Hanya untuk Warga Kabupaten Tasik
SIAPA BUPATI & WAKIL BUPATI PILIHAN ANDA?

3.1%

19.5%

7.3%

70.1%

Pilkada Pangandaran Jangan Jadi Pemecah Umat

136
0
Ebeg Saeppurohman Pengamat sosial dan politik Ciamis-Pangandaran
Ebeg Saeppurohman Pengamat sosial dan politik Ciamis-Pangandaran

PANGANDARAN – Kabupaten Pangandaran akan segera menggelar pesta demokrasi lima tahunan untuk memilih bupati dan wakil bupati. Pilkada serentak ini harus dijadikan momen untuk memilih pemimpin yang mampu membawa Pangandaran lebih maju dalam berbagai hal.

Pengamat sosial dan politik Ciamis-Pangandaran Ebeg Saeppurohman mengatakan, pesta demokrasi ini harus dijadikan momentum dalam memilih pemimpin terbaik dan jangan sampai terjadi perpecahan satu sama lain ketika berbeda pilihan.

Kata dia, dalam pilkada peran ulama dan kiai sering intens dalam mendukung pemenangan salah satu pasangan calon. Apalagi, sejauh ini para pasangan calon pun cukup intens juga mendatangi pesantren-pesantren untuk meminta dukungan. Namun, alangkah lebih baiknya para ulama dan kiai ini tidak sampai terlibat langsung dalam politik praktis.

“Kalau menurut saya harusnya para kiai dan ulama mengedepankan politik strategis humanis dalam Pilkada 2020,” ujarnya kepada Radar, Rabu (29/7).

Baca juga : Kades di Pangandaran Bisa Dipidana Jika tak Netral dalam Pilkada

Menurutnya, politik strategis humanis tersebut dalam artian berperan sebagai tetua yang mengayomi lingkungan dan semua kalangan dengan mengedepankan kewibawaan.

“Ketokohan dan kebijaksanaannya sebagai seorang yang jadi panutan harus berperan dalam pilkada ini yakni politik strategis dan humanis,” ujarnya kepada Radar, Rabu (29/7).

Menurutnya, bukan berarti para ulama dan kiai tidak boleh berpolitik, tapi yang dikedepankan adalah politik strategis humanis.

“Jangan sampai gara-gara pilkada hubungan antar kiai jadi renggang karena berbeda dukungan. Apalagi mereka yang dihormati masyarakat,” ujarnya.

Baca juga : PC GP Ansor Pangandaran Harus Netral di Pilkada

Kata dia, ulama dan kiai menjadi sosok panutan umat dari segala perbedaan, baik politik, budaya, maupun aspek sosial lainnya.

“Bila sosok kiai/alim ulama masuk pada tataran politik praktis tentunya akan berdampak pada respons sosial masyarakat,” ungkapnya.

Ebeg menambahkan, masuknya beberapa organisasi massa baik keagamaan, kemasyarakatan dan juga kepemudaan kepada salah satu calon, otomatis akan memberikan arti dan motivasi bagi yang didukung.

“Sebab tidak dimungkiri kekuatan organisasi dapat menggerakan dan mengarahkan suara pada calon tersebut,” ujarnya, menjelaskan.

Lanjut dia, dukungan tersebut akan berpengaruh terhadap organisasi maupun calon itu sendiri. “Bagi calon bisa jadi muncul anggapan politik identitas yang tidak bisa dihindarkan, sementara itu untuk organisasi yang mendukung akan menimbulkan efek psikologis bagi anggotanya yang tidak sejalan, apalagi jika klaim dukungan hanya dari seseorang anggota saja atau bukan dari hasil musyawarah,” jelasnya. (den)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.