Pengorbanan yang Tak Sia-Sia

7

RAIHAN emas Defia Rosmaniar dari cabor taekwondo nomor poomsae putri merupakan hasil kerja kerasnya selama ini. Apa yang dia peroleh hari ini adalah buah perjalanan panjangnya berlatih dengan tekun.

Pengorbanan dia untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa ini membuat kami semua tim pelatih mengapresiasinya. Yang paling mengharukan, Defia harus rela kehilangan momen terakhirnya dengan sang ayah.

Kamis, 19 April 2018, ayahnya meninggal dunia. Karena alasan kemanusiaan, Jumat kami pulang dari Korea Selatan meski tahu bahwa ayahnya sudah dikuburkan.

Kami tiba tengah malam. Sabtu Defia pergi ke makam ayahnya. Dan hebatnya, Minggu dia sudah kembali berlatih dengan semangat yang tinggi. Kami semua sangat terharu dengan pengorbanannya.

Sejak 2012, Defia yang saat itu masih junior menjadi andalan kita. Bakatnya sudah terlihat. Pada gelaran SEA Games 2013, Defia mampu meraih dua medali perunggu di nomor beregu putri dan campuran poomsae.

Kemudian, pada 2017, Defia meraih medali perak di ajang Asian Indoor and Martial Arts Games di Turkmenistan. Tahun itu Defia juga berprestasi dalam SEA Games di Malaysia.

Dan, kini dia mendapat puncaknya dengan memperoleh emas. Saya pastikan hasil itu diperoleh dengan sangat objektif. Saya membantah jika ada anggapan campur tangan subjektivitas juri. Sebab, semua bisa melihat apa yang ditampilkan Defia saat pertandingan.

Defia juga menjadi bukti kesuksesan dari upaya perbaikan yang dilakukan Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI). Seperti diketahui, emas dari cabang taekwondo di Asian Games merupakan yang pertama.

Prestasi terakhir yang dipersembahkan taekwondo di ajang Asian Games pun sudah lama. Yakni, perunggu pada 2010.

Saya masih ingat, kali pertama masuk tim pelatih pada 2012, kami mulai melakukan pembinaan atlet junior dengan lebih serius. Maklum, saat ini pelatnas masih didominasi atlet senior.

Kami berkomitmen mem-pelatnas-kan atlet junior. Defia termasuk. Lalu, puncaknya, pada 2014 tim pelatih merombak komposisi secara besar-besaran. Semuanya untuk atlet junior.

Saat kami melakukan persiapan untuk SEA Games 2015, banyak pertanyaan. Baik dari deputi IV Ke menpora, Sesmenpora, maupun Satlak Prima. Mereka bertanya, kenapa si A tidak dimasuk kan, kenapa si B tidak dimasukkan.

Tapi, kami tetap jalan terus. Kami sadar akan membina untuk jang ka panjang. Toh, di SEA Games 2013, prestasi atlet senior juga tidak bagus-bagus amat.

Saya mau memandang ke depan. Pada 2015 kita dapat dua emas SEA Games, lalu berlanjut di SEA Games 2015 dan 2017. Tujuan utamanya, anak-anak itu bisa berprestasi sampai Asian Games ini karena kita tuan rumah. Dan alhamdulillah, kita bisa dapat emas.

Tahun depan kami berharap bisa meloloskan atlet untuk Olimpiade 2020 di Tokyo. (Disarikan dari hasil wawancara oleh wartawan Jawa Pos Folly Akbar/c11/tom)

*) Manajer Tim Taekwondo Indonesia

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.