Pilar Kebangsaan Bisa Rubah Prilaku

31
0

Empat Pilar Kebangsaan Disederhanakan Melalui Contoh Kehidupan di Masyarakat.

SINGAPARNA – Gordah Institute Of Demokrasi and Political Education menggelar kegiatan sosialisasi empat pilar kebangsaan Pancasila, UUD NRI 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika.

Dengan menghadirkan narasumber Anggota DPR RI Fraksi Golkar Dapil Kabupaten Garut, Kabupaten/Kota Tasikmalaya Ferdiansyah SE MM yang dilaksanakan di Aula Hotel Dewi Asri, Singaparna, Sabtu (30/11).

Direktur Gordah Institute Of Demokrasi and Political Education Arif Nurhakim MPd menjelaskan, penyelenggaraan sosialisasi empat pilar kebangsaan ini bertujuan memberikan pemahaman nilai kebangsaan, khususnya terhadap generasi muda.

“Tidak gampang percaya dengan isu-isu sara, berita hoax dan paham-paham seperti radikalimse. Kita undang Ferdiansyah sebagi narasumber, penyampaian empat pilar kebangsaan ini,” ungkap Arif, kepada Radar, di Hotel Dewi Asri, (30/11).

Adapun pesertanya, terang Arif, ada dari kalangan kepala sekolah, guru, mahasiswa, santri, mojang jajaka, buruh dan petani.

“Memang dari sisi usia peserta tidak ada batasan, tetapi memang lebih dititik berat kan bagi kalangan millenial,” jelas dia.

Anggota DPR RI Fraksi Golkar yang juga anggota MPR RI, Ferdiansyah SE MM mengungkapkan dalam penyampaian materi empat pilar kebangsaan Pancasila, UUD NRI 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika, sengaja dibawakan dan disajikan kehadapan peserta agak berbeda.

“Tidak bicara pasal demi pasal, tetapi lebih kepada pemahaman dan aplikasi yang bisa dilaksanakan dan dicontohkan dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat,” ungkap Ferdiansyah.

Menurut dia, penyampaian empat pilar kebangsaan tentunya cukup berat jika disampaikan kepada kalangan remaja, pemuda ataupun mahasiswa jika disampaikan pasal demi pasal.

“Oleh karena itu kita mengutamakan bahwa satu pancasila sebagai dasar dan ideologi negara,” kata dia.

Kemudian, tentunya berkaitan dengan nilai-nilai Pancasila itu sendiri, misalnya bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari yakni bergotong royong, saling menyayangi antar sesama dan keluarga, sopan, santun dan hormat kepada yang lebih tua.

“Selanjutnya, tidak boleh semau gue, titik beratnya, ketika bicara NKRI, UUD 1945, Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika, itu adalah tentang penanaman nilai-nilai nya,” ujar dia.

Ferdi menilai, di Tasikmalaya tidak semua warga asli Tasik, tetapi ada suku-suku atau agama lain juga. Sehingga dalam konteks ini perlu pemahaman tentang toleransi antar umat beragama.

“Kita yakini dan syukuri, banyak yang beragama Islam, masih banyak agama lain, perlu dikedepankan toleransi antar umat beragama. Demi menjaga keutuhan NKRI, semangat menjaga NKRI dalam konteks millenial,” papar dia.

Aplikasi dalam kehidupan sehari-hari lainnya, tambah Ferdi, kaum millenial bisa membiasakan untuk menggunakan bahasa-bahasa daerah.

“Karena budaya nasional puncak nya itu ada di budaya daerah, penggunaan bahasa, kebiasaan tradisi di Tasikmalaya memang perlu dikedepankan,” ujarnya.

Kalangan millenial jika memang yang dilakukannya positif dan mampu dikembangkan kenapa tidak, dibuat vlog, menjadi youtuber, bermain IG dan sosial media lainnya.

“Diharapkan para peserta yang datang, paham terhadap nilai-nilai penanaman nilai luhur Pancasila. Kami pun tidak berharap ada satu lonjakan berubah secara total tetapi kita yakini akan ada perubahan secara bertahap ,” tambah dia.

Diharapkan, setelah para peserta ikut sosialisasi empat pilar kebangsaan, Ferdiansyah sebagai anggota dewan selalu pen melakukan dekatan praktis yang sehari-hari terjadi di masyarkata.

“Yang dikaitkan dengan Pancasila, NKRI, UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika,” ungkapnya.

Salah satu peserta sosialisasi empat pilar kebangsaan Yoga Ahmad Fauzi mengaku ilmu yang didapatkan dari penyampaian narasumber dewan RI Ferdiansyah memang sangat mengena terhadap kehidupan sehari-hari yang dijalani.

“Berbicara empat pilar kebangsaan, saya kira sangat dibutuhkan untuk masyarakat khususnya di Tasikmalaya. Karena banyaknya tantangan yang harus dihadapi bangsa saat ini,” ungkap dia.

Seperti paham radikalisme yang menyimpang, isu hoax sampai sara. Kegiatan ini sangat relevan karena Kabupaten Tasikmalaya memang memiliki masyarakat yang majemuk dan banyak pesantren, kiai dan santri dengan masyarakat mayoritas muslim.

“Saya kira kalau dikuatkan dengan pemahaman-pemahaman kebangsaan yang kokoh, akan menjadi suatu nilai plus dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara, termasuk sehari-hari dimasyarakat,” kata dia. (dik)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.