Penilaian Pendidikan di Daratan China, Hongkong dan Taiwan

79
Oleh: Hetty Patmawati MPd

Pendidikan di China, Hongkong dan Taiwan dikendalikan oleh pemerintah. China secara Tradisional berorientasi pada ujian. Pemerintah di China, Hongkong dan Taiwan memulai meningkatkan kualitas pengajaran dan pembelajaran melalui penggunaan Assessment for Learning. China, Hongkong dan Taiwan memulai reformasi penilaian berskala nasional untuk mengatasi budaya ujian yang tertanam kuat. Praktik penilaian di sekolah dipimpin guru dengan penekanan yang kuat untuk membuat siswa menunjukkan pengetahuan faktual. Penilaian digunakan untuk mendiagnosis siswa telah berhasil dan tidak berhasil.

Perjalanan Assessment for Learning di China

Selama ribuan tahun, orang-orang China telah terbiasa dengan ujian dan secara budaya menerima ujian beresiko tinggi sebagai sarana untuk menentukan prospek masa depan mereka selama berabad-abad, tes sumatif sering digunakan di sekolah-sekolah sebagai satu-satunya metode penilaian untuk membuat penilaian pada kinerja siswa dan ujian dari pemerintah yang biayanya mahal yang digunakan untuk membuat keputusan atas pendidikan dan mobilitas sosial. Contohnya di Indonesia yaitu UN, SBMPTN, tes CPNS dan TOEFL.

Merujuk pada dua buku kuno Tiongkok The Book of Rites dan The Book of Learning mencatat bahwa dalam periode Warring State (475 SM–221 SM), para siswa diminta untuk mengikuti ujian pada akhir tahun-tahun sekolah, satu, tiga, lima, tujuh dan sembilan. Ujian ini memiliki fokus penilaian yang berbeda di setiap tahun nya. Tahun pertama berkonsentrasi pada penilaian kemampuan membaca siswa. Tahun ketiga berkonsentrasi pada sikap belajar dan kemampuan sosial. Tahun kelima berkonsentrasi pada aspek yang menunjukkan berbagai pembelajaran dan sikap terhadap guru. Tahun ketujuh berkonsentrasi pada kemampuan menyajikan argumen yang sehat selama diskusi dan dalam mengenai pencapaian orang lain. Tahun terakhir berkonsentrasi pada penalaran, harga diri dan kemampuan untuk mengambil lebih jauh apa yang telah diilhami oleh guru. Sehingga pada akhir dari 9 tahun belajar, para siswa diharapkan dapat menunjukkan kemampuan pemahaman yang baik tentang berbagai jenis keterampilan dan kualitas moral disamping pengetahuan yang mereka pelajari dari guru-guru mereka.

Dilihat dari fokus ujian, pendidikan di masa-masa awal ini tampaknya terkait dengan pengembangan pribadi utuh. Namun hingga saat ini, penilaian tidak digunakan untuk mendukung pembelajaran. Di tingkat nasional, ada banyak perubahan dalam kebijakan pemerintah selama 3.000 tahun terakhir, ujian telah berfungsi sebagai instrumen utama untuk membuat keputusan tentang peluang pendidikan dan pejabat pemerintahan. Banyak dinasti di China, mengikuti sistem ujian dalam tiga tahapan kekaisaran yaitu ujian lokal, ujian regional dan akhirnya ujian tingkat tertinggi yang dilakukan pemerintah pusat. Abad ke-19, Dinasti Qing mulai melakukan perubahan besar pada sistem penilaian, ujian kekaisaran dihapuskan diganti dengan ujian nasional tiga tingkat yaitu Sekolah Dasar, Menengah dan Menengah Atas.

Sekolah mengelola lima jenis tes yaitu tes non-regular, selama jangka waktu, ujian tengah, ujian akhir tahun, ujian pasca sarjana dan ujian masuk pendidikan lebih lanjut assessment for learning, membuat penampilan sekilas di China setelah PD II mengalami perubahan metamorfik. China memodelkan sistem pendidikan dan kebijakan penilaiannya pada Uni Soviet (Feng, 2006)

Ada enam domain untuk menilai siswa yaitu pengetahuan dan keterampilan, tingkat pemahaman, keberlanjutan pengetahuan, aplikasi pengetahuan, keterampilan presentasi tertulis dan lisan.

Tahun 1993, kebijakan baru dalam perbaikan kebijakan dan praktik penilaian. Ada dua reformasi penilaian yaitu satu berdampak pada pendidikan menengah atas dan yang lain pada pendidikan dasar. Sistem penilaian baru untuk mengatasi aspek pengembangan seluruh siswa, pertumbuhan professional guru, dan pengembangan kurikulum.

Perjalanan Assessment for Learning di Hongkong

Sistem penilaian yang beroperasi di Hongkong telah lama dikritik karena sangat berorientasi pada ujian. Ujian di Hongkong merupakan ujian untuk umum yang biayanya mahal, menjadi kunci mobilitas sosial melalui akses ke pendidikan tinggi dan peluang kerja yang ditingkatkan. Banyak sekolah yang mempersiapkan siswa untuk melewati sistem dengan melatih mereka dengan kertas ujian dan mengujinya tanpa henti.

Di Hongkong selama bertahun-tahun, pendidikan telah mendasarkan praktik penilaian mereka pada asumsi yang tidak tepat diadopsi dari psikologi dan dari pendirian pengujian. TOC (the target oriented curriculum) pada tahun 1990 adalah bentuk pendidikan berbasis nilai dimana siswa berkembang menuju target pembelajaran yang telah ditentukan melalui melaksanakan tugas. Metode TOC adalah mengumpulkan informasi tentang hasil belajar siswa selama proses pembelajaran. Bentuk penilaian TOC adalah mengharuskan guru mencatat hasil belajar siswa dengan sangat rinci, guru merasa sulit untuk menangani dan terlalu memakan banyak waktu dalam melaksanakannya

Pengembangan kurikulum Hongkong 2009, penilaian merupakan bagian integral dari kurikulum, pedagogi dan siklus penilaian. Babak reformasi penilaian baru, keduanya digunakan sebagai instrumen untuk mendorong maju Assessment for Learning. Penilaian kompetensi dasar untuk pendidikan dasar dan sekolah menengah pertama. Penilaian berbasis sekolah untuk pendidikan menengah

Reformasi Penilaian Multivariat di Taiwan

Seperti Daratan China dan Hongkong, Taiwan memiliki budaya ujian yang mengakar. Mengalami lima bentuk pemerintahan. Pendudukan Belanda dan Spanyol, Pendidikan secara sengaja dikaitkan dengan pemberitaan agama dan konsolidasi kekuasaan kolonial. Dinasti Ming dan Qing, pendidikan difokuskan pada mempersiapkan siswa untuk ujian kekaisaran yang memiliki tujuan utama dalam memilih pejabat pemerintah. Pendudukan Jepang, pendidikan dan sistem ujian terkait hampir berhenti total.

Setelah kekalahan Jepang pada PD II dan perang saudara Tiongkok, mendirikan sistem pendidikan dengan sistem tiga lapis, primer, sekunder dan pendidikan tinggi. Paper and pencil tes digunakan untuk ujian publik dengan biaya mahal. Reformasi penilaian multivariat merupakan elemen kunci dari penilaian. Intinya untuk tidak menekan penggunaan tunggal dari paper and pencil tes tradisional dan untuk mendorong diversifikasi penilaian. Reformasi penilaian di Kaoshung 1996, fokus pada desain item untuk ujian publik sekunder yang lebih tinggi, yang mengadopsi prinsip bahwa rancangan butir soal mampu menantang perspektif pembelajaran siswa yang berbeda. Di Taipei tahun 2001, reformasi kurikulum berskala nasional Kurikulum 9 Tahun dalam pendidikan dasar dan menengah. Di Tainan 2008, membutuhkan perubahan dalam penilaian kelas. Penggunaan multidimensi untuk belajar dan mengajar.

Bagaimana dengan Assessment for Learning di Indonesia?

Jika dibandingkan dengan China, Hongkong dan Taiwan, di Indonesia setiap semester di setiap tahunnya penilaian berfokus pada tiga aspek yaitu pengetahuan, keterampilan dan sikap dari peserta didik. Tahun pertama atau kita sebut dengan kelas satu SD, maka fokus penilaian pada kompetensi peserta didik yang ada pada semester satu dan dua di kelas satu sekolah dasar, dilihat dari semua aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap nya. Jadi tidak fokus pada aspek-aspek lain. Begitu juga di kelas dua, tiga, empat, lima dan enam. Barulah di akhir kelas enam, kita mengadakan ujian akhir sekolah (UAS) Berbasis Nasional. Kelas tujuh, delapan dan juga kelas Sembilan pun, penilaian difokuskan pada aspek ketiga tadi yaitu pengetahuan, keterampilan dan sikap. Di akhir kelas Sembilan setiap peserta didik diwajibkan untuk mengikuti ujian nasional (UN) SMP. Sama halnya dengan tingkat SMA, di akhir kelas dua belas, diwajibkan mengikuti UN. (*)

Dosen Pendidikan Matematika Universitas Siliwangi Tasikmalaya

Mahasiswa Program S3 Pendidikan Dasar UPI Bandung

loading...
BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.