Permainan yang Serius

42
0
Oleh Asep M Tamam

DUNIA politik semakin ramai saja. Perkiraan dan harapan berakhirnya kegaduhan publik selepas rilis quick count berbagai lembaga survei (17 April 2019), atau setelah KPU mengumumkan hasil pleno penghitungan akhir (21 Mei 2019), atau setelah berakhirnya sidang di MK (27 Juni 2019) ternyata meleset.

Gema pilpres sepertinya tak akan berhenti bahkan hingga Pilpres 2024 kembali meramaikan suasana. Ramainya Pilpres 2019 juga tak lepas dari residu pilpres sebelumnya, 2014, dimana calonnya masih sama, Jokowi melawan Prabowo.

Psikologi masyarakat masih tak bisa dilepaskan dari euforianya pemenang dan belum move on-nya pihak yang kalah. Degup perang opini masih keras berdenyut. Nyalanya tak pernah padam. Setiap produk kebijakan dan lontaran opini tetap menjadi bahan untuk dipanaskan. Jika diamati lebih lanjut, di sana seperti ada permainan yang mengasyikkan di antara kedua kubu. Lontaran wacana yang direspons kedua pihak, bila digambarkan, seperti anak-anak tengah bermain, asyik dan saling mengalahkan, saling menyerang dalam keriangan, hingga lupa waktu. Tapi jika didalami isi pertengkaran itu, dengan kepentingan dan tujuan apa di dalamnya, sepertinya keduanya serius dan tak main-main.

SERIUS ATAU MAIN-MAIN?

Jika menyimak suasana psikologi masyarakat di media sosial, polarisasinya bisa menjadi empat tipologi; pro A, pro B, tak pro A dan tak pro B dan menyimak dengan santai, dan ada juga yang muak mengikuti perang opini yang tak berkesudahan.

Tentang tipologi pertama dan kedua, mereka adalah “tim hore” yang fanatik. Siang malam menghabiskan waktu untuk bergumul dan bergulat. Kerjanya mengangkat citra yang didukungnya dan membanting pihak lawan. Sebagian mereka aktif mem-posting dan membagi konten di media sosial. Tak peduli hoax atau fakta. Tak peduli apa pun dan bagaimanapun respons pembaca. Mereka bekerja secara militan. Sebagian mendapat keuntungan dan menjadikan apa yang dilakukan sebagai pencari kekayaan material. Sebagian lagi tidak. Mereka hanya meramaikan suasana tanpa harus berhitung keuntungan apa yang dia dapatkan. Eksistensi dan posisi mereka jelas dan dikenal, berada di satu kubu. Kehadiran medsos seakan menjadi saluran untuk meyakinkan orang lain bahwa pilihan politik adalah pilihan ideologis. Mereka biasanya memiliki lawan seimbang.

Sebagian mereka berpendidikan tinggi dan memiliki posisi strategis. Perdebatan politik bagi mereka menjadi pertaruhan intelektual. Mereka menulis dan menjadi sandaran sikap dan rujukan argumen bagi pembaca yang seide. Dari mereka, ilmu mengalir. Tapi sebagian lainnya berjumlah lebih besar dari mereka dan belum menjadi komunitas literat, belum memiliki sikap ilmiah. Fanatisme yang mereka kedepankan. Posting-an mereka tak ayal, jadi bulan-bulanan. Tapi mereka tak peduli, apalagi mereka bergerombol, saling membantu menyiapkan materi.

Tipologi ketiga, mereka yang tak bersikap. Tak pro A maupun B. Mereka enjoy menikmati perdebatan. Mereka silent rider (pembaca pasif). Bagi mereka, politik harus memberi efek kesenangan dan hiburan. Bagi mereka, politik tak lebih dari sekadar permainan. Secara tak langsung, mereka banyak tercerahkan dari proses membaca alur dialektika publik ini. Banyak ilmu yang didapatkan dari lontaran isu yang direspons secara pro maupun kontra. Tak sedikit mereka yang berada di tipologi ini. Mereka terlatih dewasa dan mampu melihat segala permasalahan dari berbagai sudut pandang. Mereka terjauh dari fanatisme dan sikap menyalahkan. Mereka bertransformasi menjadi kaum literat.

Tipologi keempat, mereka yang muak dengan kegaduhan dan kebisingan yang terjadi. Mereka bereaksi dan bersikap. Umumnya mereka tak suka dengan segala hal yang berlebihan; memuji atau mencela. Makanya, tak jarang kita membaca status-status di FB maupun di aplikasi lainnya yang berisi kemarahan terhadap realitas suasana yang terjadi. Sebagian meng-unfriend teman dan mengultimatum teman lainnya untuk tidak menulis status politik yang—dalam pandangannya—picik, tak logis, dan berkonten fanatisme berlebihan.

MAIN-MAIN TAPI SERIUS

Dari keempat tipologi di atas, didapatkan kesan kuat tentang politik dalam perspektif aktivis media sosial. Politik tak lebih dari permainan seperti permainan anak-anak yang melibatkan urat saraf. Waktu kecil kita bermain dan menghabiskan waktu untuk bermain. Sebagian besar permainan memiliki unsur menang dan kalah seperti main gambar, kelereng, layangan, kasti, boy-boyan, gatrik, dan lainnya. Di dalam permainan itu ada unsur licik, menipu, dan memperdayai.

Tapi, siapa yang berani menolak untuk mengatakan bahwa politik adalah juga serius, bahkan sangat serius. Bayangkan, setiap orang yang masuk dan menjadi bagian peramai suasana, selalu memiliki cara, siasat, juga strategi untuk mengunci lawan. Selalu ada upaya mencari materi terbaik untuk bisa mengalahkan lawan dan membuatnya tak berkutik. Betapa seriusnya mereka yang terlibat menjadi “tim hore” sehingga rela menghabiskan waktu meski tak mendapat apa-apa.

Jika demikian kondisi dan suasana di luar arena, di kalangan masyarakat biasa dengan berbagai lapisan di dalamnya, maka pertanyaan yang perlu dikemukakan adalah, bagaimana pula suasana dan kondisi para pelaku politik di atas sana, mereka yang berpolitik bukan sekadar urusan menang dan mengalahkan lawan, tapi juga menjadikan politik sebagai tempat usaha, arena bisnis, dan media mencari harta kekayaan, bagi mereka, apakah politik itu hanya dunia main-main ataukah memang serius? (*)

Pengamat sosial, politik dan pemerintahan Tasikmalaya

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.