Siapa calon Bupati Tasikmalaya pilihan anda?

0.1%

1.1%

88.5%

3.1%

0.3%

5.9%

0%

1%

0%
Nyaris Merenggut Nyawa

Perut Menkopolhukam Wiranto Dibedah

27
0
WIRANTO DIEVAKUASI. Polisi dan TNI membawa Menkopolhukam Wiranto ke helikopter untuk dievakuasi setelah ditikam di Pandeglang, Banten Kamis (10/10). Wiranto menderita dua luka dalam di perut kiri, diduga pelaku merupakan anggota JAD.
WIRANTO DIEVAKUASI. Polisi dan TNI membawa Menkopolhukam Wiranto ke helikopter untuk dievakuasi setelah ditikam di Pandeglang, Banten Kamis (10/10). Wiranto menderita dua luka dalam di perut kiri, diduga pelaku merupakan anggota JAD.

JAKARTA – Mabes Polri bersama Badan Intelijen Negara (BIN) terus memburu otak pelaku insiden penusukan Menkopolhukam Wiranto pada peristiwa yang terjadi sekitar pukul 11.55 di depan Gerbang Lapangan Alun-alun Menes, Desa Purwaraja Kecamatan Menes Kabupaten Pandeglang, Banten, kemarin (10/10).

Insiden yang nyaris merenggut nyawa Mantan Panglima TNI berikut korban lainnya Kapolsek Menes Kompol Dariyant) dan H Fuad, tokoh masyarakat setempat merupakan salah satu desain dari kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Menes.
Motifnya, membuat situasi dalam negeri tidak stabil.

Saat ini, Wiranto mendapat perawatan intensif dari tim medis RSPAD setelah mendapatkan pengobatan awal di Klinik Menes dan RSUD Berkah Pandeglang.

Baca : Alarm Bahaya dari Terorisme

Presiden Joko Widodo mengatakan Menkopolhukan harus dioperasi setelah mengalami luka pada bagian perut.

”Pak Wiranto saat ini dalam penanganan medis. Kondisinya masih sadar dan segera dioperasi. Bersama kita doakan untuk kepulihan Pak Wiranto. Dan telah saya perintahkan Polri agar kasus ini diusut tuntas,” singkat Presiden didampingi Mendagri Tjahtjo Kumolo, Tenaga Ahli KSP Ali Mochtar Ngabalin, dan sejumlah pejabat lainnya.

Senada disampaikan Wakil Presiden Jusuf Kalla. “Butuh waktu sekitar dua jam untuk melakukan operasi (Wiranto, Red). Insiden ini memang bisa menimpa siapa pun, tidak terkecuali pejabat negara. Paham radikalisme memang mengancam negara, karena mereka masih aktif. Untuk pengawalan setingkat menteri sudah ada SOP-nya. Ini pertama kali kejadian, Yang jelas di Indonesia kelompok radikal berkeliaran,” terang Wapres usai menjenguk Wiranto.

Kepala BIN Jenderal Budi Gunawan menjelaskan pelaku Syahril Alamsyah (31) bersama Fitri Andriana (20) Binti Sunarto warga kelahiran Brebes, terafiliasi dengan JAD. Muncul kemungkinan, aksi ini bukan sekadar inisiatif dari pelaku. Tapi ada indikasi digerakkan dan sudah direncanakan.

”Abu Rara (Syahril Alamsyah) teridentifikasi dengan JAD. Dulunya bergabung dalam kelompok JAD Kediri. Selanjutnya, Abu Rara berpindah dan bergabung dengan sel JAD Bekasi, lalu berpindah ke Bogor dan sekarang bergabung dalam JAD Menes. Abu Rara pindah ke Menes setelah difasilitasi Abus Samsudin, JAD dari Menes untuk tinggal di sana. Beberapa kegiatan bersangkutan memang sudah terpantau,” ungkapnya.

Ditambahkan Budi Gunawan, beberapa kegiatan JAD pun sudah diidentifikasi. ”Ini upaya yang mereka sebut amalia. Motifnya, membuat kondisi dalam negeri tidak stabil,” jelasnya.

Terpisah, Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Pol Dedi Pasetyo mengatakan selain mengamankan kedua pelaku, Polri juga melakukan pemeriksaan terhadap keluarga Syahril Alamsyah yang beralamat di Jalan Alfakah V, Desa Tanjung Mulia Hilir, Kecamatan Medan Deli, Medan, kemarin (10/10).

Adapun keluarga yang diperiksa yakni kakak ipar dari pelaku yang bernama Trisna. “Anggota polsek Medan Labuhan sudah melakukan pemeriksaan di sana,” terangnya.

Insiden penyerangan terhadap Menkopolhukam memantik reaksi tokoh-tokoh masyarakat. Ketua Pengurus Harian Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Robikin Emhas mengatakan penyerangan terhadap Wiranto merupakan perbuatan yang tidak beradab apapun motif dan alasannya.

“Jelas kami kutuk. Penyerangan terhadap Pak Wiranto tidak bisa dibenarkan,” kata Robikin, kemarin.

Ia mengatakan Wiranto selaku Menkopolhukam merupakan pengemban amanah di bidang keamanan negara sehingga yang diserang adalah simbol negara. Itu artinya, yang diserang hakikatnya adalah keamanan negara dan masyarakat.

Menurut dia, segala macam tindakan kekerasan bukan merupakan ajaran. Oleh karena itu, jangan ada yang mengaitkan dengan agama.

“Sekali lagi, jangan ada yang mengaitkan dengan Islam. Karena Islam adalah agama damai, rahmat bagi alam semesta atau Rahmatan lil alamin,” kata dia.

Robikin mengatakan Islam mengutuk segala bentuk kekerasan. Bahkan tidak ada satupun agama di dunia yang membenarkan cara-cara kekerasan dalam mencapai tujuan. Untuk itu, dia mendukung penuh upaya dan langkah-langkah aparat keamanan untuk mengusut cepat dan tuntas motif, pola serta gerakan yang memicu terjadinya peristiwa tersebut.

“Mari kita mengambil pelajaran berharga dari peristiwa ini. Hati-hati mencari referensi, mengambil guru. Jangan berguru pada media sosial dan kelompok eksklusif. Cari lembaga pendidikan yang sudah terbukti mengajarkan nilai-nilai agama yang moderat dan toleran. Di sana banyak ulama dan kiai,” katanya.

Ia juga mengingatkan agar dalam beragama jangan memilih guru hanya dengan melihat banyaknya jumlah follower akun media sosialnya.

Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro mengatakan peristiwa penusukan terhadap Menko Polhukam Wiranto menjadi peringatan bahwa cara kekerasan harus dihentikan, dan pentingnya penguatan pengamanan terhadap pejabat publik.

Baca : Senjata Tajam yang Dipakai buat Tusuk Wiranto Dijual di Online Shop, Pisau Ninja ala Naruto?

“Dari kejadian tentu menjadi warning bagi kita semua bahwa cara-cara kekerasan harus dihentikan dan siapapun yang melakukan itu harus ditindak setimpal. Hukum harus ditegakkan bagi para pelanggarnya,” kata Siti.

Fenomena penyerangan terhadap pejabat bisa dimaknai antara lain karena kekecewaan terhadap kebijakan yang diambil pejabat. Sehingga membuat pelaku frustasi dan melakukan tindakan nekat.

Menurut Siti, di negara demokratis penegakan dan kepastian hukum harus terjaga, agar penegakan keadilan terasa. Meskipun demikian, munculnya penggunaan kekerasan bukan berarti tidak dimungkinkan.

Negara sebesar Amerika Serikat juga mengalami peristiwa di mana presidennya yakni John F Kennedy mati ditembak.

Beberapa pemimpin negara mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan karena dilempar sepatu atau dipukul dan sebagainya.

Seperti diketahui, Wiranto dalam jumpa pers di Media Center Kemenkopolhukam pada 28 Mei lalu menyebutkan bahwa ada ancaman pembunuhan terhadap empat pejabat negara, yakni terhadap dirinya, lalu Luhut Binsar Panjaitan (Menko Kemaritiman), Budi Gunawan (Kepala BIN), dan Gories Mere (Stafsus Presiden Bidang Intelijen dan Keamanan).

Mantan Panglima ABRI itu juga menyebutkan tidak hanya empat pejabat negara yang mendapatkan ancaman untuk dibunuh, melainkan ada pejabat lain yang mendapatkan ancaman serupa.
Dari informasi yang didapat Fajar Indonesia Network (FIN) Syahril Alamsyah dikenal sosok yang taat beribadah.

Baca : Penusukan Wiranto, PBNU Ingatkan Sekali Lagi: Jangan Kaitkan dengan Islam

“Selalu pakai baju jubah si Alam itu. Taat kali orangnya, sering nyeramahin tetangga-tetangga sini juga dia,” kata salah seorang tetangga, Mira, saat dijumpai di lingkungan rumah pelaku di Jalan Alfakah VI, Desa Tanjung Mulia Hilir, Kecamatan Medan Deli, Medan, kemarin.

Ia mengaku sudah sejak lama tidak melihat pelaku Syahrial, lantaran rumah pelaku yang berada di Jalan Alfakah VI tersebut sudah digusur dan dibangun jalan tol.

“Dari tahun 2016 kalau enggak salah dia di sini, terus udah lama kali enggak nampak semenjak rumahnya digusur,” jelasnya. (ful/fin)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.