PKL Busana Muslim Pindah ke Trotoar

60
0
Istimewa DITATA. Pedagang kaki lima (PKL) busana muslim yang mangkal setiap Rabu ditempatkan di trotoar Masjid Agung kemarin (7/8).

CIHIDEUNG – Pedagang kaki lima (PKL) yang menjual busana muslim di area batu andesit Taman Kota (Tamkot) setiap Rabu dipindahkan ke trotoar di sekeliling Masjid Agung. Pemindahan ini dilakukan karena kawasan batu andesit sudah menjadi jalur lalu lintas kendaraan.

Kepala Bidang Ketertiban Umum dan Ketenteraman Masyarakat Dinas Satpol PP dan Damkar Kota Tasikmalaya Yogi Subarkah menyebut, penempatan di trotoar Masjid Agung itu supaya lapak pedagang tidak mengganggu lalu lintas. Sebelumnya, mereka hendak memasang tenda jualan di batu andesit dengan jumlah yang bukan hitungan jari. “Kami alihkan sementara mereka berjualan di trotoar. Sebab, kalau tidak ditata tadinya mau melapak di andesit yang kini sudah berfungsi jalan,” tutur Yogi saat dihubungi Radar, Rabu (7/8).

Dia menyebut langkah tersebut bersifat sementara seraya menunggu tim refungsi andesit menemukan solusi atau alternatif lain dalam menangani pedagang supaya tidak mengganggu akses lalu lintas. “Kita upayakan di trotoar dulu, kalau dibiarkan bisa ke bahu bahkan badan jalan. Otomatis terjadi kemacetan atau gangguan ketertiban lainnya,” katanya.

“Kita pun beri waktu hanya sampai jam pengajian rabuan di Masjid Agung berakhir. Lewat zuhur, area itu harus sudah klir,” lanjutnya.

Sementara itu, pengendara di area MASJID AGUNG Anissa Fitriani (28) meminta pemerintah mempertahankan kebijakannya dengan tegas soal memfungsikan kembali andesit sebagai jalan. “Harus tegaslah, kan sudah nyaman. Jangan dimulai lagi pembiaran seperti saat andesit masih ruang terbuka publik,” ucapnya.

Pengunjung Taman Kota, Wawan Nurochman (35) menuturkan hal serupa. Dia meminta pemkot tidak mengendurkan kewibawaan, salah satunya membuat kebijakan yang tidak dijalankan dengan konsisten. Seperti saat membuat andesit sebagai ruang publik. “Karena diberi kesempatan, dibiarkan maka membiak. Jadi semrawut. Ini harus diperhatikan serius, konsisten dan dikawal supaya tidak terjadi perubahan fungsi lagi. Taman kota malah jadi taman berjualan,” katanya. (igi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.