Pengrajin Kerai Bambu di Cigalontang Tasik Tetap Bertahan, Dulu Dijual ke Mancanegara..

50
0
MEMBUAT KERAI. Pengrajin kerai di Kampung Bantardahu Desa Nangerang Kecamatan Cigalontang membuat anyaman kerai yang dijual ke Jakarta dan Bali, Minggu (31/1/2021). RADIKA ROBI RAMDANI / RADAR TASIKMALAYA
Loading...

CIGALONTANG – Kabupaten Tasikmalaya memiliki berbagai macam kerajinan yang sudah diterima pasar nasional bahkan mancanegara. Termasuk kerajinan kerai bambu asal Cigalontang pun banyak peminat dari pasar luar negeri.

Kerajinan bambu yang dibuat di Kampung Bantardahu RT/RW 16/06 Desa Nangerang Kecamatan Cigalontang Kabupaten Tasikmalaya sejak dulu sudah tembus pasar mancanegara, karena kualitasnya sudah diakuim namun sekarang hanya mampu membutuhi pasar lokal.

Abdul Rojak (55), salah satu pengrajin kerai mengatakan ingin menggugah kembali para kelompok pengrajin yang sudah lama vakum, padahal jika konsisten digeluti cukup menjanjikan juga. Apalagi kerai ini sudah banyak diminati oleh pasar mancanegara.

Baca juga : 888 Nakes RSUD Kota Tasik Divaksin Covid-19

Kemudian, kerjainan ini harus terus dilestarikan, karena merupakan warisan turun temurun dari nenek moyang.
Memang kerai ini kerjinan yang sudah lama ada, namun pengrajin harus mengikuti zaman dalam membuat kerai. Dengan berbagai motif yang kekinian, sehingga bisa diterima oleh berbagai kalangan.

loading...

“Coraknya sekarang beragam, mulai dari corak bakar, polos dan ada juga ukuran kecil. Jadi sekarang tidak hanya membuat lampit saja, melainkan juga dapat digunakan untuk hiasan dinding. Dengan demikian, saat ini banyak kreativitas pengrajin yang dikembangkan dengan membuat berbagai macam corak,” ujarnya, menjelaskan.

Toha (52), pengrajin kerai lainnya menyebutkan kerajinan ini sejak dulu sudah ada. Pengrajin di Dusun Bantardahu dari dulu sampai saat ini belum berhenti memproduksi serta sekarang itu banyak motif-motif yang dikembangkan.

“Bahan kerai tersebut ada yang dibuat alas panas, ada yang dibuat taplak meja, alas piring dan berbagai macam jenis. Sementara itu, untuk masalah motif bisa bakar belang, bakar rata, ada juga polos,” kata dia.

Menurutnya, zaman dulu ketika kerai belum ada motif sekitar tahun 2005 lalu, selain menjual ke daerah Jakarta seperti ke daerah pasar raya juga ekspor ke luar negeri. Di antaranya ke Bulgaria, Amerika, Nigeria, Belgia dan lainnya.

“Kondisi saat ini dalam masa pandemi Covid-19 penjualan ke luar negeri itu cukup sulit sekali, ditambah bahan bakunya susah didapat. Sekarang hanya menyentuh daerah Karawang, Jakarta dan Bali. Harapannya bisa jual lagi ke luar negeri,” katanya.

Soal harga, kata dia, saat ini dia menjual kerai ulai dari Rp 25.000-Rp 300.000 disesuaikan dengan ukuran.

“Saat ini, saya membuat sendiri apabila ada pesanan. Beda dengan dulu itu ada tengkulaknya. Jadi hasil kerajinan ditampung tengkulak untuk disalurkan ke daerah-daerah bahkan luar negeri,” kata dia. (obi)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.