Pertumbuhan Ekonomi Diproyeksikan 5%

106
0

JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi di tahun 2019 diproyeksikan tidak sesuai target di angka 5,2 persen, namun 5 persen. Sejumlah indikator yang mempengaruhi kurang gairahnya ekonomi di Tanah Air, antara lain utang negara yang kian tumbuh, jumlah impor yang melambung hingga ekspor yang semakin tak terbendung.

Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Didik H Rachbini memperkirakan secara global faktor ketidakpastian masih melekat di investor sehingga tahun 2019 diperkirakan pertumbuhan ekonomi masih belum baik.

“Bank dunia dan banyak lembaga memangkas pertumbuhan ekonomi global kembali rendah dari perkiraan sebelumnya, khusus ekonomi Indonesia berlaku perkiraan yang sama di mana tahun ini hanya akan tumbuh 5 persen. Bahkan jika faktor eksternal lebih buruk, bisa tidak bergerak tumbuh kurang dari perkiraan tersebut,” ujar Didik di Jakarta, Kamis (4/7).

Hal ini terbukti, baru-baru ini World Bank (Bank Dunia) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2019 sebesar 5,1 persen. Proyeksi tersebut lebih rendah dibanding prediksi sebelumnya di level 5,2 persen.

Hal ini tak elak karena gross domestic bruto (GDP) tahun ini lebih rendah terutama karena sentimen eksternal seperti perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China maupun konflik geopolitik global.

Menurut Didik secara umum untuk pasar modal Indonesia dikenal memberikan return yang baik sehingga pertumbuhan kapitalisasinya cukup baik selama ini. Namun perlu diperhatikan bahwa pelakunya lebih banyak pelaku luar negeri. “Faktor global langsung sangat berpengaruh terhadap pasar modal di Indonesia,” kata Didik.

Lanjut Didik, secara umum pasar modal akan mengikuti dinamika pertumbuahn ekonomi Indonesia dan faktor non ekonomi seperti faktor politik. Pemilihan presiden yang relatif berjalan dengan lancar maka ekonomi dan pasar modal tidak akan mendapat gangguan yang besar.

Ekonom yang juga CEO PT Duta Sukses Dunia Yudi Chandra mengungkapkan hal senada, menurut proyeksinya pertumbuhan ekonomi di era Jokowi jilid 2 ini tidak akan bergerak jauh.

“Pertumbuhan ekonomi akan bergerak tapi tidak banyak hanya sekitar 6 persen ke depannya, karena dari sisi fundamental kita sudah baik, kita juga punya penduduk yang besar dan merupakan potensi market yang menarik banyak investor asing untuk masuk,” ujar Yudi.

Menurutnya Pemerintahan Jokowi perlu melakukan pengembangan perekonomian dari desa, tradisional market dengan menumbuhkan semangat entrepreneurship sehingga akan muncul produk-produk baru yang bisa dikembangkan bahkan bisa sampai pada skala ekspor.

“Sebaiknya jangan terlalu mengandalkan dari asing dengan impor akan menyedot devisa kita dan membuat neraca perdagangan tidak seimbang jika tanpa diikuti pembangunan industri produk dalam negeri,” terang Yudhi. (ds/din/fin)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.