Pernah Dilempar Sandal, Berpenghasilan Rp 86.000 per Minggu

1104
PITRI SITI HALIMAH / RADAR TASIKMALAYA SEMANGAT. Dari kiri Ketua PGM Kota Tasikmalaya Asep Rizal Asy’ari, H Yoyo Ahmad Hasan dan Kepala TU MTs Nurul Falah Tasikmalaya Ii Asbahi bersemangat usai talk show Bincang Radar di Radar TV, Selasa (16/1).

Perjalanan H Yoyo Ahmad Hasan Mengabdi Jadi Guru Honorer Selama 40 Tahun

Guru honorer hanya sebatas status. Tidak ada perbedaan tugas dan fungsi antara guru honorer dan PNS. Tapi tingkat kesejahteraan keduanya ibarat bumi dan langit. H Yoyo Ahmad Hasan salah satu guru honorer di MTs Nurul Falah Sengkol Kecamatan Kawalu Kota Tasikmalaya. Dia sudah mengabdi selama 40 tahun.

PITRI SITI HALIMAH, Cihideung

GURU merupakan pahlawan tanpa tanda jasa. Pepatah tersebut rasanya sangat layak diberikan kepada guru honorer. Mereka bekerja keras membangun karakter peserta didik dengan baik, tapi tidak disertai dengan kesejahteraan yang sepadan. Berbeda dengan guru PNS yang kesejahteraannya terjamin dengan baik.
Guru honorer harus rela menerima bayaran yang dihitung per jam mata pelajaran. H Yoyo bisa dikatakan salahs atu guru honorer yang cukup senior. Dia sudah mengabdi menjadi guru honorer selama 40 tahun. Walaupun masih berstatus honorer dia tetap semangat dalam memberikan pelajaran kepada peserta didiknya. “Mengajar merupakan kegembiraan tersendi bagi saya, karena ini merupakan bagian dari tugas atau ibadah, senang berbagi ilmu dengan generasi muda,” ungkapnya kepada Radar usai talk show Bincang Radar di Radar TV, Selasa (16/1).
Puluhan tahun menjadi guru, Yoyo sudah mengenyam berbagai pengalaman. Suka duka menjadi honorer sudah dilaluinya tanpa rasa putus asa. Dia masih ingat saat awal-awal masuk menjadi guru honorer sekitar tahun 1980. Yoyo dilempar sandal jepit oleh siswa saat sedang mengajar. Walaupun diperlakukan sepereti itu, Yoyo tetap semangat dan tidak pernah menyerah untuk menjadi guru yang baik bagi peserta didik.
Tidak hanya suka duka perlakuan siswa yang sudah dialaminya. Yoyo juga harus ikhlas tenaganya hanya dibayar Rp 17 ribu per jam mata pelajaran. Dalam satu minggu, Yoyo hanya mampu mengajar selama 40 jam itu juga tidak pada satu sekolah. “Setiap minggu hanya menerima bersih Rp 86.000, itu sudah dipotong BPJS dan pembayaran lainnya,” paparnya.
Saat ini Yoyo mengajar di empat sekolah MTs Negeri Salopa, MAN Salopa, MTs Nurul Falah, dan MA Nurul Falah Kawalu. Dia tidak berharap banyak dari pemerintah. Melainkan ingin mendapat perhatian lebih dari pemerintah yakni ingin tetap mengajar selama dia mampu.
Yoyo punya cara tersendiri dalam memberikan pelajaran kepada peserta didik. Dia selalu memberikan pelajaran dengan santai dan penuh canda tawa tapi tetap serius. Sehingga para siswa tidak merasa jenuh dengan pelajaran yang diberikan.
Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Perkumpulan Guru Madrasah (PGM) Kota Tasikmalaya Asep Rizal Asy’ari menceritakan total guru madrasah di Kota Tasikmalaya sekitar 2.893 orang, PNS sebanyak 265 orang, non PNS 2.628 orang. Sedangkan yang telah sertifikasi sebanyak 973 orang dan sisanya merupakan guru yang belum mendapat fasilitas tunjangan sekitar 1.920 guru. Salah satu guru yang belum mendapat fasilitas tunjangan adalah H Yoyo Ahmad Hasan.
“Seharusanya dia (Yoyo, Red) mendapat perhatian lebih bahkan penghargaan, karena dia sudah mengabdikan hidupnya untuk mengajar meski tanpa jabatan atau status jelas,” ungkapnya. Bagi PGM, Yoyo merupakan guru yang sangat menjadi inspirasi karena beliau mendedikasikan hidupnya untuk mengajar meski tanpa upah yang layak. (*)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.