Pilbup Tasik, WANI Tolak Hasil Real Count KPU

210
0
KONFERENSI PERS. Tim gabungan partai koalisi Iwan-Iip bersama tim sukses, pemenangan, relawan dan simpatisan menyatakan sikap penolakan terhadap hasil perhitungan suara sementara KPU atau real count di Kantor DPC PKB Kabupaten Tasikmalaya, Kamis (10/12). DIKI SETIAWAN / RADAR TASIKMALAYA
KONFERENSI PERS. Tim gabungan partai koalisi Iwan-Iip bersama tim sukses, pemenangan, relawan dan simpatisan menyatakan sikap penolakan terhadap hasil perhitungan suara sementara KPU atau real count di Kantor DPC PKB Kabupaten Tasikmalaya, Kamis (10/12). DIKI SETIAWAN / RADAR TASIKMALAYA
Loading...

TIM gabungan partai koalisi pasangan calon nomor urut 4, Iwan Saputra-Iip Miptahul Paoz (WANI) menegaskan menolak atas hasil penghitungan suara sementara atau real count yang dilaksanakan oleh KPU Kabupaten Tasikmalaya.

Hal tersebut ditegaskan tim pemenangan paslon nomor 4, beserta pasangan calon Iwan-Iip yang hadir dalam konferensi pers di Kantor DPC PKB Kabupaten Tasikmalaya Kamis (10/12).

Ketua Tim Pemenangan WANI, H Ami Fahmi ST mengatakan tim gabungan partai koalisi pengusung Iwan-Iip, bersama relawan dan simpatisan menolak hasil perhitungan suara sementara yang dilakukan KPU.

“Kami tidak menerima hasil penghitungan oleh KPU. Bahwa dalam proses rekapitulasi penghitungan suara sementara KPU, ada kejanggalan dan bukan hanya di rekapitulasi, tetapi kejanggalan lain,” ujar Ami kepada wartawan, kemarin.

Menurut Ami, pihaknya menemukan kejanggalan dalam proses rekapitulasi perhitungan suara sementara di KPU, yang menyelenggarakan real count sendiri, tidak terintegrasi dengan sistem di KPU RI dan tidak berjenjang hingga ke KPU Provinsi Jawa Barat. Sehingga tidak ada kepastian tentang data yang ditampilkan.

Loading...

“Kami cek dalam proses rekapitulasi suara di KPU diinformasikan sudah mencapai 100 persen, sementara data di KPU RI masih di angka 50 persen. Seharusnya dengan sistem online saat ini semua sistem terintegrasi dan terkoneksi dari daerah sampai ke pusat,” terang dia.

Kemudian kejanggalan lainnya, kata Ami, proses rekapitulasi perhitungan suara di KPU diberhentikan tadi malam (Rabu malam 9/12) pukul 21.00 dengan alasan tidak memenuhi protokol kesehatan di tengah pandemi Covid-19.

“Ini menjadi pertanyaan besar, kenapa harus dihentikan. Kalau alasannya pandemi dibubarkan massanya, bukan tahapan rekapitulasi penghitungan suara yang di layar monitor,” tuturnya.

Selanjutnya pada pukul 21.00 saat proses rekapitulasi baru mencapai suara yang masuk 72,06 persen, ada selisih raihan suara antara nomor 2 dan 4 sebesar 0,88 persen. Kemudian ada imbauan dari KPU untuk membubarkan massa dengan alasan komisioner KPU butuh istirahat.

“Lalu KPU menyampaikan akan menghentikan dan melanjutkan pagi harinya (Kamis 11/12). Jadi menjadi tanda tanya, masa dengan anggaran fantastis tidak bisa me-rolling atau membagi shift kerja petugas KPU,” jelas dia.

Apalagi, selang waktu 45 menit setelah peserta bubar dari penghitungan suara sementara yang dilaksanakan KPU. Kemudian dilanjutkan kembali penghitungan secara online tanpa ada pemberitahuan.

“Pada pukul 00.57 hasil raihan suara nomor 2 sempat hilang dan sempat nama paslonnya warnanya abu-abu, sementara tiga nama calon lain namanya tetap hitam. Pas pukul 03.00 Kamis (10/12) dini hari tiba-tiba raihan suara calon nomor dua naik sangat besar,” paparnya.

Pada intinya, kata dia, tim pemenangan dan tim gabungan koalisi WANI akan mengawal proses penghitungan tingkat kecamatan dengan menyiapkan data atau c-plano serta administrasi yang akurat.

“Tolong masyarakat ikut memantau, semua data dan penghitungan kita buka bersama-sama di tingkat penghitungan suara kecamatan,” tegasnya.

“Harapan kami dengan melakukan kebijakan itu, KPU mendiskualifikasi pasangan nomor 2. KPK RI meneliti program bantuan Covid-19 di Kabupaten Tasikmalaya. Ini menjadi pernyataan resmi tim gabungan partai koalisi nomor 4,” tambahnya.

Calon Bupati Tasikmalaya Iwan Saputra menambahkan dalam menanggapi hasil penghitungan suara sementara KPU yang menimbulkan kegaduhan. Hal ini akibat tidak ada sinkronnya sistem KPU di daerah dengan KPU RI.

“Sehingga timbul pertanyaan ini menjadi kewenangan siapa tabulasi atau real count yang ditayangkan KPU, apakah KPU provinsi atau pusat. Jadi harus sesuai standar atau SOP yang ada jangan sampai dilanggar,” ungkap Iwan.

Menurutnya, ketika ada yang dilanggar ada indikasi pertanyaan mengarah kepada praktik kecurangan atau proud, yang mengakibatkan masyarakat resah dan publik dibuat kurang kepercayaannya terhadap KPU.

“Jangan sampai ketika pertanyaan siapa yang berwenang tidak dijawab, publik tidak mempercayai hasil dari yang diperoleh di Pilkada ini. Kita berharap KPU kembali dalam melaksanakan tugasnya disesuaikan aturan yang ada jangan sampai keluar aturan,” ungkap Iwan mengingatkan.

Untuk itu, pihaknya bersama tim gabungan partai koalisi akan mengawal kemenangan yang diperoleh WANI bersama masyarakat di Pilkada Tasik. “Saya minta seluruh jajaran koalisi partai gabungan dan relawan serta simpatisan gabungan terus mengawal suara demi masa depan masyarakat Kabupaten Tasikmalaya,” tandasnya.

“Mohon kepada simpatisan, pendukung, relawan dan tim yang tergabung di WANI tetap menjaga kondusivitas. Jangan sampai terjadi friksi di bawah, kawal dengan kepala dingin, tidak secara emosional,” tambah Iwan.

Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi Golkar Yod Mintaraga mengatakan dalam mencermati pelaksanaan Pilkada Kabupaten Tasikmalaya, melihat pengalaman baik di Pilkada, Pilgub dan Pilpres, sebelumnya dirinya menilai ada keanehan.

“Dalam Pilkada, Pilgub dan Pilpres kita mengenal sistem real count dan quick count berbasis metode dan teknologi canggih. Di Pilkada serentak 2020, ada yang melakukan penghitungan cepat, tidak ada satu pun yang menyatakan pasangan nomor dua menang,” ungkap dia.

Menurut dia, hampir semua lembaga survei yang melaksanakan quick qount memenangkan pasangan nomor 4. Dengan selisih cukup besar, sekitar empat persen dari pasangan nomor urut dua.

“Jadi jika ada margin error dari lembaga survei quick count ini dua persen, nomor dua hanya akan naik di angka 30 persenan, dan Iwan-Iip walaupun turun meraih 32 persen dan harusnya menang,” terang dia.

Dia mengungkapkan, bahwa baru kali ini di Pilkada Tasik dalam sejarah quick count dikalahkan oleh penghitungan sementara KPU, yang tidak tertib dan penuh dengan kejanggalan. Sehingga menjadi pertanyaan dan tanda tanya publik.

“Saya mengimbau kepada semua penyelenggara pemilu mari memperbaiki kinerja ini, diselesaikan sebaiknya sesuai aturan, tidak gaduh dan nomor 4 pasti menjadi pemenang,” ujar dia.

Penanggungjawab Tim Pemenangan WANI, H Oleh Soleh mengatakan ada kesempatan penghitungan di tingkat kecamatan untuk dikawal. Dan tim WANI sudah mempersiapkan data-data yang dimiliki. “Masyarakat atau tim pemenangan harus ikut mengawal proses penghitungan di tingkat kecamatan,” ajak Oleh.

Anggota DPRD Kabupaten Tasikmalaya Fraksi PKB Asep Muslim menegaskan tidak akan berhenti sampai di sini. Tim pemenangan WANI akan menyiapkan data dan fakta untuk kemudian membawanya ke Mahkamah Konstitusi (MK).

“Dan kami akan membawa 100 pengacara untuk mengawal kemenangan Iwan-Iip menjadi kemenangan masyarakat Kabupaten Tasikmalaya sampai ke MK,” tegas dia. (dik)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.