Gerhana Bulan Pertama Kali Bisa Disaksikan Langsung

123
0
BAY Ismoyo / AFP GERHANA DI LANGIT. Peristiwa gerhana bulan pada Rabu dini (17/7) terlihat di Masjidil Haram, Makkah. Insert, kombinasi gambar yang menunjukan terjadinya gerhana bulan di berbagai peristiwa.

JAKARTA – Tahun ini, hanya ada tiga kali fenomena gerhana yakni gerhana bulan sebanyak dua kali pada Januari dan Juli ini, kemudian gerhana matahari di Desember mendatang.

Menurut ahli astronomi dari Planetarium dan Observatorium Jakarta Cecep Nurwendaya mengatakan fenomena gerhana bulan ini merupakan yang pertama kali bisa disaksikan secara langsung sepanjang 2019.

Gerhana bulan total pertama pada tahun ini terjadi pada 21 Januari lalu, namun tidak bisa dilihat karena di Indonesia berlangsung siang hari. “Beruntungnya, kali ini gerhana bulan bisa disaksikan secara langsung karena berlangsung malam hari, didukung cuaca yang teramat cerah,” tuturnya kemarin Rabu (17/7).

Malam berganti pagi, tetapi pengunjung yang kebanyakan anak muda tetap bersemangat menunggu proses gerhana bulan, sambil sesekali mengintip lewat teleskop.

Banyak yang menyiasati waktu dengan bercengkerama, meng-update status media sosial lewat ponsel, menunggu puncak gerhana bulan yang diperkirakan terjadi pukul 04.30 WIB.

Apalagi, lampu-lampu di pelataran Planetarium dan Observatorium Jakarta kemudian dimatikan, membuat cahaya bulan kian jelas menerangi, sebelum tertutup bayangan bumi.

Pengelola Planetarium dan Observatorium menyediakan 13 teleskop untuk masyarakat yang ingin melakukan peneropongan gerhana bulan. “Kami sediakan 13 teleskop. Masyarakat bisa meneropong secara langsung,” kata Kepala Satuan Pelaksana Teknik Pertunjukkan dan Publikasi Planetarium dan Observatorium Jakarta, Eko Wahyu Wibowo, dini hari kemarin (17/7).

Bukan hanya teleskop, pengunjung pun bisa belajar tentang sistem tata surya kepada para mentor yang disiapkan menjaga masing-masing alat peneropong. Para mentor itu berasal dari Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ). Soal pengetahuan tentang ilmu astronomi, mereka tak perlu diragukan lagi.

“Di samping memandu, mentor ini memberi edukasi dan pencerahan kepada pengunjung. Misalnya, Saturnus itu kenapa ada cincinnya? Planet Jupiter gimana, dan sebagainya,” ujar Eko.

Meski sudah disediakan 13 teleskop, tetap saja pengunjung harus mengantre cukup lama. Maklum, setiap pengunjung tak mau cepat-cepat memalingkan keindahan bulan dan planet-planet lain dari matanya. Belum lagi, posisi planet-planet, seperti Saturnus dan Jupiter yang terus bergerak membuat para mentor harus berulang kali menyetel teleskopnya.

Dari teleskop, keindahan bulan terlihat detail, sementara Saturnus tampak jelas bercincin meski ukurannya sangat kecil. Jupiter lebih kecil lagi, tetapi tetap terlihat. Dengan sabar, para mentor memberikan penjelasan pada pengunjung yang setiap saat selalu bertanya. “Mas, planetnya kok enggak kelihatan ya?” tutupnya.

Terlihat di Makkah

Salat khusuf digelar secara berjamaah di Masjidil Haram saat gerhana bulan terjadi di langit Makkah mulai Selasa (16/7) malam hingga lewat Rabu (17/6) dini hari waktu setempat .

Salat gerhana di Masjidil Haram dilaksanakan sebanyak dua rakaat. Selama hampir satu jam yakni dimulai Selasa (16/7) pukul 23.20 hingga Rabu (17/7) pukul 00.15 waktu Saudi.

Salat dipimpin Syekh Abdullah bin ‘Awwad Aljuhany dan saat salat tersebut digelar bulan terlihat dalam fase gerhana sebagian di langit Masjidil Haram.

Dari kawasan pintu Marwah menuju Terminal Syeib Aamiir, gerhana bulan dapat dilihat di sisi atas Zam Zam Tower. Setelah salat, khatib berkhotbah mengajak jamaah meningkatkan ketaqwaan terhadap kekuasaan Allah. “Mari kita tingkatkan taqwa dan marilah kita ingat bahwa fenomena alam ini tanda kekuasaan Allah,” terangnya.

Sementara itu, ribuan anggota calon haji Indonesia mengikuti salat gerhana di Masjidil Haram yang dilaksanakan pada Selasa pukul 23.00 waktu setempat. Mereka berkelompok sesuai dengan rombongannya dan sebagian dari mereka baru akan melakukan umrah wajib karena baru datang dari Madinah setelah beribadah Arbain selama delapan hari di kota itu.

Banyak yang terlihat lelah, tetapi bersemangat ingin melihat langsung Kakbah dan salat di Masjidil Haram. Kedatangan mereka bertepatan dengan terjadinya gerhana bulan sebagian yang juga dapat dipantau dari kawasan Masjidil Haram. (ful/fin)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.