Pernah Jadi Buruh, Berharap Anak Tak Ikuti Jejak

306
0
IMAN S RAHMAN/RADAR TASIKMALAYA KERJA. Rahman mengelas bodi motor Vespa yang tengah direstorasi di bengkel las miliknya Selasa (26/12).

Rahman (45) warga Dusun Desa RT 8 / 3 Desa Handapherang Kecamatan Cijeungjing Kabupaten Ciamis kini sudah punya bengkel las sendiri. Ekonomi keluarganya juga telah mengalami peningkatan. Sebelumnya, dia bekerja sebagai buruh bangunan.

IMANS S RAHMAN, Ciamis

BEKERJA sebagai buruh bangunan membuat Rahman merasa capek dan bosan. Kala itu sekitar tahun 2000-an. Belum menikah. Namun, saat itu dia tak punya keahlian lain. Kecuali menjadi buruh. Sampai akhirnya dia diajak Yanto (56), kakaknya, untuk belajar ngelas.
Bertahap, dia mulai mahir dan ikut mengerjakan pekerjaan borongan dari sang kakak. Setiap hari dia mendapat upah sekitar Rp 150.000. Sebagian dari uang itu ia sisihkan untuk ditabung. Niatnya ingin mandiri dengan memiliki peralatan las sendiri.Setelah tabungan terkumpul Rp 800.000, Rahman membeli peralatan las bekas.
Baginya, bekas pun tak apa. Yang penting punya. Satu lagi, cita-citanya untuk punya bengkel las kala itu sudah mulai terealisasi. Minimal peralatannya. Sejak saat itu dia mulai mencari order las sendiri. Tidak lagi mengikut sang kakak.
Mulanya dia mendapat order ngelas pagar rusak. Kemudian, ngelas bodi motor dan meningkat ke bodi mobil. Dari hasil ngelas sendiri itu, ia mulai mengumpulkan peralatan lain. Seperti kunci-kunci untuk membengkokkan besi dan lainnya. Sampai akhirya, dia juga bisa membeli peralatan las baru. Lengkap pula.
Rahman kemudian menikah dengan Ima (26). Saat itu dia sudah mahir dengan pekerjaan ngelasnya. “Saya sudah 12 tahun menikah dan sekarang sudah punya dua anak. Yang satu SD kelas enam yang satu baru empat tahun,” ungkapnya saat ditemui di bengkel las depan rumahnya Selasa siang (26/12).
Siang itu, Rahman tengah mengerjakan pengelasan bodi motor Vespa yang direstorasi. Ia mengenakan kaca mata hitam untuk melindungi mata dari percikan api. Namun, untuk bagian tubuh lain, Rahman sepertinya tak terlalu memperhatikan keamanannya. Ia hanya mengenakan kaos lengan pendek dan kolor.
Kepada Radar, Rahman mengungkapkan bahwa ia hanya lulusan sekolah dasar. Sebab itu dia tidak bisa mencari pekerjaan yang lebih layak ketika usia muda. Sampai akhirnya, jadi tukang las. Dia berharap jejak itu tak diikuti kedua anaknya. Jangan sampai merasakan susahnya mencari nafkah dengan jadi buruh kasar akibat pendidikan rendah.
Ia pun bercita-cita menyekolahkan anak-anaknya sampai kuliah. Bahkan, kalau bisa, masuk kedokteran. Atau, apa pun. Yang penting jangan mengikuti jejaknya dan jadi orang yang lebih berguna. “Meski begitu saya sangat bersyukur. Dengan mengelas bisa menghidupi anak istri,” katanya.
Satu hal lagi, Rahman juga sangat berharap bisa segera punya pekerja untuk membantunya. Minimal, meringankan pekerjaan. Maklum, selama ini dia hanya bekerja sendiri. Padahal pekerjaannya cukup banyak. Terutama yang ngelas bodi motor dan mobil. Pekerjaan itu selalu ada setiap hari. “Saya selalu menghasilkan karya yang terbaik dan rapi. Sehingga, pelanggan tetap senang dengan pekerjaan saya,” ucapnya.
Dari ngelas, Rahman bisa mencukupi kebutuhan rumah tangga. Juga kebutuhan kedua anaknya. Dalam sebulan dia bisa mendapat penghasilan total sampai Rp 5 juta. Setidaknya, upah itu lebih besar dari gaji guru atau pun PNS golongan III. (*)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.