Pengunduran Bupati Indramayu karena Persoalan Keluarga

59
0
Loading...

JAKARTA – Alasan pengunduran diri Anna Sophanah sebagai Bupati Indramayu terjawab sudah. Di hadapan Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tjahjo Kumolo, Anna menegaskan dirinya meninggalkan jabatan sebagai kepala daerah semata-mata karena persoalan keluarga.

Ia membantah jika proses pengundur dirinya karena terkait dengan persoalan hukum yang sementara berproses di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Sambil menahan tangis, Anna mengatakan selama menjadi Bupati dua periode banyak menyita waktu untuk keluarga. Bahkan, ketika sang ibu (Hj. No’anih) meninggal dunia, Anna tidak berada disamping almarhumah. Kejadian itu meninggalkan penyesalan berkepanjangan.

Diakhir hayat sang ibu, Anna tidak bisa mendampingi karena tengah bertugas keluar daerah. Peristiwa seperti ini yang tidak ingin terjadi kembali terhadap ayahnya, Ahmad Ajiddin yang juga mulai sakit-sakitan.

“Saya mohon maaf seluruh masyarakat Indramayu, terutama para pendukung. Pada periode pertama saya masih bisa melaksanakan tugas dengan baik, kemudian masuk pada periode kedua terus terang saya tidak bisa membagi waktu. Karena pertama, ketika ibu saya sakit. Ketika ibu saya sakit kemudian meninggal, ini meninggalkan penyesalan yang berkepanjangan. Banyak sekali keinginan keinginan beliau yang belum bisa saya penuhi secara pribadi. Kemudian sekarang bapak juga sakit. Tidak ada kaitan sama sekali dengan kasus hukum,” kata Anna sambil menahan tangis.

Loading...

Pasca sang ibu meninggal dunia, Anna merasa sangat kehilangan dan penyesalan yang mendalam. Olehnya itu, peristiwa tersebut tak ingin kembali terjadi kepada sang ayah.

Sebelum mengajukan pengunduran secara resmi, Anna sempat berdiskusi dengan keluarga besar dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengambil keputusan. Namun, pada akhirnya keluarga sepakat dan menerima keputusan Anna.

“Setelah ibu meninggal seperti ada yang hilang, semangat hilang ditambah lagi sekarang bapak sendiri. Dan sangat membutuhkan perhatian dari saya. Sehingga kami berunding dengan keluarga dan kami memutuskan untuk saya mundur. Dan ini membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memutuskan mundur. Saya takut kehilangan bapak sama seperti ketika ibu meninggal,” ujarnya.

Setelah keluarga sepakat, Anna kemudian menyampaikan niatnya itu kepada partai-partai yang mendukung maupun mengusungnya.

Meski masih sebatas pemberitahuan secara lisan. Ia mengaku, baik partai pendukung maupun partai pengusung pasti merasa kecewa dengan langkah yang diambil.

“Secara lisan sudah (disampaikan ke partai). Tapi kami akan bicara lagi dengan partai pendukung dan pengusung. Saya yakin mereka kecewa. Tapi ketika mendengar apa yang saya sampaikan, Alhamdulillah mereka juga menerima,” paparnya.

Bahkan, proses pengunduran diri melalui rapat paripurna di DPRD Kabupaten Indramayu terbilang cukup cepat. Tidak ada pro dan kotra dalam proses pengambilan keputusan.

Mulai dari proses awal hingga paripurna semua satu suara, sepakat menerima alasan bupati. Untuk penunjukkan Wakil Bupati, Anna mengaku akan menyerahkan semua sepenuhnya kepada partai koalisi.

“Semuanya bulat menerima. Karena prosesnya dari pandangan fraksi hingga paripurna semua sepakat menerima pengunduran diri bupati. Saya serahkan kepada partai koalisi untuk penunjukkan wakil bupati. Prosesnya tidak ada intervensi dari pihak lain,” urainya.

Dalam kesempatan itu, Anna mengatakan, memang selama menjabat selama dua periode, masih banyak program-program yang belum terselesaikan.

Akan tetapi, ia mengaku beberapa program lainnya seperti infrastruktur dan pendidikan juga sudah bisa dirasakan masyarakat Indramayu.

Ia meyakini, Supendi selaku Wakil Bupati Indramayu saat ini yang sejak periode pertama mendampinginya bisa menuntaskan apa yang belum terselesaikan.

“Sebetulnya kalau program menurut kami masih banyak yang belum selesai. Tapi juga ada yang sudah bisa dirasakan oleh masyarakat. Saya yakin pengganti saya bisa menyelesaikan,” ujarnya.

Secara spesifik, infrastruktur yang dimaksud terutama pembangunan jalan di Indramayu. Menurutnya, dengan pembangunan jalan yang bagus akan semakin meningkatkan pertumbuhan terutama dari sisi ekonomi.

Dan untuk pembangunan jalan sangat dibutuhkan masyarakat Indramayu. Selanjutnya, masalah pendidikan, Anna yang sejak awal ingin merubah image Indramayu sudah mulai berubah dengan slogan yang diusung Randa Cilik Turunan Indramayu (RCTI).

“Karena saya berfikir jalan sangat dibutuhkan masyarakat Indramayu. Dan dengan jalan yang bagus, saya berfikir pertumbuhan juga akan bagus. Sehingga kami prioritaskan jalan. Pendidikan juga. Tadi saya sempat berbincang-bincang dengan Pak Dirjen bagaimana Indramayu dulu dan sekarang. Kemudian kami merubah image Indramayu yang dulu dikenal dengan RCTI, sudah berubah. Membaca Al-Quran sebelum bekerja bagi karyawan/karyawati. Kemudian juga karyawati dengan siswi itu menggunakan kerudung. Ini semata-mata ingin merubah image Indramayu,” ungkapnya.

Hasil pertemuan dengan Mendagri, lanjut Anna pada prinsipnya proses pengunduran diri sudah diterima. Hanya saja, kata Anna, selama SK pemberhentian belum keluar, Anna diminta tetap menjalankan tugas-tugasnya sebagai Bupati, ttermasuk proses penandatanganan APBD Perubahan yang saat ini tengah berlangsung.

“Alhamdulillah Pak Menteri menerima dengan baik dan semoga prosesnya lancar dan tidak ada masalah. Sebelum SK keluar saya tetap akan bertugas sampai SK keluar, termasuk penandatanganan APBD,” urainya.

Anna berpesan kepada seluruh masyarakat Indramayu agar proses pengunduran dirinya tidak sampai menjadi polemik. Ia meminta kepada seluruh masyarakat untuk bersama-sama tetap menjaga Indramayu agar tetap kondusif, nyaman dan aman.

Ia menegaskan, meski sudah mengundurkan diri, bukan berarti dirinya melepas tanggungjawabnya sebagai kepala daerah maupun sebagai masyarakat biasa nantinya.

“Saya menyampaikan permohonan maaaf kepada masyarakat Indramayu terutama pada pendukung. Tetapi, bukan berarti saya melepas tanggungjawab.  Karena alasan tadi betul-betul saya rasakan. Kemudian terima kasih atas dukungannya selama saya memimpin Indramayu. Karena saya berpikir sehebat apapun, sebagus apapun program tidak didukung oleh seluruh lapisan masyarakat tidak akan berjalan dengan baik. Dan saya mohon kepada masyarakat mohon doa agar keputusan yang kami ambil diridhoi,” ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Otonomi Daerah (Otda) Kemendagri, Soni Sumarsono mengatakan, proses pengunduran diri Bupati Indramayu di Kemendagri akan diproses 14 hari setelah surat resmi hasil paripurna DPRD Indramayu diterima melalui Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil. Terlebih lagi proses yang berlangsung dari pandangan fraksi-fraksi hingga proses paripurna DPRD tidak ada pro kotra.

“Hari ini status pengunduran diri itu suratnya sudah disampaikan kepada Pak Gubernur, mungkin sedang disiapkan surat ke Mendagri. Karena paripurna sudah selesai dan seluruh fraksi partai bulat memberikan persetujuan. Tidak ada pro kontra. Ini adalah paripurna tercepat. Karena semua sudah oke. Sehingga tidak ada masalah di internal, karena memahami persoalan keluarga. Yang dimonitor sekarang kapan pak gubernur bersurat ke Mendagri terkait dengan surat pengunduran diri bupati,” ungkapnya.

Meski proses pengunduran diri Anna sudah diproses dan mendapat persetujuan DPRD. Tetapi, untuk status Anna masih tetap sebagai Bupati dan tetap menjalankan tugas-tugasnya sebagai kepala daerah.

Status Anna akan berakhir sebagai Bupati pada saat Mendagri sudah menerbitkan SK pemberhentian dan sudah diterima oleh Anna. Serta penerbitan SK penunjukan Wakil Bupati, Supendi sebagai Pelaksana Tugas (Plt).

“Ukuran berhenti secara formal sejak SK itu diterima. Ketika berhenti maka secara otomatis akan diberi penegasan oleh Pak Menteri bahwa wakil bupati melaksanakan tugas sebagai Plt Bupati sampai dilantiknya bupati definitif. Karena prosesnya paripurna lagi di DPRD untuk kemudian mengangkat posisi wakil menjadi bupati pada saat SK bupati turun,” pungkasnya.

Hal senada juga disampaikan Mendagri, Tjahjo Kumolo. Untuk mengesahkan pengunduran diri Anna Sophanah sebagai Bupati, pihaknya tetap akan menunggu surat keputusan Paripurna DPRD beserta lampiran dan surat Gubernur.

“Kami tunggu saja surat keputusan paripurna dengan lampiran dan risalahnya. Tentunya kan ada surat resmi dari DPRD bahwa Bupati mundur. Karena nantinya proses penggantiannya dari partai pengusung dan pendukung,” singkatnya.

(HRM/FIN)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.