Pimpinan Paguyuban Tunggal Rahayu Garut Jadi Tersangka & Ditahan

150
0
DIMINTA KETERANGAN. Anggota Sat Reskrim Polres Garut meminta keterangan tersangka.

KARANGPAWITAN – Satuan Reserse dan Kriminal (Sat Reskrim) Polres Garut menetapkan pimpinan Paguyuban Tunggal Rahayu, Sut alias Cakraningrat sebagai tersangka. Sut dituduh melakukan penipuan dan pemalsuan gelar akademik.

Kini tersangka sudah mendekam di tahanan Polres Garut untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Baca juga : Kasus Covid-19 di Kabupaten Garut Melonjak, 7 Meninggal

Kasat Reskrim Polres Garut AKP Maradona Armin Mappaseng mengatakan penetapan tersangka dilakukan setelah pihaknya melakukan pemeriksaan sebanyak dua kali terhadap pimpinan Paguyuban Tunggal Rahayu.

Dari dua kali pemeriksaan, akhirnya penyidik sudah cukup mengumpulkan alat bukti untuk menjerat Cakraningrat. “Alat bukti sudah terpenuhi, sehingga kami menetapkan S sebagai tersangka,” ujarnya.

Dalam kasus penipuan, polisi menjerat Sut dengan pasal 378 KUHP tentang penipuan dengan ancaman empat tahun penjara. Sut disebut sudah menipu anggota paguyuban karena menjanjikan uang dari Bank Swiss.

Selain itu, polisi juga menjerat Sut dengan pasal pasal 93 junto Pasal 28 ayat 7 Undang-Undang nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi dengan ancaman 10 tahun penjara.
Sederet titel yang dipakai Sutarman diyakini merupakan gelar palsu.

Mulai dari profesor, doktor, insinyur dan sarjana hukum. Berdasarkan pengakuannya, gelar itu didapat setelah kuliah dari alam.

Faktanya, Sut hanya lulusan dari aliyah atau setara SMA. Tak ada kejelasan soal gelar akademik yang diklaim oleh Sut. “Tidak ada bukti kalau dia punya gelar. Makanya kami jerat dengan pasal pendidikan tinggi,” katanya.

Baca juga : Tukang Cukur di Garut Bikin Aplikasi Pangkas Rambut Pamggilan

Terkait kasus lambang negara dan mata uang, Maradona menyebut masih melakukan penyidikan. Perlu waktu yang lebih memeriksa persoalan tersebut. “Apalagi untuk mata uang kami belum temukan bukti peredarannya. Soalnya dicetak sudah lama dan dipakai terbatas di paguyuban,” ujarnya.

Kasus lambang negara dan mata uang akan jadi berkas terpisah. “Ketika alat buktinya cukup maka akan dikenakan pasal yang terpisah. Kemungkinan ada dua pasal bahkan mungkin lebih,” paparnya. (yna)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.