Perajin Tahu & Tempe Kelabakan

11

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

SUMEDANG – Sejumlah perajin tahu dan tempe di Kabupaten Sumedang, mengeluhkan terus melonjaknya harga kedelai sebagai bahan baku yang kini mencapai Rp 8.000 perkilogram.
Padahal bulan Agustus lalu, harganya masih sebesar Rp 7.400 perkilogram. Dengan terus melonjaknya harga kedelai menurut para perajin tahu di Sumedang Utara, kelangsungan usaha mereka bahkan akan terancam.

Menurut Sugianto, 33, salah seorang pengusaha tahu kuning, tingginya nilai tukar rupiah terhadap dolar yang cukup tinggi sangat dirasakan pedagang tahu dan tempe yang mendalkan bahan baku impor. Bila dolar tidak segera turun, dia memprediksi bakal banyak pengusaha tahu dan tempe yang akan berhenti beroperasi karena modal mereka habis.

“Bayangkan saja harga kedelai setiap bulan naik, bulan Agustus kemarin harga masih Rp 7.400 perkilogram, sekarang naik menjadi Rp 8.000. Yang jadi persoalan harga kedelai terus naik, kami sulit menaikan harga satuan tahu atau tempe,” ungkap Sugianto yang setiap harinya mampu menghabiskan sekitar tiga kuintal kedelai, Selasa (11/9).

Hal serupa disampaikan Titin, 46, pengusaha tempe di Tanjungkerta yang setiap harinya menghabiskan sekitar dua kuintal kedelai. Menurutnya, naiknya harga kedelai bagi pengusaha kecil sangat berdampak. Sebab, keuntungan yang diperoleh sangat kecil berbeda dengan pengusaha besar yang keuntungannya juga lebih besar.

“Omzet penjualan tempe atau tahu sebetulnya tidak menurun, meski harga kedelai tinggi. Karena mungkin tempe dan tahu ini makanan rakyat kecil, namun penurunan pendapatan terjadi pada produsen seperti kami,” ungkap Titin.

Dia mengaku, dengan naiknya harga kedelai ini terpaksa menurunkan ukuran tempe untuk kelangsungan usahanya. Bila tidak maka usahanya akan terancam gulung tikar.

Kondisi serupa juga dilakukan Dodo bandar tempe di Pasar Sumedang yang omzet kedelainya mencapai delapan kuintal perhari dengan jumlah pekerja 60 orang. Semula, meski terjadi kenaikan harga kedelai dari Rp 7.000 perkilogram ke Rp 7.400 perkilogram, dia tidak berupaya memperkecil ukurn tempe. Namun dengan kenaikan harga Rp 600 perkilogram, terpaksa menurunkan ukuran.

“Untuk menjaga agar konsumen tetap bisa membeli ukuran diperkecil, karena kalau menaikan harga akan sangat dirasakan oleh pembeli terutama pedagang warung nasi dan ibu rumah tangga,” ungkap Dodo. (her/fin)

CALEG KITA

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.