Permulaan Kuota untuk 5-10 Kampus dan Hanya di Jakarta

212
DENI SARTIKA / RAKYAT ACEH SALAMI. Menristekdikti RI, Mohamad Nasir bersalaman dengan warga saat berkunjung ke Meulaboh.

Sejatinya akses masuknya kampus asing ke Indonesia sudah dibuka sejak diterbitkannya UU 12/2012 tentang Pendidikan Tinggi. Tetapi nyatanya sampai saat ini tidak ada kampus asing yang membuka kelas di Indonesia. Kemenristekdikti menjanjikan akan mempermudah bahkan mengundang kehadiran kampus asing.

Rencana membuka lebar akses kampus asing di Indonesia itu disampaikan langsung Menristekdikti Mohamad Nasir di Jakarta kemarin (29/1). Saat berkunjung ke Inggris beberapa waktu lalu, mantan rektor Universitas Diponegoro (Undip) itu mengundang langsung kehadiran kampus di sana untuk membuka cabang di Indonesia.

Dia mambantah jika animo perguruan tinggi asing membuka studi di Indonesia sepi. ’’Yang antri itu sudah banyak,’’ jelasnya. Selain dari Inggris juga ada di Australia. Kampus dari negeri kanguru yang sudah menawarkan niat membuka kuliah di Indonesia adalah Central Queensland University. Kemudian dari Inggris ada Cambridge University.

Dia menjelaskan selama ini Cambridge sudah mulai eskosodus melalui kursus atau pendidikan bahasa Inggris ke jenjang SMA sederajat. Nasir mengungkapkan Cambridge sejatinya juga ingin masuk lebih tinggi hingga ke jenjang perguruan tinggi.

Nasir mengatakan untuk bisa membuka kelas di Indonesia, ada beberapa persyaratan. Diantaranya dalah kampus asing wajib bekerjasama dengan kampus swasta (PTS) lokal. Sehingga jatuhnya nanti kampus asing itu tetap berstatus kampus swasta. Kemudian jurusan atau program studi yang dibuka adalah rumpun STEM (science, technology, engineering, math). Selain itu juga program penunjang seperti bisnis teknolog.

Selain itu lokasi pendirian kampus kerjasama lokal dan luar negeri itu juga diatur. Sebagai awalan Kemenristekdikti hanya memberikan izin kampus kerjasama itu dibuka di Jakarta. ’’Kita batasi dulu lima sampai sepuluh PTA (perguruan tinggi asing, Red),’’ katanya. Daerah lain yang menyusul adalah Surabaya, Medan, dan Makassar. Tetapi akan dikaji mendalam oleh Kemenristekdikti.

Nasir menjelaskan nantinya dari sekian banyak kampus asing yang masuk ke Indonesia, tetap harus melewati penyaringan. Dia tidak ingin ada kampus asing yang di negaranya sendiri tidak dikenal, tetapi membuka cabang di Indonesia.

Nantinya status kampus asing yang membuka kelas di Indonesia adalah kampus swasta. Bukan kampus negeri. Untuk itu pemerintah tidak bisa mengontrol soal biaya atau SPP yang ditetapkan oleh kampus itu. Hanya saja Nasir memprediksi kampus asing yang buka cabang di Indonesia tidak akan mematok SPP yang besar-besar amat. ’’Kampus asing (yang buka di Indonesia, Red) jual mahal, ya tidak laku juga,’’ tuturnya.

Nasir lantas menceritakan kenapa pemerintah getol membuka akses masuknya kampus asing itu. Dasar utamanya adalah pendidikan merupakan salah satu bidang yang masuk dalam perjanjian (agreement) di World Trade Organization (WTO). Indonesia sudah merativikasi perjanjian WTO itu melalui UU 7/1994. Selain layanan pendidikan, ada layanan keuangan, travel-pariwisata, transportasi, komuniasi, dan distribusi serta layanan kesehatan.

Terkait dengan agreement WTO di sektor layanan pendidikan, khususnya pendidikan tinggi, dia menjelaskan masih jauh. Diantara indikatornya adalah belum adanya kampus asing yang membuka cabang di Indonesia. ’’Tentunya bukan seperti kampus Berkley,’’ katanya. Kampus Berkley yang dia maksud adalah kampus abal-abal yang menggunakan nama Berkley. Kampus ini dibongkar 2015 lalu karena kedapatan menjual ijazah palsu.

Dia menjelaskan masuknya perguruan tinggi asing ke Indonesia tidak perlu ditakuti. Sebab pemerintah akan mengawalnya dengan beberapa regulasi. Selain itu masuknya perguruan tinggi asing ke Indonesia juga bisa meningkatkan kualitas pendidikan tanah air.

Nasir mencontohkan seperti yang terjadi di National University of Singapore (NUS). Kampus yang juga jadi rujukan pelajar Indonesia itu menurut dia berkembang karena adanya SDM-SDM asing. Informasi yang dia dapat 40 persen dosen di NUS berasal dari luar negeri. Selain itu mahasiswa asingnya juga banyak.

Rektor Universitas Pertamina Akhmaloka menuturkan perkembangan kampus asing membuka cabang atau kampus di Indonesia memang masih sangat minim. Saat ini kampus hasil kerjasama lokal dengan perguruan tinggi asing contohnya adalah Indonesia International Institute for Life Science (I3L) yang berada di Jl Pulomas Barat, Jakarta Timur. (wan/jpg)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.