Penumpang Dibatasi 50%, Pengusaha Bus di Ciamis Naikan Tarif

270
1

CIAMIS – Angkutan umum kembali bisa beroperasi di tengah pandemi dan pemberlakuan adaptasi kebiasaan baru (AKB).

Namun, aturan mewajibkan angkutan umum membatasi penumpang hanya 50 persen dari kuota tempat duduk.

Akibatnya, para pengusaha angkutan harus menaikan tarif untuk bisa menutupi kebutuhan operasional.

Baca juga : Ternyata Ngerti Juga, Emak-Emak Warga Cipaku Ciamis Ini Tolak RUU HIP

Hal itu diungkapkan Direktur PT Sinar Aladdin Putra Ciamis Adhi Vieri SH kepada Radar, Minggu (21/6).

“Jadi dengan mengharuskan penumpang 50 persen itu, kita rugi tidak bisa menutup biaya operasional. Apalagi saat ini kondisi penumpang sejak pandemi sangat sepi,” ujarnya.

Loading...

Kata dia, untuk tarif lama seperti Bandung-Purwokerto Rp 80.000, tapi setelah Peraturan Pemerintah No 25 Tahun 2020 keluar, adanya pembatasan penumpang 50 persen itu otomatis ongkos naik.

Namun, kenaikan tarifnya tidak ditentukan batasannya berapa, sehingga banyak pengusaha angkutan naiknya gila-gilaan, karena tampa ada standarnya.

“Kalau kami seperti lebaran paling Rp 150 ribu dari Bandung-Purwokerto, kalau dari Tasikmalaya Rp 100 ribu. Wajar lah segitu mah, karena kan penumpang harus 50 persen. Namun setelah lebaran kami turun lagi ke tarif lama,” paparnya.

Kata dia, diturunkan lagi tarif karena muncul aturan baru bahwa angkutan kota dalam provinsi (AKAP) boleh mengangkut penumpang maksimal.

Sementara aturan sebelumnya penumpang harus 50 persen dari kuota. “Jadi aturan juga yang membingungkan bagi kami, apakah harus mengikuti aturan PSBB atau Kementerian Perhubungan,” katanya.

Lanjut dia, ketika kembali ke tarif lama, sementara di lapangan masih harus menerapkan penumpang 50 persen jelas berdampak terhadap biaya operasional. Apalagi kondisi saat ini masih sepi penumpang.

“Pada intinya kami tegaskan pengusaha sekarang masih bingung, kita mengacunya harus ke mana. Apakah aturan PSBB atau  Permenhub. Jelas kami kebingungan di antara dua aturan itu,” ujarnya, menjelaskan.

Terpisah, Sekretaris Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kabupaten Ciamis  Ekky Brata Kusuma mengatakan, pihaknya tidak mengimbau untuk kenaikan tarif.

Maka dari itu, pengusaha harus menghitung biaya operasionalnya, karena di tengah corona dibatasi penumpang harus 50 persen.  “Contohnya Bus Gapuraning Rahayu (GR) seperti dari Jakarta-Jawa Tengah asalnya Rp 100 ribu menjadi Rp 180 ribu,” katanya.

Baca juga : Mortir Aktif Ditemukan di Kebun Pisang di Cikoneng Ciamis

Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Ciamis Drs H Endang Sutrisna MSi mengatakan, ketika bus kembali beroperasi harus tetap batasan penumpang 50 persen.

“Kami juga tegaskan sampai belum ada kenaikan tarif meski penerapan penumpangnya 50 persen. Memang tidak ada kenaikan tarif, tapi kami tidak pungkiri bisa saja kalau di luaran para pengusaha menaikan tarif,” ujarnya. (isr)

Loading...
loading...

1 KOMENTAR

  1. Kepada dishub ciamis atau siapapun yg berkompeten itu lampu merah di perempatan pom cihaurbeuti udah beberapa bulan mati. Itu tanggung jawab siapa? Apakah anggaran utk itu di refocusing utk covid juga…tolong utk segera diperbaiki karena sangat membahayakan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.