Perajin Tempe di Kota Tasik Perkecil Ukuran, Begini Kata Akademsi..

52
0
MENAKAR KEDELAI. Pekerja membuat tempe di salahsatu pabrik di Jalan Ampera, Panglayungan, Rabu (6/1). Saat ini dinilai pengamat menjadi momentum tepat bagi perajin tempe lokal bangkit. Fatkhur Rizqi / Radar Tasikmalaya

TAWANG – Harga kedelai impor melambung tinggi, mestinya menjadi peluang bagi kedelai lokal untuk memgeksiskan diri.

Sebab tanaman kedelai lokal saat ini banyak tersebar di Kabupaten Tasikmalaya atau Priangan Timur yang kualitasnya tidak kalah dengan impor.

Dosen Pertanian Unsil Tasikmalaya, Dr Dedi Djuliansah Ir MP mengatakan berdasarkan observasi yang pernah dilakukannya tentang petani kedelai lokal di Kabupaten Tasikmalaya yaitu Jatiwaras dan Pancatengah cukup bagus. Karena di situ akan menjadi pengembangan penanaman kedelai lokal di Jawa Barat.

“Saya pun mendukung ketika pengembangan penanaman kedelai lokal di lahan-lahan darat bisa terealisasi di Kabupaten Tasikmalaya. Sehingga kita (Priangan Timur, Red) tidak akan kekurangan kedelai lokal yang berkualitas cukup bagus,” katanya kepada Radar, Rabu (6/1).

Menurutnya, ketika kedelai impor naik, kesempatan untuk petani kedelai lokal menjualnya.
Pasti akan bisa memenuhi banyak petani kedelai lokal di Priangan Timur.

Baca juga : MIRIS.. Warga Sukaraja Tasik Tak Kapok 3 Kali Masuk Bui, Biayai 4 Anak dari Mencuri Motor

“Waktu penelitian saya hanya mengambil sampel saja dengan responden 258 petani kedelai lokal. Itu hanya mewakili petani kedelai lokal yang ada di Kabupaten Tasikmalaya saja, apalagi se-Priangan Timur,” ujarnya.

“Misalnya saja untuk Pancatengah banyak yang menanam kedelai lokal sampai 90 hari panen. Sedangkan untuk produktivitasnya mencapai 1,2 ton perhektare lahan datar,” tambahnya.
Tentang harga pun relatif murah untuk kedelai lokal, pada Desember di tingkat petani berkisar Rp 7.000. Sedangkan kedelai impor saat ini harga lebih tinggi.

“Varietas kedelai di Indonesia juga memiliki biji kecil, sedang, dan besar,” katanya.
Sehingga ketika ada mimpi menjadi komoditas utama kedelai lokal untuk kualitas ekspor. Maka harus memiliki negara mana yang suka kedelai Indonesia.

“Kita harus observasi terlebih dahulu untuk mencari segmentasi pasar di negara lainnya, apakah minat dengan produk kedelai Indonesia,” ujarnya.

Selanjutnya, dengan gerakan penanaman kedelai lokal berkualitas ini dengan pengembagan lahan darat di Priangan Timur, seperti Kabupaten Tasikmalaya. Bisa membawa lahan-lahan darat tersebut subur kembali.

“Selain menyediakan stok bahan baku pembuatan tempe, tahu, tauco susu kedelai, kecap, dan lainnya juga bisa penyuburkan tanah. Karena di dalam tanaman kedelai mempunyai bintil akar mengandung rhizobium,” katanya.

Jadi, menurut Dedi, pertanian ini sebagai ujung tombaknya ketersediaan stok pangan. Maka mari manfaatkan kekayaan sumber daya alam ini untuk memenuhi kebutuhan pangan di Priangan Timur.

“Artinya ketika petani surplus kedelai tetapi tidak digunakan bahan baku pembuatan tempe, tahu, dan lainnya, nanti mereka mau makan apa?,”katanya.

Selain itu, keterkaitan kedelai lokal untuk menjadi bahan baku tempe dan tahu masih tanda tanya besar. Ini mestinya tugas bersama agar pengrajin tempe dan tahu menjadi pilihan, karena kini masih memprimadonakan kedelai impor.”Mungkin bentuk rasionalitas mereka (perajin tempe dan tahu, Red),” katanya.

” Misal kedelai lokal dibuat tempe satu kilogram berukuran bisa setengahnya dari kedelai impor. Karena kedelai lokal lebih kecil dibandingkan impor, sehingga bisa mempengaruhi ukuran tempe,” tambahnya.

Sedangkan untuk perajin tahu, mereka memilih kedelai impor karena lebih banyak kandungan saripati daripada kedelai lokal.”Informasi itu saya yang peroleh dari perajin tahu dan tempe,” ujarnya.

Sehingga wajar ketika perajin tempe dan tahu teriak-teriak. Karena mayoritas memakai kedelai impor. “Karena mereka ketergantungan dengan kedelai impor,” katanya.
Menurutnya, saat ini kedelai lokal banyak diminati para pengrajin pembuat tauco, susu kedelai, dan kecap.

Satu diantaranya perajin tempe di Jalan Ampera Kelurahan Panglayungan Kecamatan Cipedes Handi Rosyandi mengatakan walau harga kedelai impor naik, ia tetap menggunakannya. Karena dari kualitas lebih bagus daripada yang lokal.

“Sekarang kedelai impor sudah mencapai Rp 9.100 perkilogramnya) Saya lebih memilih memperkecil ukuran tempe agar bisnis tetap berjalan daripada menggunakan kedelai lokal belum tentu diminati pasar,” ujarnya.

Jadi untuk tiap harinya, membutuhkan kedelai impor sebanyak 1,30 kuintal. Maka karena sekarang sedang naik harga kedelai impornya dikurangi 10 kg.

“Harga jualnya sama dari Rp 1.000, Rp 2.000, dan Rp 7.000. Karena kalau dinaikkan Harga akan daya beli masyarakat,” katanya. (riz)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.