Pergerakan Tanah di Puspahiang Tasik Melebar, BPBD Kirim Surat ke Badan Geologi

166
0
MELEBAR. Retakan akibat pergerakan tanah melebar ke lapangan dan kebun warga serta jalan Desa Pusparahayu Kecamatan Puspahiang, Kamis (5/12). DIKI SETIAWAN / RADAR TASIKMALAYA
MELEBAR. Retakan akibat pergerakan tanah melebar ke lapangan dan kebun warga serta jalan Desa Pusparahayu Kecamatan Puspahiang, Kamis (5/12). DIKI SETIAWAN / RADAR TASIKMALAYA

PUSPAHIANG – Pergerakan tanah di wilayah Desa Pusparahayu Kecamatan Puspahiang melebar. Hal itu diungkapkan Camat Puspahiang Zalkaf Drasma kepada Radar, Kamis (5/12).

Kata dia, pergerakan tanah semakin melebar ke berbagai wilayah di Desa Pusparahayu. Sebelumnya, tanah yang retak hanya terjadi di sekitar rumah warga, sekarang sudah melebar ke lapangan, jalan desa dan lainnya.

“Sekarang pergerakan tanah bukan hanya membuat bangunan rumah retak, tetapi melebar ke jalan-jalan desa, perkebunan warga termasuk lapangan desa. Ada garis belahan atau retakan di jalan dan lapangan yang cukup besar,” katanya.

Menyikapi retakan tanah yang melebar, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tasikmalaya sudah mengirim surat ke Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi pada Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI.

Surat tersebut merupakan permohonan untuk melakukan kajian lapangan terhadap bencana alam pergerakan tanah di Desa Pusparahayu Kecamatan Puspahiang yang membuat 146 rumah warga retak, termasuk lapangan, jalan desa dan lahan kebun.

Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Tasikmalaya H Wawan Ridwan Effendy mengatakan, dengan kajian dari Badan Geologi bisa memastikan apakah lahan tersebut masih layak atau tidak untuk ditempati warga.

“Selasa (10/12), kita akan rapat koordinasi (rakor) dengan pihak terkait dalam penanganan bencana alam. Pembahasannya rencana mitigasi terhadap bencana pergerakan tanah di Puspahiang,” ujarnya kepada Radar, Kamis (5/12).

Kata dia, pihaknya tidak bisa memutuskan terlebih dulu apakah lokasi tersebut harus direlokasi atau tidak. Karena belum dilakukan kajian oleh Badan Geologi. Maka dari itu, untuk menentukan relokasi atau tidaknya harus berdasarkan hasil kajian Geologi.

Saat ini, kata dia, BPBD sudah menerjunkan Tim Reaksi Cepat Tanggap Bencana ke lokasi rumah warga terdampak pergerakan tanah khususnya di empat kampung di Desa Pusparahayu Kecamatan Puspahiang.

“Kami tetap waspada dan siaga jika terjadi pergerakan tanah kembali. Yang jelas warga diimbau tetap hati-hati dan waspada ketika hujan dan segera ke tempat aman yang sudah ditentukan titik koordinatnya,” ujarnya.

Warga Kampung Babakan Jajaway, Pipih (34) mengaku ingin segera ada kepastian apakah lokasi tersebut aman atau tidak untuk tetap ditempati, mengingat kondisi retakan tanah sudah semakin meluas.

“Karena setiap kali hujan sering waswas, takut bergerak tanahnya. Khawatir rumah roboh atau menimpa keluarga. Makanya warga di sini kalau hujan segera saja pindah ke tempat aman yang sudah disediakan petugas,” katanya.

Warga lainnya, Dudi Kusnadi (37) mengaku masih bertahan tinggal di rumah yang sudah retak, karena yakin rumahnya masih aman untuk ditempati bersama keluarga. Walaupun sedikit ada rasa waswas ketika hujan besar.

“Kami diimbau pemerintah desa dan kecamatan jika terjadi hujan harus pindah ke rumah kerabat atau lokasi yang sudah disediakan petugas. Mudah-mudahan tidak parah lagi,” kata dia.

Kades Pusparahyu Rahmat Nugraha menambahkan, di wilayahnya termasuk zona merah bencana pergerakan tanah di Kecamatan Puspahiang.

“Ada dua kedusunan yang masuk zona merah rawan pergerakan tanah. Pertama Dusun Kelewih, pada 2017 pernah terjadi pergerakan tanah, sebanyak 114 rumah retak. Kedua Dusun Pendir yang Desember 2019 ini terdampak 146 rumah retak,” kata Rahmat. (dik)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.