Pernikahan Jadi Modus Perdagangan Manusia

Perdagangan Manusia Terbanyak Dari Jawa Barat

33
0
ilustrasi

Bagi kaum hawa yang belum menikah, seleksilah dalam mencari pasangan hidup. Jangan sampai menjadi korban perdagangan manusia, sebab kini ada sindikat khusus yang mencari mangsa para gadis di perkampungan.

Apalagi di Jawa Barat diketahui sebagai wilayah terbanyak perdagangan manusia, dengan korban 118 orang berdasarkan data dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

“Pernikahan kini menjadi modus terbaru yang dilakukan kelompok sindikat internasional perdagangan manusia,” Wakil Ketua LPSK Edwin Partogi Pasaribu di Jakarta kemarin (8/8).

Menurutnya, modus tersebut digunakan oleh kelompok internasional untuk menjaring banyak perempuan. Hal itu dilakukan oleh kelompok di Tiongkok dengan modus pernikahan, kemudian di bawa ke negerinya.

“Mereka di sana bisa jadi apapun, pekerja rumah tangga dan pekerja-pekerja lainnya. Di berbagai negara ada ribuan perempuan yang menjadi korban, seperti di Korea Utara, termasuk di Pakistan.” kata Edwin.

LPSK sendiri berhasil menggagalkan pe­nerbangan dua orang dari Pontianak, Kalimantan Barat, yang akan diterbangkan ke Tiongkok melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Lanjut Edwin, sudah ada beberapa orang yang terjerat modus pernikahan dan dikirim ke Tiongkok.

“Di sana mereka dijadikan pekerja kasar bahkan pekerja seks komersial (PSK), yang terkadang tidak mendapatkan upah sepeser pun karena dikatakan sudah terikat pernikahan,” paparnya.

“Orang dijanjikan dinikahkan, dengan mimpi akan mengubah hidupnya, mengubah nasib keluarganya. Tapi kenyataannya, dia bisa dijadikan apa saja, jadi pembantu rumah tangga (PRT), jadi pekerja seksual dan keluarganya tidak tahu apa-apa. Tahunya, sudah jadi istri orang,” ungkap dia menambahkan.

Dalam catatan LPSK, dalam periode 2015-2019 sudah menangani 318 korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dengan data korban berasal dari lima daerah teratas yakni Jawa Barat 118 korban, Nusa Tenggara Barat 42 korban, Jawa Tengah 32 korban, Nusa Tenggara Timur 27 korban, dan Banten 16 korban.

“Para korban itu kemudian dikirim ke dalam dan luar negeri dengan tujuan DKI Jakarta, Maluku, Bali, Jawa Timur dan Sumatera Utara untuk tujuan domestik,” ungkapnya.

Sementara itu, untuk target internasional, selain Tiongkok terdapat juga tujuan Malaysia, Arab Saudi, Korea Selatan, dan Turki.

TERJADI DI TASIKMALAYA

Di Tasikmalaya, dugaan pernikahan menjadi modus perdagangan manusia pernah terjadi. Kala itu, empat Warga Negara Asing (WNA) asal Tiongkok diketahui telah memberikan uang sebesar Rp 25 Juta kepada empat gadis asal Karangnunggal Kabupaten Tasikmalaya. Uang tersebut sebagai rayuan agar gadis tersebut bersedia dinikahi.

Anggota Tim Elang Korem 062 Tarumanegara Serka Wawan Rusmawan Efendy mengatakan total WNA Tiongkok datang ke Karangnunggal Tasikmalaya berjumlah enam orang. Namun yang diamankan hanya empat WNA, diketahui hendak menikahi empat gadis di wilayah tersebut.

“Sebenarnya ada enam WNA, mereka datang bulan April 2019. Dari ke enam WNA diketahui satu orang merupakan WNI (Warga Negara Indonesia) keturunan Tiongkok yakni Injo Tek Lie, warga Cengkareng Jakarta Barat,” katanya kepada wartawan, Senin (29/4).

WNI itu, kata dia, diduga sebagai perantara bagi WNA Tiongkok, yang sebelumnya pernah bekerja di perusahaan tambang Batu Bentonit di Kecamatan Karangnunggal tahun 2012. “Sehingga WNI itu mengenali wilayah tersebut. Mereka itu memang sebelumnya dibawa oleh perantara ke daerah Karangnunggal,” ujarnya.

Dari informasi yang diterimanya, keempat WNA tersebut sempat dijemput salah satu gadis asal Karangnunggal. “Jadi hanya sebagian WNA yang ikut ke Tasikmalaya. Sisanya masih di Jakarta,” paparnya.. (der/fin/ujg)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.