Perang Sang Kapten, Senegal vs Aljazair

22
0
Sadio Mane & Riyad Mahrez

KAIRO – Senegal dan Aljazair akan bertarung di final Piala Afrika 2019, dini hari nanti. Kedua negara yang tengah lapar gelar berharap bintang mereka menunjukkan aksi-aksi terbaiknya di Stadion Internasional Kairo, Kairo.

Di kubu Senegal, mereka akan mengandalkan sang kapten, Sadio Mane. Sejauh ini, penyerang sayap Liverpool itu sudah mengoleksi tiga gol dan punya ambisi besar mempersembahkan gelar Piala Afrika perdana untuk negaranya.

Sejak awal, Sane sudah menegaskan bahwa targetnya datang ke Mesir adalah membawa pulang trofi ke Senegal. Mane bahkan mengatakan bahwa demi piala untuk bangsanya, ia bersedia menukar trofi Liga Champions yang diraihnya bersama Liverpool musim lalu.

“Saya siap menukar gelar Liga Champions dengan Piala Afrika. Pergi ke Dakar dengan trofi akan luar biasa. Itu akan menjadi impian saya yang paling liar,” kata Mane kepada France Football.

Tahun ini adalah tahun terbaik bagi Mane. Selain menjuarai Liga Champions, ia juga mampu menorehkan rekor gol pribadi. Sepanjang musim 2018/2019, ia total mencetak 26 gol. Termasuk 22 gol di Premier League yang mengantarkan menjadi peraih sepatu emas.

Sukses itu jelas ingin disempurnakan Mane. Apalagi, hanya segelintir pemain yang bisa mengawinkan gelar Liga Champions dan Piala Afrika. Selain itu, Mane yang terpaut dua gol dari top skor sementara Odion Ighalo juga akan membuat argumen meyakinkan untuk prospek Ballon d’Or. Hanya George Weah dari Liberia, pada 1995, satu-satunya orang Afrika yang pernah meraih gelar bergengsi itu.

Akan tetapi, kapten Aljazair, Riyad Mahrez juga punya mimpi besar menjadi kampiun. Bintang utama El Khadra (Si Hijau)–julukan Aljazair itu menegaskan, ini adalah momen istimewa untuk mengulang sukses juara pada edisi 1990 silam.

“Kami sangat senang berada di final Piala Afrika karena ini adalah sesuatu yang sangat istimewa. Itu adalah tujuan kami untuk melakukannya untuk orang-orang dan untuk keluarga kami. Kami tahu mereka ada di belakang kami. Adalah impian saya untuk memenangkan Piala Afrika,” tegasnya di AFP dikutip dari Arab News.

Di semifinal, winger Manchester City itu menjadi pahlawan kemenangan lewat gol tendangan bebas cantiknya di menit ke-95. Menurutnya, itu menjadi spirit khusus baginya menghadapi Senegal. “Ini akan menjadi pertempuran lain melawan Senegal,” ujarnya.

Mahrez juga meraih sukses besar musim lalu di level klub. Bersama The Citizens, mantan pemain Leicester City itu meraih tiga gelar domestik. Seperti Mane, Mahrez juga sudah mengoleksi tiga gol di Piala Afrika dan sangat berambisi mengejar Ighalo.

Juru taktik kedua negara tak kalah ambisius. Pelatih Senegal, Aliou Cisse, saat ini dalam misi penebusan kegagalan. Dia adalah kapten tim Senegal ketika mereka kalah dalam adu penalti melawan Kamerun di final Piala Afrika 2002.

“Setelah kalah di final itu, saya masih mengingatnya. Apa yang memotivasi saya untuk menjadi pelatih adalah untuk bisa membawa Senegal ke final,” ujar Cisse yang kehilangan bek andalan, Kalidou Koulibaly di final ini.

Sedangkan Pelatih Aljazair, Djamel Belmadi berjanji akan membawa pulang gelar. “Kepada orang-orang Aljazair, saya ingin mengatakan bahwa saya bukan politikus, bukan pekerja mukjizat atau penyihir, tetapi kami akan bertarung seperti kami telah berjuang sampai titik ini,” tegas Belmadi.

Ini adalah ulangan duel kedua negara di fase grup dimana saat itu Aljazair menang 1-0 lewat gol Mohamed Youcef Belaili di menit ke-49. Kemenangan tersebut membuat Aljazair kini total sudah menang 11 kali dari 20 pertemuan kontra Senegal.

Laga ini sendiri ibarat final ideal sebab mempertemukan negara dengan gol terbanyak dan pertahanan terbaik. Aljazair sejak fase grup total sudah menjaringkan 12 gol. Sedangkan Senegal hanya kebobolan sekali. (amr/fin)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.