Peran Guru Mempengaruhi Etika Murid

702
0
Oleh; Mega Karelina, Mahasiswi UIN Jakarta

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia peran adalah, perangkat tingkah yang diharapkan dimiliki oleh orang yang berkedudukan dalam masyarakat.

Sedangkan, guru menurut Undang Undang Republik Indonesia No 14 Tahun 2005 Pasal 1 Ayat 1 adalah, pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, dasar dan menengah.

Jadi peran guru adalah seorang pendidik profesional dengan perangkat tingkah yang berkedudukan dalam bermasyarakat.

Paul Suparno (Abidin dkk,2015:6) berpendapat bahwa “peran guru itu ada dua yaitu, Mendidik dan Mengajar”.

Mendidik artinya mendorong dan membimbing siswa agar maju menuju kedewasaan secara utuh.

Oleh karena itu peran guru bukan hanya sebagai sosok yang mengajarkan ilmu kepada murid tapi harus menjadi figur pendidik untuk membangun karakter murid dalam kehidupan sehari hari.

Etika itu sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah, ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak).

Menurut Syaiful Bahri (2010:51) siswa atau anak didik adalah setiap orang yang menerima pengaruh dari seseorang atau sekelompok orang yang menjalankan pendidikan.

Dapat disimpulkan bahwa, etika murid adalah moral (akhlak) yang diperlihatkan oleh orang yang sedang ataupun pernah mengenyam pendidikan.

Hubungan antara peran guru yang dapat mempengaruhi etik murid, sesuai dengan Undang Undang Dasar No 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional.

Jelas sekali dituliskan bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Mengacu pada hal tersebut, bahwa pendidikan menuntut peran guru yang tidak ringan.

Mendidik murid bukan hanya sekadar melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas, tetapi harus berupaya mengembangkan potensi diri, kecerdasan, dan keterampilan murid.

Dalam pendidikan juga terdapat pengembangan unsur kepribadian, akhlak, dan kemampuan pengendalian diri.

Hal ini perlu diketahui dan dipahami oleh para guru sehingga tidak terjebak dalam cara mengajar yang pragmatis, hanya memfokuskan pada kecerdasan semata tanpa memperhatikan pendidikan karakter anak.

Misalnya saja ketika guru memberi tugas ataupun ujian kepada murid, karena mereka tahu bahwa orientasi yang diperlihatkan oleh guru adalah bidang kognitif, maka mereka akan melakukan berbagai cara untuk memperoleh hasil yang maksimal.

Sehingga tidak jarang mereka menghalalkan berbagai cara seperti mencontek atau membeli kunci jawaban.

Sebab mereka ingin memperlihatkan sisi kognitif yang selalu disorot oleh guru dibandingkan dengan sisi psikomotor dan afeksi.

Hal tersebut akan melahirkan murid yang mementingkan pengetahuan dan mengesampingkan etika dan moral.

Selain itu, peranan guru juga dapat mempengaruhi perubahan sikap sosial siswa.

Melalui kegiatan sehari hari di sekolah ia dapat melihat bagaimana interaksi antara guru dengan guru, ataupun antara guru dengan murid. Secara tidak langsung, siswa akan mencontoh perbuatan tersebut.

Sebab mereka meyakini, bahwa guru adalah sosok yang harus dihormati, disegani, serta ditiru segala hal yang dilakukannya.

Contohnya saja jika seorang anak akan berangkat kesekolah, hal yang selalu diingatkan adalah “Kamu harus nurut sama guru yah.”

Hal tersebut terpatri diingatan anak bahwa guru adalah sosok yang menjadi teladan bagi muridnya.

Namun kita harus mengakui bahwa keberhasilan pendidikan kita selama ini baru sebatas cerdas dari sisi kognitif saja, belum di imbangi dengan kecerdasan apektif dan pisikomotor.

Sehingga dampaknya hasil pendidikan belum dapat mewarnai pembangunan demi kemaslahtan secara umum.

Akibatnya kesejahteraan dan keadilan belum dapat dirasakan oleh semua pihak, bahkan muncul berbagai macam permasalahan sosial yang datang dari orang-orang berpendidikan yang hingga saat ini belum menemukan solusi terbaik.

Menyikapi problematka sosial kontemporer saat Iini, muncul sebuah pemikiran bahwa salah satu penyebab problem tersebut dari lemahnya perilaku (akhlak) manusia yang tidak bertanggung jawab.

Contoh nyata dalam kehidupan sehari hari saja, saat ini marak terjadi tawuran remaja, pengedar serta pengguna narkoba remaja, sex bebas dikalangan remaja, geng motor,serta prilaku buruk remaja yang tidak mencerminkan sebagai seorang pelajar.

Seharusnya semakin banyak ilmu yang didapat serta semakin tinggi jenjang pendidikan maka kesadaran untuk beretika harus semakin tinggi pula.

Namun nyatanya, saat ini marak terjadi kejahatan yang dilakukan oleh remaja di bawah umur yang berstatus sebagai pelajar.

Ketika di teliti lebih dalam ternyata tujuan pendidikan nasional yang sesuai dengan Undang Undang nomer 20 tahun 2003 belum sepenuhnya terwujud.

Kebanyakan dari seorang guru hanya mentransfer ilmu pengetahuan sebagai tolak ukur kecerdasan tidak di imbangi dengan pengajaran moral atau etika yang baik dalam kehidupan sehari hari.

Contoh kecilnya saja saat ini ketika kegiatan belajar berlangsung masih banyak murid yang mengacuhkan guru yang sedang menerangan pelajaran dengan kegiatan apapun itu.

Ternyata ketika didalami alasan murid seperti itu karena tidak pernah ditegur, pernah melihat guru bermain gadget saat mengajar, ataupun merasa bisa mengandalkan google.

Ternyata lama kelamaan sikap seperti itu menjadi sifat yang mendarah daging dan melahirkan sikap buruk lainya seperti terlalu berani hingga selalu membangkang karena tidak ada yang ditakuti, berbohong, tidak bertanggung jawab, hingga tidak pernah menganggap serius suatu hal.

Faktanya sudah banyak study kasus yang memperlihatakan buruknya moral orang-orang yang mengaku terpelajar. Misalnya kasus korupsi yang marak terjadi dinegeri ini.

Kasus tersebut bukan dilakukan oleh kalangan biasa, namun dilakukan oleh para politikus yang sudah pasti memiliki catatan pendidikan yang tinggi.

Oleh karena itu, agar kita dapat mencapai tujuan pendidikan nasional sesuai cita-cita bersama berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003, maka guru sebagai tenaga pengajar dan pendidik harus mampu memaksimalkan perannya.

Sehingga akan tercipta murid yang beretika dan memiliki pengetahuan luas sebagai generasi penerus bangsa.

(*)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.