Beranda Umum Pengurugan Lahan di Jalur HZ tak Berizin, Warga Keluhkan Kondisi Jalan

Pengurugan Lahan di Jalur HZ tak Berizin, Warga Keluhkan Kondisi Jalan

196
BERBAGI
ilustrasi IMB

KOTA TASIKMALAYA – Aktivitas pembangunan di Kelurahan Tugujaya tepatnya jalur dua HZ Mustofa Kota Tasikmalaya dikeluhkan pengendara dan warga sekitar.

Pasalnya, lalu-lalang truk pengangkut berangkal ke lokasi kegiatan menimbulkan kemacetan, debu dan ceceran tanah.

Pengendara motor, Edwin Fardiansyah (29) mengeluhkan debu dan pasir serta bebatuan yang tumpah ke jalan tersebut belakangan ini.

Terutama saat melintasi dari arah Padayungan menuju Nagarawangi. “Ya licin ke ban motor. Pasir, kadang tanah merah juga. Serta berdebu. Ini kan jalur utama ya, idealnya aktivitas cari jalur lain untuk lalu-lalang kendaraan besar,” ujarnya kepada Radar, Jumat (06/04/2018).

Pedagang di sekitar lokasi pengurukan, Wiwin (48) menyatakan sudah sekitar dua minggu terdapat pekerjaan di wilayah tersebut. Di sana kerap keluar masuk kendaraan yang menyebabkan debu dan ceceran pasir atau tanah di jalan.

“Infonya mau dibuat mall atau apa gitu. Kita juga kurang tahu sebab tidak ada informasi yang jelas,” ungkapnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tasikmalaya, H Dudi Mulyadi mengatakan, pihaknya mendengar informasi lokasi tersebut akan dijadikan sebuah pusat perbelanjaan atau dealer kendaraan.

Tetapi, saat ini belum ada izin atau komunikasi dari pihak penanggung jawab kegiatan terkait dampak yang telah ditimbulkan di Jalan HZ Mustofa belakangan ini.

Menurutnya, meskipun di lahan itu belum ada aktivitas pembangunan, izin lingkungan harus tetap ditempuh.

Lantaran sudah mengubah kondisi existing suatu lahan baik melalui pengurukan atau aktivitas lainnya.

“Iya kami dengar informasi ada aktivitas di wilayah HZ Mustofa. Memang belum ada izin atas kegiatan yang ditimbulkan. Itu bisa diikat atau dijerat lewat Izin Lingkungan karena telah mengubah kondisi existing,” tuturnya.

Dia menjelaskan aktivitas tersebut tentunya memengaruhi beragam aspek di sekitar lokasi. Mulai dari dampak sosial, gangguan kemacetan lalu lintas, kebisingan, debu dan lain sebagainya.

“Harus kantongi saja dulu sampai Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Meskipun di sana baru kegiatan pengurukan. Nanti kan ada rekomendasi dari dinas teknis agar kegiatan itu bisa diminimalkan dampak lingkungannya,” imbau Dudi.

Pihaknya sudah berkomunikasi dengan Satpol PP supaya melakukan peneguran. Meski belum ditempuh secara tertulis, dia pun menyarankan terlebih dahulu aktivitas dihentikan sebelum mengantongi izin.

“Semua jenis kegiatan harus ada Dokumen amdal atau UKL-UPL,” tegas dia.

Sementara, ketika Radar akan mengonfirmasi ke tempat pengurukan, lokasinya ditutup pagar. Tidak ada siapa pun yang dapat memberikan keterangan. Dari informasi warga, pekerja tengah berlibur pada hari Jumat.

(igi)

Facebook Comments

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.