Penutupan Komplek Olahaga Dadaha Kota Tasik Setengah Hati

244
0
DITUTUP. Warga masih terlihat keluar masuk kawasan Dadaha setelah spanduk penutupan dipasang, Rabu (23/12). RANGGA JATNIKA / RADAR TASIKMALAYA

TASIK – Dinas Pemuda dan Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata mulai menutup komplek Dadaha. Namun penutupan tidak dilakukan secara utuh sehingga akses ke Dadaha masih terbuka.

Kepala Disporabudpar, Hadian menyebutkan penutupan itu merupakan tindak lanjut dari SE dari Satgas Penanganan Covid-19 Kota Tasikmalaya. Pihaknya menutup akses fasilitas olah raga yang ada di kawasan itu.

“Saat ini sudah kita tutup seperti GOR dan yang lainnya,” ujar dia kepada Radar, Rabu (23/12).

Hal ini diakui berdampak kepada aktivitas masyarakat yang terhenti. Mereka yang biasanya bisa berolahraga menggunakan fasilitas di sana menjadi terkendala. “Namanya dampak pasti ada, tapi mau bagaimana lagi,” terangnya.

Baca juga : 1 Anggota Geng Motor Pelaku Pembacokan Warga Kalangsari Kota Tasik Ditangkap Polisi

Selain itu, gedung-gedung pun saat ini sudah tidak bisa digunakan untuk kegiatan even. Karena dikhawatirkan memicu kerumunan. “Kegiatan-kegiatan di gedung dan di lapang upacara sudah tidak bisa,” katanya.

Pantauan Radar, masyarakat masih bisa keluar masuk di lingkungan Dadaha. Terkait itu, Hadian menjelaskan bahwa hal itu karena kawasan Dadaha berdampingan dengan pemukiman. “Karena seperti lalu lintas dan akses warga di pemukiman sekitar Dadaha tidak bisa ditutup juga,” terangnya.

Terpisah, Humas Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Tasikmalaya Harniawan Obech menilai penutupan Dadaha tersebut tidak jelas. Karena yang dihentikan seolah aktivitas olahraganya saja. “Sementara yang nongkrong-nongkrong beberapa kali masih kelihatan,” ujarnya.

Sementara, lanjut dia, para atlet jadi kesulitan untuk melakukan latihan. Termasuk dia dan rekan-rekannya di Federasi Arum Jeram Indonesia (FAJI) kesulitan untuk mengambil sarana dan prasarana latihan. “Latihan kita memang di sungai, tapi peralatannya dikunci di GGM,” katanya.

Menurutnya, penutupan Dadaha itu salah kaprah, penutupan seharusnya lebih utuh. Bahkan jika bisa ada pengecualian bagi atlet untuk melakukan latihan. “Ini kan terbalik, yang nongkrong masih bisa sementara atlet tidak bisa latihan,” pungkasnya. (rga)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.