PDIP Harus Mulai Jajaki Partai Politik

Peta Koalisi Selalu Dinamis

55
0

SINGAPARNA – Wakil Ketua Bidang Kehormatan Partai DPC PDI Perjuangan Kabupaten Tasikmalaya, H Aef Syarifudin SH mengaku tidak mempermasalahkan soal Golkar dan PPP yang akan keluar dari koalisi pada Pilkada 2020.

“Ya itu merupakan jalan dan kebijakan politik Golkar dan PPP. Sah-sah saja, mungkin untuk kepentingan menuju Pilkada 2020,” ungkapnya kepada Radar dalam acara halalbihalal di Kecamatan Salawu, Rabu (19/8).

Lanjut Aef, pihaknya tidak bisa memaksakan untuk tetap mempertahankan koalisi dengan Golkar dan PPP. Namun, hal ini menjadi kekhawatiran bagi PDI Perjuangan jelang Pilkada 2020 soal peta koalisi. Tapi, sejauh ini masih fokus ke koalisi Uu-Ade yang saat ini dengan PAN dan PKS.

Aef melihat perkembangan politik jelang Pilkada 2020 akan sangat dinamis, termasuk soal koalisi partai. “Jadi tidak bisa ditentukan saat ini, termasuk soal sikap atau statment partai seperti PPP dan Golkar. Kalau politik dinamis, bisa berubah kapan pun, termasuk soal koalisi nanti. Toh pilkada masih lama. Dalam politik itu kadang-kadang perkembangannya juga dinamis,” katanya.

Akan tetapi, kata dia, komunikasi tetap harus dilakukan oleh PDI Perjuangan dengan semua partai menjelang Pilkada 2020. Termasuk akan kembali membangun komunikasi lagi dengan Golkar dan PPP, karena semuanya masih sangat terbuka. “Kami pastinya akan melakukan komunikasi dengan setiap partai,” paparnya.

Ketua DPD PAN Kabupaten Tasikmalaya, Daud Ripai mengatakan wajar apabila Golkar dan PPP bersikap akan keluar dari koalisi pada Pilkada 2020. Karena memang semua partai masih melakukan penjajakan dan komunikasi politik satu sama lain. “Memang semuanya banyak kemungkinan yang bisa terjadi, tapi saat ini PAN masih bertahan dengan koalisi Uu-Ade sampai habis masa jabatan Ade Sugianto. Untuk pilkada 2020, PAN belum ambil sikap,” katanya.

Sekretaris DPD PKS Kabupaten Tasikmalaya, Dedi Kurniawan ST MM menambahkan sikap PPP dan Golkar yang kemungkinan keluar dari koalisi Uu-Ade itu merupakan hak dan kebijakan secara partainya. “Itu menjadi hak mereka (PPP dan Golkar, Red) untuk langkah menuju Pilkada 2020,” terangnya.

Pengamat politik, sosial dan pemerintahan Tasikmalaya Asep M Tamam mengatakan pernyataan sikap PPP dan Golkar yang kemungkinan keluar koalisi merupakan dinamika politik. “Segala kemungkinan bisa terjadi, ya termasuk PPP dan Golkar yang akan mencari koalisi baru di Pilkada 2020,” ucapnya.

Kata dia, Ade Sugianto bersama PDIP-nya harus segera membangun komunikasi politik jelang pesta demokrasi lima tahunan ini. Namun, saat ini masih terlihat berjalan sendiri, apalagi dengan jabatan wakil bupati yang menjadi hak PAN dan PKS belum diisi sampai saat ini. “Pak Ade tanpa wakil ini terkesan beliau tidak melakukan komunikasi politik dengan baik atau kurang luwes. Dan ini mengurangi nilai Pak Ade, harusnya tidak usah takut isi wakil,” katanya.

Asep mengatakan PDI Perjuangan harus menghilangkan kesan berjalan sendiri, dikhawatirkan nanti dampaknya ditinggal sendiri di Pilkada 2020. “Pak Ade harus mengubah cara dan gaya komunikasi politiknya. Sehingga tidak menjadi zonk di Pilkada 2020. Pilkada 2020 banyak figur dan tokoh yang digadang-gadang maju seperti Iwan Saputra, Lina, Oleh, Acep Adang dan calon lainnya,” terangnya.(dik)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.