Pengedar Sabu-Sabu Pecatan PNS

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

TASIK – Penyalahgunaan dan peredaran narkoba masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah. Hal ini setelah diungkapnya dua jaringan narkoba oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Tasikmalaya pada Senin (10/9).

Jaringan pertama, lembaga non kementerian tersebut mengamankan seorang Satpam berinisial ES (34) dan juru parkir liar, HH (40) yang ditangkap pada 22 Agustus 2018. Keduanya merupakan pengedar, petugas BNN mendapatkan barang bukti 1 paket sabu seberat 0.85 gram, 1 unit HP, uang tunai Rp 150 ribu dan 1 lembar bukti transfer. Mereka mengaku mendapatkan barang dari peredaran yang diduga dikendalikan oleh napi di Lapas.

Sedangkan jaringan kedua, BNN mengamankan YT, EAH, YA dan RZ di Jalan Tentara Pelajar, Cihideung, Kota Tasikmalaya. Mereka digerebek melakukan pesta sabu-sabu di rumah YT. “Empat orang itu diamankan pada 26 Agustus 2018,” ungkap Kepala BNN Kota Tasikmalaya H Tuteng Budiman saat ekspos kasus, Senin (10/9).

Menurut Tuteng, sabu-sabu yang mereka gunakan didapat dari seorang kurir dengan menggunakan sistem tempel. Transaksinya dikendalikan oleh narapidana yang sedang mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). “Tapi yang jelas bukan di Lapas Tasikmalaya,” tuturnya.

Selain menjual, kata Tuteng, salah satu pengedar juga menyediakan bong untuk pembelinya. ”Penggerebekan ini berawal dari laporan masyarakat,” paparnya.

Saat penggerebekan, kata dia, rumah YT terlihat tidak ada yang mencurigakan. Namun ketika masuk, ada tangga khusus ke lantai dua yang menjadi tempat pesta sabu-sabu. “Dari depan rumahnya seperti satu lantai, tapi pas masuk ada tangga yang sekilas tidak kelihatan,” bebernya.

Ketika petugas datang, mereka sedang melakukan pesta sabu-sabu. Keempatnya pun tidak bisa mengelak saat ditangkap oleh petugas BNN dan mengamankan 2,9 gram sabu-sabu dan 2,25 gram ganja kering beserta beberapa bong dan Hp yang mereka gunakan sebagai barang bukti. Dalam penggeledahan pun BNN mengamankan uang sebanyak Rp 23 juta, diduga kuat hasil penjualan barang terlarang itu.

Tuteng menambahkan informasi yang didapat BNN, modus penjualan yang dilakukan YT dengan menyiapkan sabu-sabu dan bong. Konsumen kemudian harus membayar Rp 100 ribu untuk satu shoot penggunaan sabu-sabu. “Jadi seperti rental, dia tidak menjualnya seperti kebanyakan pengedar,” tuturnya.

BNN terus melakukan penyelidikan dan pengembangan terkait kasus peredaran narkoba tersebut. Namun demikian para tersangka belum kooperatif dan lebih banyak berkelit. “Ngakunya masih baru-baru ini, tapi informasi yang masuk mereka sudah lama,” katanya.

Dijelaskan Tuteng, YT merupakan pegawai negeri sipil (PNS) yang dipecat sekitar tahun 90-an akibat kasus pencurian. Sehingga dia menilai pelaku bukan orang baru di dunia kriminal. “Saya tahu, dia dulunya PNS tapi dipecat karena kasus pencurian,” imbuhnya.

Wali Kota Tasikmalaya Drs H Budi Budiman yang hadir dalam ekspos tersebut mengapresiasi kinerja BNN Kota Tasikmalaya atas terungkapnya dua kasus penyalahgunaan dan peredaran narkoba tersebut. Guna menekan peredarannya, dia meminta BNN serta aparat kepolisian bekerja lebih ekstra melakukan penyelidikan dan mengungkap kasus lainnya. “Alhamdulillah dengan terungkapnya kasus ini, BNN juga harus melakukan pengembangan kasusnya,” pungkasnya.(rga)

loading...