Pimpinan Paguyuban Tunggul Rahayu Garut Didakwa Penipuan & Gelar Palsu

24
0
DIGIRING. Ketua Paguyuban Kandangwesi Tunggul Rahayu, Sut, digiring ke mobil tahanan usai dilimpahkan dari Polres Garut, kemarin. Yana Taryana / Rakyat Garut
Loading...

TAROGONG KIDUL – Pengadilan Negeri Garut mulai menyidangkan kasus penipuan dan penggunaan gelar akademik palsu yang menjerat pimpinan Paguyuban Tunggal Rahayu, Sut alias Cakraningrat. Sidang perdana Sut diadakan secara virtual di Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Garut, Selasa (9/2/2021).

Kepala Seksi (Kasi) Pidana Umum (Pidum) Kejari Garut Ariyanto mengatakan dalam dakwaannya Sut dijerat pasal tentang gelar palsu dan pasal penipuan. Pasal pertama yakni pasal 93 junto pasal 28 ayat 7 UU RI nomor 12 tahun 2021 tentang Pendidikan Tinggi serta pasal 378 KUHP junto pasal 55 ayat 1 ke 1 tentang Penipuan.

“Kita jerat pasal pemalsuan gelar akademik, karena Sut mengklaim memiliki beragam gelar akademik namun tidak menempuh pendidikan formal. Ngakunya gelar itu hanya dari mimpi,” ujarnya.

Pada sidang perdana, kata dia, hanya pembacaan dakwaan dan akan dilanjutkan pada Selasa (16/2) mendatang dengan agenda eksepsi.

Baca juga : Pergerakan Tanah di Cikadu Garut Hancurkan Sekolah, Kantor Desa & Rumah Warga

loading...

Kuasa Hukum Sut, Soni Sonjaya mengatakan dalam sidang selanjutnya pihaknya akan mengajukan eksepsi atau keberatan atas dakwaan jaksa terhadap kliennya. Soni mengatakan pemeriksaan psikiater dari Rumah Sakit Sartika Asih Kota Bandung menyatakan jika Sut mengidap gangguan jiwa.

Soni memiliki bukti hasil visum yang menerangkan kondisi Sut. Seharusnya kasus yang menjerat Sut tak dilanjutkan ke persidangan. “Cuma kami masih bertanya-tanya kenapa masih digelar persidangan ini. Kan dalam visum sudah dijelaskan kondisi klien kami yang sebenarnya,” ujarnya.

Seharusnya sejak proses pemeriksaan di Polres Garut, kasus tersebut sudah tak bisa dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Garut. Pasalnya, sudah ada bukti yang menyebutkan jika Sut mengalami gangguan jiwa.

Dari hasil pemeriksaan psikiater, Sut disebut mengalami indikasi gangguan kejiwaan tertentu. Bahkan kesimpulan dari psikiater menyebutkan jika Sut mengalami gejala waham menetap.

Tindak pidana yang dilakukan merupakan bagian dari gangguan tersebut. Sut pun dinilai tidak dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Sutarman dinilai tidak dapat memahami nilai serta risiko perbuatannya. Psikiater pun menyarankan Sut untuk mendapat penatalaksanaan yang komprehensif di bidang psikiatri.

Soni menjelaskan sudah jelas jika kliennya tak bisa melanjutkan persidangan. Pihaknya pun akan mengajukan keberatan pada sidang selanjutnya. “Kami sebagai penasehat hukum keberatan atas semua isi dakwaan. Terkait dua pasal yang diterapkan yakni penipuan dan pencatutan nama gelar,” paparnya. (yna)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.