Pertamina Bantah Gas 3 Kg di Kota Tasik Langka

68
0
PASANG GAS. Salah seorang pedagang kaki lima di jalan Ahmad Yani menggunakan gas LPG untuk aktivitas usahanya, Jumat (12/2/2021). RANGGA JATNIKA/RADAR TASIKMALAYA
PASANG GAS. Salah seorang pedagang kaki lima di jalan Ahmad Yani menggunakan gas LPG untuk aktivitas usahanya, Jumat (12/2/2021). RANGGA JATNIKA/RADAR TASIKMALAYA
Loading...

CIHIDEUNG – PT Pertamina membantah adanya hambatan distribusi gas LPG 3kg yang sudah lebih dari sepekan mengalami kelangkaan. Menjelang hari raya Imlek, pasokan justru mengalami penambahan.

Hal itu diungkapkan Manager Communication & CSR Pertamina Regional Jawa Bagian Barat, Eko Kristiawan yang menyebut distribusi gas LPG 3kg berjalan tanpa kendala.
Setiap harinya, Pertamina memasok puluhan ribu tabung ke Kota Tasikmalaya sebagaimana rata-rata konsumsi normal. “Rata-rata lebih 27.000 tabung per hari,” ungkapnya kepada Radar, Jumat (12/2/2021).

Bahkan menjelang hari libur imlek, pihaknya menambah pasokan setiap harinya. Mulai tanggal 11 sampai 16 Februari 2021 pasokan ditambah sampai 35.000 tabung setiap harinya. “Ada extra droping dengan penambahan 6% dari alokasi bulanan,” katanya.

Terkait harga pun tidak ada kenaikan harga gas LPG 3kg. Untuk di pangkalan warga bisa membelinya dengan harga Rp 16.000 per tabung.

Pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait meninjau kondisi di lapangan. Hal itu, guna memastikan distribusi gas LPG 3kg berjalan dengan lancar. “Kami ingin memberikan yang terbaik untuk masyarakat,” katanya.

loading...

Gas LPG 3kg merupakan bahan bakar gas subsidi yang diperuntukkan bagi masyarakat miskin dan usaha mikro. Dia pun meminta warga dengan kemampuan daya beli untuk menggunakan LPG non subsidi. “Pertamina menyediakan Bright gas 5,5kg dan 12kg serta LPG tabung biru 12kg dan 50kg,” ujarnya.

Terpisah Ketua Pedagang Kaki Lima kawasan Tamkot Hendra Rosidin menilai janggal ketika Pertamina tidak mengetahui kekosongan LPG 3kg di masyarakat. Jika distribusi LPG bersubsidi ini benar-benar tepat sasaran, seharusnya tidak terjadi kelangkaan. “Jadi kemana arah distribusinya kalau memang lancar,” ujarnya.

Perlu ada penelusuran ke lapangan oleh pihak Pertamina soal distribusi yang aneh tersebut. Bahkan jika perlu pihak kepolisian pun harus ikut turun tangan untuk mencegah adanya penimbunan. “Apabila ada penimbunan harus ditindak secepatnya,” ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, masyarakat khususnya para pedagang sudah sepekan ini kesulitan mendapatkan gas elpiji 3kg. Mereka harus berkeliling untuk mendapatkan “si tabung melon” itu meskipun dengan harga yang relatif lebih mahal.

Seperti halnya diakui Aso (58), pedagang jajanan makroni di kawasan Dadaha yang mengaku sudah sekitar 5 hari sulit mendapatkan gas. Perlu usaha keras mencari penjual gas yang masih memiliki persediaan. “Sekarang lumayan susah,” ujarnya kepada Radar, Rabu (10/3/2021).

Baca juga : Gas 3 Kg di Kota Tasik Langka, Warga & Pedagang Kelimpungan

Hal ini, tentunya membuat aktivitas dagangnya terganggu mengingat gas menjadi kebutuhan pokok. Karena mencari gas memakan perlu waktu yang tidak sedikit. “Akhirnya minta tolong buat nyari gas ke orang lain, tentu jadi ada biaya tambahan,” katanya.

Warga Bungursari itu berharap ketersediaan gas elpiji 3kg bisa segera normal demi kelangsungan usaha para pedagang kecil. Di masa pandemi di mana ekonomi sulit, kelangkaan gas tentu semakin membuat pedagang kecil tercekik. “Kalau gak dapat gas, gimana mau jualan,” ujar menerangkan.

Hal serupa diungkapkan juga Yosep Rustendi (48), pedagang jajanan dari olahan sosis, dia mengaku kesulitan mencari gas. Dia sampai harus mengorbankan kebutuhan gas di rumahnya agar bisa tetap berdagang. “Soalnya tadi belum dapat, terpaksa ngambil yang dari dapur,” katanya.

Beberapa hari sebelumnya, dia masih bisa mendapatkan gas meskipun harus berkeliling jauh. Warga seputaran Dadaha itu baru menemukannya di wilayah Campakawarna Kecamatan Cihideung. “Ya karena buat pedagang gas itu harus ada,” tuturnya.

Diakuinya, kelangkaan ini membuat harga elpiji menjadi naik, sampai Rp 25.000. Namun mau tidak mau harus dia beli dari pada harus berhenti berdagang. “Bahkan saya dengar ada yang di atas Rp 25.000,” katanya.

Kelangkaan gas 3kg ini, juga dikeluhkan ibu rumah tangga yang tentunya berurusan dengan dapur. Seperti halnya Hesti Pujiastuti (32), warga Condong. Dia pun akhirnya berhenti memasak dan memilih membeli kebutuhan makan di luar. “Dari pada susah nyari di luar, mending beli lauk-pauk di luar saja,”  ujarnya singkat. (rga)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.