Siapa Calon bupati Tasikmalaya pilihan anda?
17%

83%

Pengidap Tuberkulosis Masih Malu Berobat

22
0
MENJELASKAN. Dirut RSUD SMC dr Heru Suharto MMKes (tengah) didampingi Kepala Seksi Pelayanan Medik Adi Widodo dan Kabid Keperawatan RSUD SMC Kabupaten Tasikmalaya Mulyana Darsana MM menjelaskan soal Poli TB MDR, Senin (7/10).

SINGAPARNA – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Singaparna Medika Citrautama (SMC) menilai para pengidap penyakit Tuberkulosis (TB) di Kabupaten Tasikmalaya masih malu-malu berobat. Padahal, rumah sakit sudah menyiapkan Poli Multi Drug Resistant (MDR) atau ruangan khusus pasien penyakit TB yang kebal terhadap obat.

Direktur Utama (Dirut) RSUD SMC Kabupaten Tasikmalaya dr Heru Suharto MMKes mengatakan, disediakannya poli ini untuk meminimalisasi tingkat penyebaran penyakit TB yang cukup tinggi.

“Dengan jumlah pengidap TB resistensi yang cukup banyak, sehingga penularan penyakit ini terus meningkat. Akibat pasien tidak patuh terhadap minum obat TB sehingga jadi kebal dan menjadi penular,” kata Heru kepada wartawan di RSUD SMC, Senin (7/10).

Kata dia, sebelum ada Poli MDR di RSUD SMC, biasanya pasien pengidap TB resistant di rujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, sehingga biaya dan segala halnya cukup merepotkan keluarga pasien.

“Sekarang masyarakat tidak perlu jauh-jauh ke Bandung, di RSUD SMC sudah ada Poli MDR khusus pengidap penyakit TB resistant. Kita siapkan dokter multi spesialis, dokter radiologi, THT dokter jiwa dan dokter anak,” ujarnya, menjelaskan.

Kata dia, data pasien TB resistant yang dirawat di RSUD SMC setiap bulannya bisa mencapai 30-40 pasien. Mereka sampai saat ini bisa berobat jalan dan terus melakukan konsultasi.

“Yang kita obati 44 pasien dengan kasus MDR TB, artinya pasien pengidap TB yang kebal dengan obat. Di Jawa Barat Poli MDR baru ada enam rumah sakit di Priangan Timur salah satunya SMC lengkap dengan ruang inap dan ruang isolasi,” katanya.

Kepala Seksi Pelayanan Keperawatan Medik RSUD SMC Kabupaten Tasikmalaya Adi Widodo menambahkan, biasanya pasien TB resistant diuji klinis dan dicek dahaknya untuk mengecek kondisinya. “Ada khusus alat cek dahak pasien yang diperiksa. Gejalanya batuk selama tiga minggu, panas keluar keringat malam dan mudah naik dan turun suhu badannya,” kata dia.

Kepala Bidang (Kabid) Keperawatan RSUD SMC Kabupaten Tasikmalaya Mulyana Darsana MM mengatakan, kalau ada pasien TB resistant yang dalam satu rumah positif, itu orang serumah harus ikut diperiksa. “Makanya kita harapkan ada peran pro aktifnya dari masyarakat, jangan malu-malu jika ada keluarganya yang mengidap TB, karena obat TB ini gratis,” ujarnya, menjelaskan-. (dik)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.