Perdagangan Orang Intai Masyarakat

360
0
Firgiawan / Radar Tasikmalaya BERIKAN MATERI. Anggota Komisi III DPR RI Drs H Ahmad Zacky Siradj saat menyosialisasikan Undang-Undang berkaitan trafficking kepada pelajar se-Kota Tasikmalaya di aula bale kota beberapa waktu lalu.

BUNGURSARI – Praktik per­dagangan orang (human trafficking) mengintai di tengah masyarakat, khususnya kalangan remaja. Kejahatan itu harus diketahui sejak dini sebagai upaya melindungi dan menghindari perbudakan modern tersebut menimpa ke­luarga atau orang terdekat.
Untuk itu, anggota Komisi III DPR RI Drs H Ahmad Zacky Siradj menyosialisasikan Undang-Undang berkaitan trafficking kepada pelajar se-Kota Tasikmalaya di aula bale kota beberapa waktu lalu. Undang-Undang Nomor 14 tahun 2009 tentang Pengesahan Protokol untuk Mencegah, Menindak dan Menghukum Perdagangan Orang terutama Perempuan dan Anak-anak, Melengkapi Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Menentang Tindak Pidana Transnasional yang Terorganisir serta Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), perlu diketahui kalangan remaja khususnya menginjak usia SMA.
“Mereka (remaja) harus tahu untuk mengantisipasi, atau mengkampanyekan bahaya trafficking ke teman sebaya, keluarga dan lingkungannya,” ujar Zacky usai memberikan materi sosialisasi.
Dia menjelaskan TPPO merupakan kejahatan terbesar kedua di dunia setelah narkotika. Di Indonesia sendiri, korban perdagangan orang mencapai 74.616 hingga satu juta per tahun, sehingga dalam setiap satu detik dipastikan ada korban human trafficking. “Polda Jawa Barat merajai kasus ini sejak tahun 2012 hingga 2016. Dengan total 158 kasus, 16 diantaranya terjadi di tahun 2016,” jelasnya.
Pemateri sosialisasi yang merupakan Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Dinas Pengendalian Penduduk, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Tasikmalaya Penduduk Noneng Rosmayati mengakui pentingnya pemahaman kalangan remaja terkait UU Trafficking. Apalagi kasus tersebut tengah melanda dan menjadi perbincangan hangat di dunia.
“Sebab, terkadang orang tua atau korban sendiri, rata-rata enggan melaporkan ke pihak berwajib atau pemerintah. Dan menganggap kasus itu sebagai aib. Sehingga predator penjualan orang terus melancarkan aksinya,” ungkap Noneng.
Perwakilan Dewan Guru Kota Tasikmalaya Ustaz Utang Kamaludin menjelaskan sosialisasi yang diikuti siswa-siswinya merupakan kesempatan baik dan berharga. Sebagai tambahan wawasan bagi mereka dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.
“Ini bisa menjadi bekal bagi mereka saat lulus atau pun terjun ke tengah masyarakat. Diharapkan setelah mengetahui Undang-Undang berkaitan trafficking, mereka sadar akan bahayanya dan berupaya mencegah minimal anggota keluarganya tidak menjadi korban,” paparnya. (igi)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.