Pengunjung ke Dadaha Kota Tasik Dihadang Petugas

112
0
BERJAGA. Petugas berjaga di sekitar jalan sport center Dadaha.

TASIK – Dalam upaya mencegah penularan Covid-19 di Kota Tasikmalaya. Tim Operasi dari Satgas Penanganan Covid-19 pun terus melakukan penertiban kerumunan di sejumlah kawasan kerumunan.

Kemarin (27/12), Satgas mulai menertibkan kerumanan secara tegas. Hal itu terlihat di kawasan Dadaha yang setiap Minggu banyak dikunjungi warga berolahraga.

Melalui pengeras suara, pe­tugas “mengusir” mereka dengan kalimat “Kami Imbau untuk Segera Pulang dan Berolahraga di Rumah,” dari kawasan Dadaha karena pusat olahraga itu sementara ditutup.

Petugas pun mengatakan bahwa penyebaran Covid-19 sudah terdeteksi di Kompleks Olahraga Dadaha. Sehingga mereka meminta warga untuk tidak beraktivitas di wilayah tersebut.

Kepala UPTD Pengelola Komplek Dadaha Dadi Sopardi mengatakan setiap hari melakukan penertiban. Namun ada saja warga yang datang untuk berolahraga setiap hari.

“Yang nakal ada saja, tapi setiap hari kita tertibkan,” terangnya.
Dia berharap masyarakat khususnya yang bisa berolahraga di Dadaha agar bisa paham.

Baca juga : Bawaslu Kabupaten Tasik Sudah Kantongi Keputusan Soal Petahana

Pihaknya melakukan tersebut demi mencegah penularan Covid-19 sebagaimana anjuran pemerintah kota. “Tapi sulit juga menyadarkan warga untuk disiplin,” pungkasnya.

Sebelumnya, Kepala Disporabudpar, Hadian menyebutkan penutupan itu merupakan tindak lanjut dari SE dari Satgas Penanganan Covid-19 Kota Tasikmalaya. Pihaknya menutup akses fasilitas olah raga yang ada di kawasan itu.

“Saat ini sudah kita tutup seperti GOR dan yang lainnya,” ujar dia kepada Radar, Rabu (23/12).

Hal ini diakui berdampak kepada aktivitas masyarakat yang terhenti. Mereka yang biasanya bisa berolahraga menggunakan fasilitas di sana menjadi terkendala. “Namanya dampak pasti ada, tapi mau bagaimana lagi,” terangnya.

Selain itu, gedung-gedung pun saat ini sudah tidak bisa digunakan untuk kegiatan even. Karena dikhawatirkan memicu kerumunan. “Kegiatan-kegiatan di gedung dan di lapang upacara sudah tidak bisa,” katanya.

Pantauan Radar, masyarakat masih bisa keluar masuk di lingkungan Dadaha. Terkait itu, Hadian menjelaskan bahwa hal itu karena kawasan Dadaha berdampingan dengan pemukiman. “Karena seperti lalu lintas dan akses warga di pemukiman sekitar Dadaha tidak bisa ditutup juga,” terangnya.

Terpisah, Humas Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Tasikmalaya Harniawan Obech menilai penutupan Dadaha tersebut tidak jelas. Karena yang dihentikan seolah aktivitas olahraganya saja.

“Sementara yang nongkrong-nongkrong beberapa kali masih kelihatan,” ujarnya.

Sementara, lanjut dia, para atlet jadi kesulitan untuk melakukan latihan. Termasuk dia dan rekan-rekannya di Federasi Arum Jeram Indonesia (FAJI) kesulitan untuk mengambil sarana dan prasarana latihan.

“Latihan kita memang di sungai, tapi peralatannya dikunci di GGM,” katanya.

Menurutnya, penutupan Dadaha itu salah kaprah, penutupan se­harus­­nya lebih utuh. Bahkan jika bisa ada pengecualian bagi atlet untuk melaku­kan latihan. “Ini kan terbalik, yang nong­krong masih bisa sementara atlet tidak bisa latihan,” pungkasnya.

#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitanganpakaisabun (rga)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.