Perajin Kulit Sukaregang Makin Sulit Bersaing

324
0
SULIT BERSAING. Perajin di Sukaregang Kelurahan Kotawetan Kecamatan Garutkota memperlihatkan bahan dasar kulit untuk dijadikan beragam produk, Jumat (5/7).

GARUT KOTA – Sejumlah perajin kulit di kawasan Sukaregang Kelurahan Kotawetan Kecamatan Garutkota kesulitan memasarkan produknya. Terlebih sekarang ini banyak penjual online yang mematok harga di bawah pasaran.

“Kesulitan kami sekarang ini memang dari segi pemasaran. Kalau produk bisa terus ada. Tapi penjualannya cukup sulit,” ujar Rina Maemunah (42), salah satu pemilik toko di kawasan Sukaregang kepada wartawan, Jumat (5/7).

Menurut dia, kesulitan pemasaran itu karena selain harus bersaing dengan ratusan toko yang ada di Sukaregang, pengusaha pun harus bisa bersaing dengan penjual online yang harganya di bawah pasaran. “Memang sekarang kami sudah mulai merambah ke jualan online, tetapi masih belum maksimal,” katanya.

Rina mengakui, bahwa produk kerajinan kulit yang dijual di Sukaregang ini memiliki harga yang tak murah. Namun, harga tersebut dinilai sepadan dengan kualitas barang. Satu jaket kulit dijual mulai dari Rp 850 ribu sampai Rp 2 jutaan.

“Memang suka ada pelanggan yang mengeluh. Tapi kalau sudah tahu kualitasnya, mereka tidak sungkan untuk beli lagi ke sini,” katanya.

Siti Maemunah (35) pemilik toko Agung Leather. Menurut dia, pemasaran hasil kerajinan kulit memang perlu dibantu untuk meningkatkan omzet para pengrajin dan pedagang.

“Makanya pemasaran itu akan sangat membantu penjualan produk. Kalau ikut pameran-pameran, produk kami akan lebih dikenal,” ujar Siti.

Wawancara terpisah, Ketua Asosiasi Penyamak Kulit Indonesia (APKI) Kabupaten Garut, Anay Sukandar mengakui bahwa produk kulit asli Garut ini hanya bisa dijangkau oleh masyarakat kalangan menengah ke atas.

“Sulit bersaingnya di harga saja, produk kulit kami mahal. Beda dengan produk kulit dari Cina, Thailand dan negara Asia lainnya, harganya beda jauh. Sangat murah,” ujarnya.

Seperti contoh, kata dia, harga jaket dari kulit, paling minim dengan kualitas kulit medium itu harganya mencapai Rp 900 ribu dan paling tinggi itu bisa mencapai jutaan.

Berbeda dengan produk fesyen kulit impor dengan barang sama, itu harganya di bawah. “Harga impor itu bisa sampai Rp 300 ribuan harganya,” kata dia. (yna)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.