Petani Sarimukti Ciptakan Alat Angkut Hasil Panen

37
MENAIKI. Yoyoh menaiki mesin gowes yang diciptakan untuk mengangkut hasil tani di Kecamatan Sukahening, Minggu (11/8). Insert. Operator mesin gowes menarik petani yang turun. RADIKA ROBI RAMDANI / RADAR TASIKMALAYA

SUKAHENING – Petani Kampung Sarimukti Desa Sundakerta, Sukahening menciptakan alat untuk mempermudah mengangkut hasil panen. Para petani menyebut alat tersebut mesin gowes. Karena pengoperasiannya seperti sepeda, tapi menggunakan tangan.

Yaya Mulyadi (50), pencipta mesin gowes mengatakan awal mulai dibuatnya alat tersebut karena kebutuhan untuk mengangkut hasil panen. Di mana daerahnya naik turun yang cukup curam dan menyulitkan para petani.

“Maka dari itu, saya berpikir dan inisiatif membuat alat untuk memudahkan para petani mengangkut pupuk dan hasil panen dengan kondisi wilayah yang naik turun seperti ini,” ujarnya kepada Radar, Minggu (11/8).

Kata dia, awalnya mengelola lahan cabai seluas 500 bata dengan kondisi naik turun. Yaya mengaku kesulitan mengangkut hasil panen. “Dari situ saya berpikir bagaimana bisa mempermudah aktivitas pertanian di lahan yang naik turun. Akhirnya terpikir membuat alat ini,” ujarnya.

Jelas dia, mesin ini mulai diciptakan 10 tahun lalu. Namun, saat ini terus dikembangkan menjadi lebih aman serta nyaman dalam mengangkut hasil tani. “Mesin tak ada peralatan khusus. Hanya mengandalkan mesin traktor dengan bahan bakar solar sudah bisa dijalankan mengangkut petani dan hasil panennya,” katanya.

Tambah dia, awalnya alat ini terbuat dari kayu dan tali tambang biasa. Kemudian saat ini sudah semakin diperbaiki. Tali yang digunakan menggunakan tambang baja dan kerangkanya besi, sehingga semakin kuat dan aman. “Termasuk tempat untuk transit di atas dan di bawah lahan sudah dicor,” katanya.

Lanjut dia, ada dua mesin yang dibuat untuk menunjang aktivitas ptan. Mesin pertama memiliki panjang 95 meter. Sedangkan mesin kedua panjangnya mencapai 120 meter. “Mesin yang satu disimpan di lokasi yang agak menanjak permukaannya, sedangkan yang satu lagi di permukaan yang datar. Yang menanjak ketinggiannya bisa mencapai 90 meter,” katanya.

Cara kerja mesin ini, lanjut dia, menggunakan tambang baja yang diikat di dua lokasi lahan. Kemudian untuk penggerak naik menggunakan mesin traktor. Sedangkan turunnya dikayuh seperti sepeda oleh operator yang ada di bawah.

Selain memudahkan mengangkut hasil tani, kata dia, alat ini juga meringankan biaya petani. Sebelum ada alat ini, petani menggunakan jasa kuli angkut. Di mana satu karung bayarannya Rp 15.000.

“Kalau menggunakan alat ini gratis, hanya membeli bahan bakar saja satu liter untuk mengangkut hasil pertanian sebanyak dua ton dalam waktu satu jam,” ujarnya.

Dengan berbagai inovasi, kata dia, mesin ini sekarang mampu mengangkut petaninya dengan maksimal beban satu kuintal. “Jadi sekarang mesin ini sudah serba guna dipergunakan masyarakat untuk berbagai aktivitas,” katanya.

Yoyoh (45), salah satu petani yang sering menggunakan alat ini mengaku terbantu untuk kebutuhan aktivitas pertanian. “Alhamdulillah membantu sekali. Biasanya harus menggunakan jasa kuli dengan bayaran cukup mahal,” katanya.

Sejauh ini, lanjut dia, alat ini menjadi andalan petani untuk mengangkut hasil panen. Tak jarang juga petani ikut naik pada alat tersebut, karena kalau berjalan cukup jauh dengan kondisi naik turun. “Saya sering naik sambil memegang hasil panen. Alhamdulillah tidak takut, karena sudah terbiasa,” ucapnya. (obi)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.