Pengidap HIV/AIDS Usia 15-24

361
0
IMAN S RAHMAN/RADAR TASIKMALAYA PERINGATI HARI AIDS. Mahasiswi Fakultas Ekonomi Unigal membubuhkan tandatangan di atas kain putih untuk mengkampanyekan pentingnya menjauhi perilaku seks bebas, seks menyimpang dan narkoba Jumat (1/12).

Bertambah 37 Kasus Sepanjang Tahun 2017
CIAMIS – Jumlah pengidap HIV/AIDS di Kabupaten Ciamis bertambah. Hasil identifikasi Dinas Kesehatan selama tahun 2017, ditemukan 37 kasus baru. Pada tahun 2016, Dinas Kesehatan mencatat pengidap HIV/AIDS di Ciamis secara kumulatif masih 337 orang. 199 orang diantaranya asli warga Ciamis.
“Rata-rata umur pengidap HIV/AIDS di usia muda. Sebelumnya didominasi usia 25-35 tahun. Tetapi, sejak 2015 sampai 2017 ini kasus HIV/AIDS banyak ditemukan di rentang usia antara 15-24 tahun. Dimana terjadi karena (orang dengan) usia muda sudah melakukan perilaku beresiko (seks bebas dan narkoba, Red),” ungkap Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Ciamis Muhamad Ivan saat menghadiri peringatan Hari AIDS sedunia di Taman Raflesia kemarin (1/12).
Menurut dia, temuan pengidap HIV/AIDS dari tahun ke tahun terus bertambah. Hal itu disebabkan minimnya pengetahuan masyarakat tentang bahaya virus mematikan itu.
Untuk mencegah bertambah banyaknya pengidap HIV/AIDS, kata dia, pihaknya terus melakukan sosialisasi dan menyediakan layanan VCT di 37 puskesmas di Ciamis.
“Kami pihak dinas tidak bisa sendirian dalam mencegah penularan HIV/AIDS. Semua pihak harus terlibat mulai dari media, LSM, tokoh masyarakat dan instansi terkait lainnya untuk penanggulangan secara komprehensif,” katanya.
Berdasarkan faktor risiko, lanjutnya, pengidap HIV/AIDS awalnya didominasi kaum heteroseksual. Namun, belakangan didominasi kaum homoseksual atau Lelaki Seks Lelaki (LSL). Jumlah kelompok ini terdeteksi meningkat sejak tahun 2013.
Selain itu, penularan HIV/AIDS juga lebih rawan menyerang kaum ibu rumah tangga ketimbang wanita pekerja seks (WPS). Hal ini disebabkan banyaknya pria hidung belang yang bertransaksi dengan WPS pengidap HIV/AIDS. Akibatnya, virus itu kemudian menular kepada istri mereka.
Muhamad menilai, yang harus dibendung adalah perilaku para pria hidung belang yang senang “jajan” sembarangan. Mereka berpotensi menularkan virus mematikan tersebut kepada istri dan anak mereka yang masih dalam kandungan. “Hal itu yang kita ketahui sangat rentan sekali,” ucapnya.
Menurutnya, selain pengidap, angka kematian ODHA (orang dengan penyakit HIV/AIDS) di Kabupaten Ciamis juga cukup tinggi. Dari total 69 kematian di tahun 2017, 12 diantaranya adalah ODHA.
“Makanya kami mengimbau kepada masyarakat agar jauhi narkoba, jajan di luar, hingga melakukan hubungan dengan sesama. Hal itu sangat rentan terkena HIV/AIDS,” paparnya.
Ketua BEM Fakultas Ekonomi Unigal Farid Ridwan menuturkan sebagai bentuk keprihatinan atas kasus HIV/AIDS di Ciamis, mahasiswa melakukan longmarch dari kampus menuju Taman Raflesia di kawasan alun-alun. Sepanjang jalan, mereka membagikan bunga dan menyosialisasikan bahaya virus HIV kepada para pengendara.
Dengan begitu, masyarakat diharapkan sadar akan besarnya risiko perilaku seks bebas dan narkoba terhadap kesehatan dan kelangsungan hidup. Sebab, virus tersebut dapat menyebabkan kematian.
“Mari kita cegah dengan tidak ngonsumsi narkoba, tidak jajan WTS (wanita tuna susila) atau hubungan sesama jenis,” ajaknya. (isr)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.