PHRI Kota Tasik Minta Keringanan Pajak

60
0
MEROSOT. Dua hotel berbintang di Jalan Yudhanagara masih tetap beroperasi di tengah pandemi. PHRI berharap ada keringanan pajak perhotelan untuk mampu bertahan. RANGGA JATNIKA/RADAR TASIKMALAYA
MEROSOT. Dua hotel berbintang di Jalan Yudhanagara masih tetap beroperasi di tengah pandemi. PHRI berharap ada keringanan pajak perhotelan untuk mampu bertahan. RANGGA JATNIKA/RADAR TASIKMALAYA
Loading...

TAWANG – Masa pandemi ini membuat usaha perhotelan belum bisa bergeliat. Dengan beban operasional yang tidak bisa dihindari, mereka memerlukan keringanan pajak dari pemerintah.

Saat ini, Pemerintah Kota Tasikmalaya sudah mulai melonggarkan pembatasan aktivitas sehingga usaha perdagangan mulai sedikit membaik. Namun tampaknya beda dengan perhotelan yang saat ini kondisinya masih tertatih-tatih.

Hal itu diungkapkan Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Tasikmalaya, H Ajat Setiawan. Dia dan rekan-rekannya di dunia perhotelan masih kerja keras untuk mempertahankan kelangsungan usaha mereka. “Kalau restoran mungkin sudah membaik, tapi kalau perhotelan masih berat,” ujarnya kepada Radar, Senin (15/2/2021).

Bagaimana tidak, saat ini tingkat keterisian kamar hotel masih lemah. Begitu juga pelaksanaan event sangat minim karena pembatasan yang ketat. Secara hitung-hitungan dengan jumlah kamar hotel, perlu keterisian 50 persen kamar untuk bisa mempertahankan usaha tanpa berpikir laba.

Baca juga : Ponpes di Cipedes Kota Tasik Dilockdown, 375 Santri & Ustadz Positif Covid-19

loading...

Sementara saat ini keterisian kamar di hotel-hotel Kota Tasik masih di bawah 50 persen.
“Jadi saat ini bagi kami laba itu bonus, target kami yaitu bisa bertahan di masa pandemi ini,” katanya.

Pihaknya tidak menyalahkan pemerintah yang melakukan pembatasan demi pengendalian wabah. Akan tetapi, pihaknya memerlukan keringanan dalam hal pajak seperti halnya masa PSBB pertama. “Mau 20% atau 10% pun enggak apa-apa, itu akan sangat meringankan kami,” jelasnya.

Ancaman untuk dunia perhotelan saat ini bukanlah isapan jempol belaka. Karena di Jakarta saja tidak sedikit hotel yang diobral untuk dijual atau banting harga sewa kamar.

“Mudah-mudahan di kita jangan sampai seperti itu, apalagi sampai gulung tikar,” kata dia.
Merosot atau bangkrutnya sebuah hotel, bukan hanya akan dirasakan sebagai pemilik. Ada banyak karyawan yang nasibnya juga harus diperhatikan. “Sekarang saja upah untuk karyawan hotel rata-rata sudah dikurangi karena kerjanya tidak full,” pungkasnya. (rga)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.