Penjualan Alkohol Harus Diperketat

3

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

BUNGURSARI – Penyalahgunaan alkohol, terutama berdosis 70 persen telah banyak makan korban. Bahan pembasuh luka itu dijadikan bahan miras oplosan. Sejak Januari-September 2018, 10 orang lebih meninggal akibat minuman tersebut.

Publik mengharapkan pemerintah lebih mengawasi penjualan alkohol 70 persen. Harus lebih ketat. Jangan sampai ada korban jiwa lagi.

Ulama Tasikmalaya Ustaz Muhammad Yan-yan Albayani SKomI MPd prihatin atas kasus overdosis oplosan di Tasikmalaya. Itu jangan dianggap sepele. “Sangat miris. Lagi-lagi terjadi,” ungkapnya kepada Radar Kamis (27/9).

Ustaz Yan-yan meminta peme­rintah jangan diam saja terkait penyalahgunaan alkohol 70 persen. Karena alkohol tersebut sumbernya berasal dari apotek. Tentunya apotek berada dalam pengawasan pemerintah. “Pengawasan apoteknya yang harus diperketat,” ungkapnya.

Ustaz Yan-yan pun menyinggung Perda Tata Nilai Kehidupan Masyarakat Religius di Kota Tasikmalaya. Menurutnya, perda tersebut kurang ditegakkan. Karena tidak bisa dimungkiri bahwa minuman keras u masih beredar.

“Perda itu kan sudah menghabiskan anggaran yang besar. Jangan sampai implementasinya lemah,” tegasnya.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kota Tasikmalaya Eqi S Baehaqi juga prihatin karena korban oplosan sudah merambah ke anak di bawah umur. Menurutnya, ini merupakan tanggungjawab dari orang dewasa supaya lebih awas terhadap apa yang mereka lakukan. “Khususnya orang tua, mereka harus bisa lebih mengawasi anak-anaknya,” terang tokoh muda NU ini.

Penyalahgunaan alkohol 70 persen, karena alkohol merupakan barang yang dijual bebas dan bisa dibeli di apotek. Sehingga tidak bisa masyarakat tidak akan kesulitan mendapatkannya. “Tapi kalau bisa, jangan dikasih kalau yang belinya anak kecil,” katanya.

Sejak Januari hingga September 2018, korban tewas akibat menenggak minuman keras (miras) oplosan di wilayah hukum Polres Tasikmalaya Kota sudah mencapai 10 orang lebih. Namun, banyaknya korban yang kehilangan nyawa ini tidak membuat takut para pemabuk.
“Kalau dihitung-hitung sejak awal tahun ada belasan orang yang meninggal. Total tiga tersangka yang kita proses,” terang Kasat Narkoba Polres Tasikmalaya Kota AKP Hamzah Badaru.

Kasus miras oplosan terakhir terjadi pada Kamis (20/9). Korbannya Ys (14). Remaja ini kehilangan nyawanya setelah berpesta dengan lima pria dewasa. “Selain karena usianya yang masih kecil, korban juga mengonsumsi oplosan itu cukup banyak,” kata Hamzah.

Hasil penyelidikan polisi, awalnya Ys bersama seorang temannya membeli lima botol alkohol 70 persen kemasan 100ml dari ibu rumah tangga asal Padakembang Kabupaten Tasikmalaya berinisial Yn (25). Mereka pun berkumpul di salah satu rumah dan meracik sendiri oplosan tersebut.

Alkohol itu dicampur dengan minuman berenergi.
Usai menenggak barang haram itu kondisi Ys langsung kritis. Pada Kamis malam meninggal dunia. Beberapa temannya sempat drop namun berhasil terselamatkan setelah mendapat penanganan medis.

Setelahnya, polisi langsung mengamankan dan memeriksa Yn, penjual alkohol yang diracik Ys dan kawan-kawan. Ibu rumah tangga ini ditetapkan sebagai tersangka. “Dia bukan pedagang, tapi jualan alkohol yang memang biasa untuk oplosan,” ungkap Hamzah.

Dari kasus ini, polisi mengamankan barang bukti sebanyak enam botol alkohol di rumah Ys, enam botol bekas alkohol dengan teko plastik dan gelas di TKP pesta oplosan.

Tersangka dijerat dengan pasal 204 tentang tindak pidana membahayakan nyawa atau kesehatan orang. “Ancamannya maksimal bisa 15 sampai 20 tahun,” jelas Hamzah.

Sementara, Ys sudah sekitar setahun menjual alkohol 70 persen dan biasa diracik oleh pembelinya menjadi oplosan. Hal itu merupakan ladang usaha ayahnya yang saat ini sudah sakit-sakitan. “Dia meneruskan ayahnya, sekarang ayahnya sakit,” papar Hamzah.

Sementara, alkohol itu dibeli Ys dari apotek dengan harga Rp 145 ribu/boks berisi 24 botol. Tersangka menjual per botolnya Rp 11 ribu. Jika dikalkulasikan laba dari satu boks sekitar 119 ribu. (rga)

loading...