Beranda Rakyat Garut Pernah Nyukur Ali Sadikin

Pernah Nyukur Ali Sadikin

43
0
BERBAGI

Abah Ada, Legenda Cukur Kabupaten Garut

ADA Suhada (70) tinggal di Kampung Peundeuy Desa Banyuresmi Kecamatan Banyuresmi. Dia tukang cukur paling senior di Kabupaten Garut. Pria yang akrab disapa Abah Ada ini sudah malang melintang di dunia cukur rambut sejak era kemerdekaan.

“Saya ini keturunan tukang cukur. Turun temurun dari bapak sejak zaman Jepang dan Belanda pada tahun 1957 dan tahun 1958,” ungkapnya kepada Rakyat Garut, Jumat (12/1).
Bulan April tahun 1964, Abah Ada mulai berkeliling Banyuresmi menjadi tukang cukur. Saat itu dia diminta sang ayah untuk mulai menjadi tukang cukur dari kampung ke kampung. Sekitar bulan April tahun 1965 dia merantau ke Majalaya Kabupaten Bandung. Tiga bulan kemudian dia pindah ke daerah Kodya Bandung mengikuti jejak kakak tertua dan ketiganya sebagai tukang cukur.
Lima tahun kemudian, tepatnya sekitar bulan Januari tahun 1970 dia merantau ke Jakarta dan membuka Barbershop Hilda di Jalan Kendal Jakarta Pusat. Enam bulan kemudian dia dipanggil oleh ajudan Ali Sadikin untuk mencukur sang gubernur DKI kala itu.
Tahun 1972, dia kembali pindah ke Tanah Abang dan bekerja di Barbershop Santoso. Namun, dia hanya bertahan selama empat tahun di sana. Abah Ada pindah ke Jakarta pusat selama beberapa tahun dan pindah lagi ke tempat lain untuk memperdalam ilmu cukurnya. Antara tahun 1986-1988 dia menjadi tukang cukur di Kramat Jati, Jakarta Timur di Pangkas Rambut Family. “Setelah itu saya kembali pindah ke Bandung dan alhamdulillah, banyak keponakan belajar nyukur di Kota Madya Bandung tersebut,” ungkapnya.
Pada tahun 1996, lanjutnya, dia membuka tempat cukur sendiri di Jalan Sulanjana. Saat itu dia bekerja sama dengan mantan anggota DPRD dari PPP dan bertahan selama 13 tahun. Tahun 2002, ia pindah ke Perumahan Panghegar di Bandung Timur dan bertahan selama delapan tahun. Langganannya di sana cukup banyak. Sebagian merupakan anggota TNI dan Polri.
Baru sekitar bulan November tahun 2011 ia pulang ke Garut karena istrinya sakit. Dia harus mengurus istri dan cucunya. Tahun 2015, Abah Ada akhirnya mendirikan LPK Delisa yang merupakan sekolah cukur. Saat ini sudah memiliki legaliatas dari Kemenkumham, Dinsosnakertrans dan Disdik. Dan, di tahun 2016 dia mendirikan kursus pangkas rambut di Kampung Peundeuy. Dia masih menggunakan alat cukur yang sudah digunakannya selama puluhan tahun.
Tempat kursus cukur rambut tersebut ia promosikan lewat internet. Tiap bulannya ada yang mendaftar. Bukan hanya berasal dari Garut, tapi juga dari Provinsi Banten, DKI Jakarta, Kalimantan dan Palembang.
“Sekarang, saya menjadi guru sekolah kursus nyukur. Profesi ini saya ambil guna mengurangi pe­ngangguran dan membantu program tenaga kerja pada pemerintah daerah maupun pusat. Karena saat ini mencari pekerjaan cukup sulit,” jelasnya. (obi/son)

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here