskan bahwa pelaku atas nama YS merupakan mantan pegawai negeri sipil (PNS). ”Dipecat karena tindakan kriminal,” imbuh perwira tinggi Polri dengan dua bintang di pundak itu. Yang bersangkutan, sambung dia, tinggal di sebuah rumah dua lantai di Jalan Tentara Pelajar, Kelurahan Nagarawangi, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya.

Salah satu kamar di rumah tersebut diubah menjadi tempat penyewaan narkotika. Adalah narkotika jenis sabu yang disewakan oleh YA kepada para pelanggannya. ”Harga yang dibayar pelanggan Rp 100 ribu per empat kali hisap, dibayar di muka,” jelas Arman. Dari lokasi penggerebekan, petugas mengamankan sejumlah barang bukti. Di antaranya sisa sabu sebanyak 3,89 gram, uang tunai Rp 35 juta, bong atau alat hisap sabu, dan timbangan digital. (rga/jpg)

loading...